Kuda Mesin dan Sebuah Keresahan

Pada zaman dulu, saat kuda mesin belum merajai jalanan, otomatis sebagian kids zaman old menjadi customer angkot. Namun alternatif menjadi cust angkot tak selamanya ternikmati karena satu dua hal apalagi bisa memiliki alternatif seperti kids zaman now yang memiliki pilihan lain selain menjadi cust angkot, gojek online.

Seperti pada satu moment tertentu, saat mengikuti agenda leadership Camp yang diselenggarakan oleh KAMMI *nostalgiaModeOn
Otomatis objek tempat adalah daerah terpencil tepatnya di kaki Gunung Cikuray dan sulit menemukan sarana transportasi, mungkin kali itu time is olahraga, jalan kaki kuy....

Ngah-ngeh-ngoh jadi ritme  yang mengikuti irama kaki. Sempat dapat tawaran pinjaman motor, hanya sayang kali itu baru bisa menaiki saja tanpa bisa mengemudi. Saat keahlian itu belum juga termiliki. Hal - hal serupa ini sering kali dirasakan, sampai pernah salah seorang teman berujar, " ngah- ngeh- ngohna akhawat dalam safari dakwah adalah godaan ikhwan, karena bawaannya pengen ngehalalin"

Semangat belajar ngedrive itu pun dihidupkan, yang penting bisa aja dulu. Memiliki motornya bisa menyusul. Tapi kemudian saat
kemandirian akhawat semakin terasah lebih dari sekedar bisa mengemudikan sebuah kuda besi, suara resah itu terdengar.

"Semakin akhawat mandiri, semakin resah ikhwan dan dirundung keragu-raguan untuk melangkah dan kemudian memperpanjang penantian akhawat", kira - kira pernyataan tadi, benar apa betul?

Lain waktu, saat diskusi lepas dengan seorang yang berkecimpung dalam penelitian, mengatakan fenomena sosial hari ini saat isu  emansipasi didengungkan, geliat wanita dalam meniti karier menemukan muaranya. Dada saya sesak saat beliau menuturkan bahwa dibalik meng- kota-nya sebuah desa dari  proses industrialisasi ada angka perceraian yang semakin meningkat. Berbagai faktor melatarbelakanginya, salah satunya pendapatan istri yang lebih tinggi hingga tak ada lagi kepatuhan kepada suami. 

Sampai titik itu, akal saya sampai detik ini masih mencari "harus seperti apa menyikapi  antara idealita dan realita?" Karena cermin diri itu tahu persis kaliber diri, ada kesenjangan jauh dengan Khadijah wanita kaya yang penuh iman dan rendah hati. Jalan tengah yang harus elegan menyikapi fenomena sosial dalam kondisi zaman now. Benar, akhawat bukanlah tulang punggung melainkan tulang rusuk, hanya saja ketika pilihan untuk "sedekah keluarga" itu terpilih adalah catatan bahwa kepala bahtera dalam sebuah dermaga keluarga tak pernah akan terganti.

Filosofi Valas

Minggu kemarin dalam senja yang ditemani hujan, sebagai mahasiswa kelas karyawan saya putuskan untuk tetap pergi ngampus. Hujan adalah berkah maka tak pentas untuk dijadikan kambing hitam..

Aku memiliki impian untuk menjejakkan kaki ke luar negeri, tentu selain mempelajari bahasa asing, aku juga harus mempelajari valas atau valuta asing yang merupakan media yang digunakan dalam bertransaksi dengan mata uang mancanegara sebagai partner yang tak bisa  dipisahkan. Nah, tepatnya senja yang kemudian memasuki sabtu malam itu, dalam duduk manisku aku lamat - lamat mencerna materi tentang valas.

Pasar Valuta Asing atau yang biasa disebut Valas, adalah pertukaran uang dari nilai mata uang yang berbeda. Valuta asing merupakan suatu mekanisme di mana orang dapat mmemperoleh uang dari mata uang asing atau menyediakan kredit untuk transaksi perdagangan internasioanal, mentransfer daya beli antarnegara, dan meminimalkan kemungkinan resiko kerugian (exposure of risk) akibat terjadinya fluktuasi kurs suatu mata uang.

Dimana dalam transaksi valas yang diperjualbelikan adalah selisih kurs.  Kurs ini akan selalu terkait dengan tukar-menukar uang asing di bank atau tempat penukaran uang negara lain. Dimana kurs sendiri dapat diartikan sebagai perbandingan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain, dimana kurs mata uang suatu negara bisa menguat ataupun melemah. 

Agar lebih gampang memahami, antara kurs jual dan kurs beli. Yang harus diperhatikan adalah selaku penyedia jasa dalam hal ini bank atau money changer bukan kita sebagai orang yang butuh jasa.
Berikut ini dua hal yang harus kamu fahami dari kurs.

1. Kurs jual 
Kura jual yaitu kurs yang digunakan apabila bank atau money changer menjual uang asing (valuta asing/valas) atau apabila kita akan menukarkan rupiah dengan uang asing yang kita butuhkan.


Contoh kurs jual
Resti akan liburan ke Eropa. Karena mata uang yang berlaku di eropa mayoritas euro,  Resti harus membawa mata uang tersebut. Dengan menukarkan rupiah yang dimilikinya di bank atau money changer, Resti bisa mendapatkan mata uang Euro.
Ketika  Resti akan menukarkan uang, saat itu harga kurs jual 1 EUR = Rp15.000,00. Sedangkan kurs beli 1 EUR = Rp14.000,00. Karena Resti pemilik rupiah, sedangkan bank atau money changer yang akan menjual uang asingnya, maka dalam kondisi ini yang berlaku kurs jual.
Jadi, berapa euro yang akan Resti dapatkan jika menukarkan 90 juta rupiah?
Jawab : Rp60.000.000,00 : Rp15.000,00 = €6.000

2. Kurs Beli
Kurs beli adalah kurs yang digunakan apabila bank atau money changer membeli uang asing atau apabila kita akan menukarkan uang asing yang kita miliki dengan rupiah.

Contoh kurs beli, Ade memiliki tabungan sebesar 150.00p yen. Saat itu kurs beli sebesar Rp. 124. 45 sedangkan kurs Jual 125. 60. Jika ia menukarkan ke bank atau money changer, berapa Rupiah tabungan yang dimiliki Ade?


Dalam kasus ini, Ade memiliki uang yen sebesar 150.000. Ade sebagai pemiliki mata uang asing yang akan menjual sedangkan bank sebagai pembeli mata uang yen tadi. Maka dalam kasus itu Ade terkena kurs beli, jika Kurs beli saat itu adalah 124. 45 maka penyelesaiannya menjadi :
Jawab : 124. 45 x 150.000 = Rp. 186. 6750.000

Jadi dari dua kasus tersebut, yang perlu menjadi catatan adalah dengan memperhatikan posisi Bank apakah sebagai pembeli atau penjual. Maka kurs yang berlaku sesuai dengan posisi bank bukan posisi nasabah yang digunakan.

Pun dengan kehidupan kita, kadang dalam menilai satu hal yang harus kita gunakan adalah sudut pandang orang lain bukan sudut pandang diri sendiri. Itu adalah siratan dari hikmah yang tersirat dalam materi kuliah itu. Hujan kali itu masih mengguyur kota intan, aku rapalkan do'a semoga ilmu ini bermanfaat dan bisa ku aplikasikan suatu hari dalam menjelajah tanah-Nya yang maha luas.

Pribumi, Kosa kata Yang Mampu Menyatukan

Pribumi, Kosa kata Yang Mampu Menyatukan


Belum genap satu hari dari pelantikan Gubernur terpilih DKI Jakarta. Cuit penggunaan kata pribumi seketika mencapai lebih dari 134. 000 . Dalam pidatonya itu, berikut kutipan Gubernur Anies Baswedan  yang hangat diperbincangkan publik.

"Dulu kita semua peribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telon, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami". 

 Cuitan maya itu membentuk pagar hastag ribuan. Memunculkan pertanyaan  di permukaan, tentang sila ketiga dari dasar negara kita, Persatuan Indonesia. Satu sisi menyuarakan sabda sanggahannya, bahwa apa yang dilontarkan oleh sang penguasa akan menyurut perpecahan. Satu suara anggukan lainnya menyatakan bahwa pernyataa  itu sangat tepat dengan kondisi kekinian. Agar tuan rumah berdaya di rumah sendiri dan agar masa kolonialisme itu tak terulang kembali.

Tidak bisa dipungkiri, kontroversi itu masih erat kaitannya dengan pertarungan dua kubu lalu dalam Pilkada Gubernur kemarin. Dimana nuansa konflik itu sangat kental sekali, isu sara menjadi makanan empuk setiap harinya. Hingga sering dijumpai dalam  pentas pemilihan penguasa baru itu  mampu membagi dua kubu bahkan dalam satu biduk rumah tangga.  Meski ketukan palu telah menghasilkan wajah baru sebagai penguasa Ibukota, pro kontra akan tetap mewarnai. Adalah Anies Baswedan yang pernah menjadi rektor termuda di Universitas Paramida yang juga kemarin mencuri perhatian masyarakat serta memancing riak kontroversi.

Baku ciutan saling mengkomentari itu riuh ramai menghantam jagad maya. Benang kusut pun terurai. Seolah melupakan cara mengsinergikan bagaimana mempribumikan diri dalam persatuan Indonesia. Padahal sudah dalam hitungan lama, masyarakat Indonesia dengan kemajemukannya berasama dalam etnitas bernama bangsa

Berfikir ulang tentang makna kosakata "Pribumi" dan "Indonesia", rasanya dua kosakata tersebut memungkinkan untuk membentuk satu kalimat bermakna "Persatuan".  Arti kosakata Pribumi menurut KBBI, adalah penghuni asli. Sementara mem-pribumi-kan adalah menjadikan milik pribumi. Sedangkan persatuan masih menurut KBBI adalah gabungan daei beberapa tang sudah bersatu. Dua kosa kata tersebut  bisa membentuk kalimat tanpa mesti berjalan masing - masing membentuk kalimatnya sendiri- sendiri. Bahwa menjadi seorang Pribumi yang baik dengan segala makna yang dikandung didalamnya akan membentuk Persatuan. Pribumi yang berdaya di atas kakinya sendiri kemudian mengulurkan tangan menengok kanan dan kiri lalu melangkah bersama membentuk persatuan.

Meng-KAMMI yang tak kalah mengesankan dari meng-KITA

Masa kuliah adalah masa dimana pilihan untuk berkembang itu terbuka lebar. Terbebas dari rapor yang harus terhindar dari keterangan alpa, bolos sekalipun tak perlu lagi menitipkan surat tetapi diganti dengan titip absen siluman. Ini adalah bagian dari fase dimana seseorang akan menerima konsekuensi dari pilihannya.Akan sangat disayangkan jika masa kuliah hanya dihabiskan untuk kuliah lalu pulang saja apalagi hanya sekadar kuliah lalu nongkrong.

Pintu untuk berorganisasi ketika masa kuliah itu adalah kesempatan yang berhak untuk kamu rasakan, bisa terlibat dalam organisasi intra kampus atau ekstra kampus. Atau bahkan menjadi seorang double player yang menjadikanmu semakin lekat dengan dinobatkan sebagai aktivis. 

KAMMI adalah salah satu organisasi ekstra kampus yang lahir ketika masa orde baru dan patut untuk kamu pertimbangkan, dimana salah satu keuntungan terlibat dalam organisasi ekstra adalah meluaskan jaringan. Di sana kamu akan digembleng bukan untuk sekadar menjadi mahasiswa, tetapi menjadi seorang yang berkarakter pemimpin dengan jiwa hanif dan intelektualitas bernalar ilmiah yang tak abai dengan kondisi sosial masyarakat. Kadang pandangan mahasiswa mengenai organisasi ekstra seperti KAMMI bak memandang materi perkuliahan yang sukar, padahal banyak hal menyenangkan yang juga dirasakan aktivis KAMMI.

Berikut ini adalah hal-hal pengalaman berkesan yang sering kali dirasakan oleh aktivis KAMMI.

1. Menjadi Mansur.

Mansur alias manusia syura, pesan dari ponsel seorang kader KAMMI biasanya pasti ditemui jarkom info untuk syura. Atau ketika kamu menjadi PJ syura dengan tugas menjarkom seluruh pengurus, dari puluhan SMS yang kamu kirim, yang hadir hanya hitungan jari. Disana adalah saat yang tepat untuk melontarkan jargon kekinian, "Yang sabar mblo, ini ujian"

2. Demo

Aktivitas yang satu ini, dirasa masih menjadi benci-benci rindu oleh mahasiwa bahkan sebagian aktivis. Belum berasa menjadi mahasiswa jika belum pernah ikut aksi jalanan. Namun akan ditemui perbedaan antara aksi solidaritas kemanusiaan yang banyak diikuti oleh mahasiswa dengan aksi jalanan untuk social control kepada pemerintah yang sepi dengan masa aksi.

3. Quote ala jomblo aktivis KAMMI

Aku + kamu = KAMMI adalah quote umum kader KAMMI untuk menutupi kejombloannya.

4. Sidang Mantuba

Mantuba adalah sejenis makluk asing dari planet lain yang mewajibkan seorang aktivis untuk membaca dan memahami buku yang dijadikan pedoman untuk referensi intelektualitas dalam pergerakan KAMMI.

Saat bagian kaderisasi mengevaluasi tugas baca para kadernya, seringkali episode buku yang tertukar itu terjadi. Seharusnya buku nuansa pergerakan malah terganti dengan novela atau buku kisaran pernikahan

5. Dilema aksi atau kuliah

Sebelum seorang mahasiswa tingkat akhir digalaukan dengan pilihan maisah, kuliah, Aisyah dan dakwah. Terlebih dahulu ia akan dihadapkan dengan pilihan rumit, yakni pilih kuliah atau aksi? Dimana aksi adalah amanah rakyat, dan kuliah adalah amanah orangtua.

Lima hal itu, sering kali dirasakan oleh aktivis KAMMI dan akan terkenang dalam perjalanan hidupnya.

 

 

 

Alur yang Mencuri Hati

Kadang ada alur yg sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, seperti saat ini menyelami dunia baru dalam episode pembelajar....
Entah pula dari mana awalnya, diri ini menyukai dan menikmati. Awalnya mungkin sekedar untuk mencari peralihan sebagai konsekuensi mendewasa, tetapi ada yg lebih dari sekedar mencari bongkahan berlian, ada kerlip - kerlip intan yang harus  dipikul, dijaga juga dirias agar esok hari terangnya mampu menerangi jalan kehidupan...
Dalam duduk manisku menyimak pemaparan, bukankah satu barang saja ada pengukuran nilai gunanya, lantas kita insan yang lebih hidup dari sekedar barang mati. Haruskah kehilangan nilai guna hanya karena hitungan materi?
Saat itu, saat dimana membersamai mereka dalam ruang kelas dengan detik akhir menuju bel yang dinantikan, lepas setelah do'a dimunatjatkan. Satu persatu mereka memanggul tasnya, lantas seorang siswa menghampiriku untuk menggapai tangan, satu kebiasaan yang sudah sangat dimafhumi, salaman.
Seorang siswi seketika juga memprotes "Fajar kamu mau salaman ke Bu Resti?bukan muhrim tahu !"
Luar biasa, protes itu sedetik kemudian membangunkan kesadaran. Beda kasus, jum'at lalu aku dibuat takjum dan terharu.
Saat dimana menunggui seorang siswa yang tertinggal Ulangan Tengah Semester karena sakit. Dia mengerjakan soal meski tertatih tak mampu mengerjakan dengan segala keterbatasan dia mencerna pembelajaran dengan kendala bahasa. Kemudian aku membaca lembaran jawaban B. Indonesia, dia menuliskan jawaban untuk soal dengan tulisan dua paragraf yang kurang lebihnya seperti ini " aku suka sekolah disini karena ada guru cantik dan baik juga teman - teman yang baik" dia berceloteh itu ibu. Sekelumit rasa bahagia itu hadir, entah itu gombalan atau modus seorang siswa. Yang jelas rasanya ada bunga- bunga yang bertebaran dihati ini. Terlebih setelah itu, saat tubuhku mulai menunjukan signal ketidakbersahabatannya, dia begitu saja menghampiri ruanganku dan memberi dua botol yakult. Rabb, persaksikanlah dia adalah anak yg sholeh.
"Nak, kamu tetap hebat jauh sebelum suratan raportmu harus dipulas angka Istimewa"..

Sepenggal Kenangan

Anak-anak d3 pasti ngalamin stuck moment kaya gini.
"Kagok ath, kenapa gak ambil S1 ajah sekalian?"
Kira- kira begini kali yah pilihan ganda sebagai jawaban yang cocok untuk pertanyaan diatas
A. Takdir
B. Biar cepat lulus
C. Biar cepat nikah
C. Semua jawaban benar
Yups. Bener sekali, survei membuktikan jawaban paling benar adalah D, gado - gado alias rupa - rupa alasan melatarbelakangi kami memilih menjadi pejuang diploma. Karena satu alasan tak cukup membuatmu mengambil kesimpulan, hahassikk..

Stuck moment kedua yang teralami oleh diri pribadi adalah tidak memiliki minat untuk menjadi profesional bankir tapi mengambil studi jurusan keuangan perbankan. Dan usut punya usut satu,dua, empat
( woi tiganya kelewat) teman sekelas pun mengalami hal yang sama, jadi yah wajarlah semangat belajarnya up..up..down..down..down..down..
down..down..
Terjun payung melesat kebawah..Maba masih bisa idealis harus lulus comloude, tingkat dua mulai merasa salah jurusan dan kemudian tingkat akhir yang penting lulus wkwkwkkwk...
Tapi sesalahnya tersesat jurusan, banyak kenangan yang masih saja berkelabat hangat dalam ingatan.
Moment saat praktikum bankir yang mewajibkan setiap kelompok seragaman, karena saya dan kawan-kawan sekompok mahasiswa yang menerapkan teori motif ekonomi bahwa segala sesuatunya dilakukan dengan biaya yang sekecil mungkin untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Alhasil karena kami pun mengenakan kaos panitia OSMA (Ospek) karena kebetulan yang mendukung, anggota kelompok semua aktif sebagai mahasiswa yang juga berorganisasi.
Dua diantara moment berikutnya yang selalu terngiang dalam ingatan adalah saat tugas persentasi metlit. Yang dilaksanakan bada UAS teeakhir sebagai penjuang diploma. Kecerobohan saya terulang, tugas maha penting itu tertinggal di rumah dan amat sangat merusak konsentrasi dari dua matkul yang diujiankan. Saat selesai mengerjakan, serusuh mungkin tancap gas ke rumah untuk mengambil tugas karena kesulitan saat meminta tolong orang rumah untuk mengambil dan membawakannya ke kampus. Tapu eh tapi saat sampai di kampus, nuansa galau karena korban PHP itu mulai tercium. Hitungan menit berlalu, sang dosen yang di tunggu tak kunjung data. Akhirnya kami pun melampiaskannya dengan fhoto bersama.

Gantung pena-nya Tere Liye, Antara Hobi atau Profesi?

Setelah lama tak memantau laman FB, shocking terapi muncul saat membaca postingan tentang Tere Liye yang bersepakat dengan Penerbit untuk tidak akan mencetak lagi buku karya Tere Liye. Why? Usut punya usut beban pajak yang diberikan kepada penulis sangat tinggi, bahkan penulis dengan royalti rendah pun terkena pajak, misal karya tulisan majalah  yang bilangannya bukan jutaan, pada digit seratus pun kewajiban pajak tidak menjadi gugur. Bahkan melebihi ketentuan zakat yang 2,5%. Jadi beginilah Indonesia yang pendapatan tertingginya dari sektor pajak, jadi kalau misalnya dinegara kita terjadi gerakan mangkir pajak bisa dipastikan negara kita akan seperti judul buku Tere Liye, negeri di ujung tanduk. Proud untukmu wahai para penggiat literasi, kalian adalah salah satu sumber pendapatan negara.

FYI, Tere Liye tak menjadikan penulis profesi utamanya. Sudah kita ketahui bersama beliau adalah seorang akuntan  profesional, meskipun saya pribadi tak mengetahui dengan pasti penghasilan dari profesinya sebagai akuntan tapi melihat sepak terjangnya sebagai penulis kenamaan, mencetak banyak buku best seller sangat tidak mungkin penghasilan dari menulisnya sangat tinggi dan (mungkin yah) bisa melebihi penghasilannya sebagai seorang akuntan. Keputusan ini diambil dalam upaya kritik pedas untuk pemangku kebijakan agar ada kebijaksanaan dalam keputusan bukan malah bijak sana, bijak sini yang lain kena bajak hehe..
Dari keputusan Tere Liye ini, mungkin saya mengambil hipotesis bahwa Tere Liye memang menulis dari hati atau bisalah dikatakan sebagai hobi yang dibayar bukan sebagai profesi meskipun beliau profesional bahkan mastah dalam per-novel-an. Pantas saja, yang datang dari hati akan diterima pula oleh hati. Tapi bukan satu kesalahan pula, ketika menjadikan tulisan sebagai jalan menyambung hidup. Temukan titik temu antara hobi dan profesi. Hanya terkadang ketika pilihan profesionalitas terambil, ada koensekuensi yang harus diikuti. Menulis dengan selera pasar, disini ranah industri bermain. Memenangkan hati pasar menjadi kunci.

So apapun yang terjadi,  untuk hobi ataupun profesi tetaplah menulis dari hati.

Episode pembelajar

Aku akan pergi, meninggalkan jejak kesalahan juga harapan..
Aku akan pergi, meski tak terkenang tapi membawa bingkisan kenangan dari kurun dua tahun ini...
Aku akan pergi,
Dengan kata maaf untuk pamit diri...
Aku akan pergi,
Menepis takutku menghadapi esok hari...
Aku akan pergi,
dengan memegang alunan kata yang ku coba yakini kebenarannya
"Jangan risau dengan apapun yang sudah terjamin"
Aku akan pergi,
Dengan kerisauan yang hanya boleh termiliki dari kalimat penerus selanjutnya
"Tapi risaukanlah amalan kita" karena aku akan pergi
~~~~~
Agar tak terjadi dispersepsi dalam rima  seperti apa yang pernah diposting disini..restitriherdiyanti.blogspot.com/2017/07/dispersepsi-jomblo-singlelilah-dan.html , baiklah akan ku tulis pula makna racikan kata tadi. Penggalan melodi kata tadi teralun saat keputusan resign terambil. Resign dengan segala multi alasan yg melatarbelakakinya, meski kenyamanan telah dikantongi bagaimanapun dua tahun bukan waktu yg sebentar menjadi bagian disana, tepat senin akhir july itu keputusan resign membulat.
Kini, episode peralihan yg sedang bergulir. Menyelam pada dunia baru, asing penuh dengan ketidaktahuan...
Menjadi seorang staf TU untuk sekolah yang bernama SMP Qiyadi Al-Fatih, yah sebuah sekolah yang diharapkan bisa menjadi mesin pencetak generasi pemimpin yang akan membawa peradaban pada cahya Islam. Pagi hari ada beda disana, ber-almatsurat-an terlebih dahulu untuk kemudian dilanjut Dhuha dan setor hafalan sebelum jam belajar dimulai..
Buta, sama sekali tak tahu apapun tentang dunia pendidikan, tentang segala arsip dokument yg diperlukan, tentang segala hal diluar panggung kegiatan belajar-mengajar, juga kemampuanku dalam komputerisasi  yg tak bisa dibilang high-tec menyempurnakan episode baruku sebagai pembelajar, learning by doing.
Masih mendapati waktu yg kosong, ku isi pula untuk mengajar dua orang anak, lagi...ini pun diluar basic yang kumiliki, tak mengantongi bedground pendidikan juga kondisiku sebagai penghuni terakhir ( read:bungsu )yang memang jarang bersentuhan dengan dunia anak. Sampai hari ini pun aku masih memutar cara menemukan metode yang tepat untuk belajar, agar kata "belajar" tak diiringi kata "jenuh" dalam bayangan..
Keduanya, dalam permulaan ini kerap kali merasa salah. Ah ku bisikan salah dalam belajar itu lumrah, teruskan saja bukankah pada keduanya mengajakmu untuk keluar dari zona nyaman?
Syukuri saja ketidaktahuan, itu adalah cara untuk mengundangmu berfikir dan tetap bergerak.
Sejauh ini, aku turut bahagia melihat senyum remaja yang ceria dalam mengenyam bangku pendidikan, Pun mendampingi mereka untuk belajar mengajar bersama..

Menulis, Untuk Apa?

Jejak
Kemarin dunia maya riuh ramai dengan kedatangan seorang gadis remaja yang pintar merangkai kata, tulisannya menjadi viral sampai mengantarkannya ke istana dengan undangan-undangan yang berdatangan masuk menghampirinya. Meski kemudian diketahui tulisannya mengandung plagiat. Plagiat? What is the meaning of plagiat?
Menurut Kamus Besar Indonesia (KBBI) plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan sendiri.
Tapi tak bermaksud mengiyakan argumentasi gadis remaja tadi yang menghebohkan sejagad maya itu, hanya boleh jadi benar bahwasannya seorang penulis ada masanya menjadi "plagiator" untuk kemudian sampai di tahap "Creator"
.
Jadi mengenang kembali, zaman dimana blog ini ramai justru dengan konten yang terindikasi mengandung unsur plagiat, boleh dibilang tulisan yang mendatangkan jumlah viewers yang banyak dan pemecah rekor sampai ribuan itu  mengandung unsur plagiat meski dosa plagiat itu diiringi dengan penyertaan daftar pustaka pada akhir sesi postingan yang berbau jurnal ilmiah tadi. Artikel ilmiah sudah pasti berbeda dengan tulisan opini ataupun curhat, karena otomatis mengikutsertakan pendapat-pendapat tokoh didalamnya yang kita kutip sabdanya. Dan tipe postingan ilmiah adalah salah satu tipe tulisan dimana begitu mudah mendapatkan visitors, bahkan mengundang repeat visitors karena berbagai kebutuhan untuk memenuhi referensi pemenuhan tugas. Berbeda dengan tulisan curcol, satu kali telah diketahui alur ceritanya, sulit untuk mengundang kembali sebagai pengunjung selain meluaskan jangkuan pengunjung blog kita. Maka jika untuk mendapatkan banyak pengunjung, pelajarinya teknik seo-an dan riset kata kunci apa yang trend di pasaran. Pun itu berlaku juga untuk mendapatkan uang dari blog entah dengan space iklan yang ditawarkan ataupun menjadi bloger review

Lalu kenapa tidak mengisinya kembali dengan jurnal-jurnal ilmiah jika mudah  mendatangkan banyak pengunjung? Kembali kepada pertanyaan, kita menulis untuk apa?
Sejujurnya, mempostingan artikel dan jurnal -jurnal tadi lebih untuk mengabadikan moment saat masa-masa ngampus dulu, bukan hanya potret diri saja yang bisa terabadikan, tapi masa njelimet dengan tumpukan tugas pun bisa banget di abadikan. Kan lumayan nyambil ngerjain tugas sembari mengisi blog, kata pribahasa sambil berenang minum air kemudian tenggelam, eh. Itu alasan dibalik bertahannya saya dari domain gratisan ini, padahal mah menyesuaikan budget wkwkwk *sundanisModeOn

Nah, setiap kita memiliki passionnya. Menjadi penulis pun ada spesialisasinya, passion tulisanmu dimana? Jika belum ditemukan, perbanyak buku bacaan. Nah iya, kalau untuk menjadi seorang pembaca jadilah seorang yang general, baca apapun jenis perbuku-an bahkan seandainya kamu seorang magister atau doktor ekonomi bacalah buku kedokteran, siapa tahu nemu formula untuk mengobati penyempitan pembuluh dompet wkwkwk. Terus gali sampai akhirnya kamu yakin tulisanmu yang gue banget tuh disina bukan disini hehe.


Seorang penulis berbagi tentang resepnya untuk memulai menulis, dari 3D. Apa yang dikuasai, apa yang disukai dan apa yang dipelajari. Silahkan bedah bidang-bidang apa yang kita kuasai, disukai juga sedang dipelajari. Ini akan sangat berguna untuk inspirasi tulisan-tulisan kita kelak. Kita sudah sangat familiar dengan kalimat bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, pun dengan minat yang mengalahkan bakat. Itu artinya banyak jalan menuju penulis. Mainkan saja penamu, tugasmu taat bukan?




Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah

Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah


Kali ini dibuat manggut-manggut, turut merasakan, iya. sama aku pun pernah merasakan..
Dalam forum udara pegiat literasi, ada yang mengeluhkan. Bait racikan hasilnya, seolah hanya dipersepsi dengan status kesendirian, atau nuansa hati yang sedang dilema. Dalam arti bahasa gaul, mereka yang berpuisi ria seolah sedang galau.
Andai bisa dimengerti,  racikan kata tanpa dramatisasi kalimat seumpama sayur tanpa garam. Sampai seorang teman berujar, "Jangan memposting melodi-melodi sendu jika kamu seorang jomblo" begitulah nasib jadi jomblo akan selalu dipersepsi rentan terkena infeksi virus andilau ( antara dilema dan galau), padahal dengan menikah bahkan kematian masalah tidak mungkin pernah selesai, soal postingan melodi, kita tak pernah tahu arti yang sebenarnya, sejatinya selalu ada konteks dibalik teks,  dan selalu ada makna yang tersirat dibalik yang tersurat.

Lain kasus, sebuah artikel memancing perhatian. Katanya fenomena aktifis dakwah hari ini seolah hanya berkutat pada singelillah, nikah ya begitulah. ..
Hmmm... bukan karena membela rekan jomblo sejawat, dibalik kesendirian seseorang kita tak pernah tahu ada banyak insan yang menikmati masanya berhahahhihihehheh menjadikan tema untuk memancing punch line yang gerrrrr berantakan, pembuka sapa juga tawa dalam mencairkan suasana. Nyatanya jomblo tak semerana itu kawan..

Selanjutnya, bukan tururt memboomingkan dakwah yang katanya garis halus, sekedar kampanye anti pacaran, singelillah, nikah ya sudahlah.. Fyi, pemuda katakanlah usia maba yang sedikit lebih dewasa dari usia SMA untuk bisa menanggung beban, hari ini didominasi oleh generasi milenia kelahiran tahun 2000-an, bahasa ilmiah lainnya mengkatagorikan generasi Z, jika sedikit mengupas karakter dari generasi Z ini, mereka adalah generasi yang terbiasa dengan gadget, kabar buruknya saking terbiasa dimudahkan dengan arus informasi mereka tidak terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang merepotkan, bisa di bayangkan kehidupan generasi Z yang terlahir pada fase kemudahan informasi dan kemajuan iptek. Bersekolah, tugas ini-itu tinggal googling, ingin ini-ingin itu tinggal main jempol. Kita (setidaknya saya) leluhur generasi Z, setidaknya pernah merasakan zaman, bersekolah mengerjakan PR saat imformasi yang dicari tak ada dalam buku ataupun lks, yang dilakukan mencari sumber lainnya bisa ke perpus atau bertanya pada kakak kelas, bahkan sebelum Hp mendunia untuk berkabar ria pun, ada usaha kaki untuk berjalan menemukan wartel untuk bisa bersapa mengudara.

Sangat dimaklumi, jika karakter dari generasi Z ini lebih menyukai hal-hal yang have funny, nongki-nongki cantik di cafe-cafe, asyik berselancar di dunia maia. Itu artinya harus ada pula formalasi yang sesuai dengan kondisi kekinian. Jika kita tidak ikut berkecimpung di dalam dunia mereka, manabisa kita menarik mereka untuk bijak dalam internet misalnya. Dan hari ini tema yang  bisa diterima oleh semua kalangan masih ditempati oleh tema jomblo, memang tema jomblo ini juara bertahan yang tak tergeserkan sepanjang zaman. Coba tengok postingan kang Emil, gaya tuturnya selalu membawa kaum jomblo, bandingkan dengan postingan dia yang serius (politik) jumlah likesnya jauh menurun ketimbang postingannya yang berkawan dengan kaum jomblo.

Bukan pemakluman, karena memang tak tak dipungkiri fenomena hari ini aktifitas dakwah riuh ramai dengan syiar kampanye anti pacaran, hanya jika itu menjadi wasilah untuk mencerahkan bahkan mengetuk pintu-pintu keberkahan dalam menyongsong peradaban dengan bonus pundak-pundak mereka kemudian menguat dalam barisan, salahkah?
Mata Kuliah dari Sebuah Novel Tere Liye (Review Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk)

Mata Kuliah dari Sebuah Novel Tere Liye (Review Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk)


Review Dwilogi Novel Tere Liye
Judul 1: Negeri Para Bedebah
Terbit: Juli 2012, Cetakan ke empat Mei 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 433 halaman

Judul 2: Negeri di Ujung Tanduk
Terbit: April 2013, Cetakan ke tiga Mei 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Sudah ku bilang, novel itu bukan sebatas roman picisan, dia fiktif tapi bisa sangat informatif. Serial novel ini adalah SKS tentang ekonomi juga politik yang paling asyik ku pelajari. Karenanya aku mengerti tentang perkawinan antara Ekonomi dan Politik.  Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk adalah dwilogi novel Tere Liye yang antri maenstream. Novel  fiksi tapi nyata, bak mengadopsi cerita true story yang  mengungkap keanehan dalam kenyataan hidup. Kita sudah sangat mafhum dengan kemampuan Tere Liye dalam merangkai kata, pun dengan novel ini sukses berat membawa kita tersesat pada sebuah negara antah berantah seperti judulnya berada di ujung tanduk, bukan karena Negara Api menyerang melainkan para bedebah-bedebah bertopeng yang juga tak kasat mata. Yah meski aku menggerutu aneh, kenapa buku sebagus ini tidak (belum, mungkin ) best seller atau diangkat dilayar film? Aku tak bisa membayangkan jika dwilogi novel ini diangkat menjadi sebuah film, mungkin setiap penonton akan berceloteh ala manusia lupa ingatan, aku dimana, itu Indonesia?

Bagaimana tidak, konflik dimulai ketika sebuah bank sebut saja Bank Semesta mengalami kebangkrutan total (mirip dengan bank Cent****) Tom sebagai tokoh utama berperan untuk menyelamatkan Bank tersebut dimana pemiliknya adalah Om-nya sendiri, Liem Soerja. konflik batin dimulai ketika Tom yang sangat idealis dan berprofesi sebagai konsultan keuangan  mengerti betul ihwal mula kebangkrutan ini dimulai yang tidak lain karena ketamakan manusia-manusia kapitalis. Dia menaruh benci karena menganggap awal dari kenapa dirinya sebatang kara adalah karena ketamakan om-nya dalam menjalankan bisnis reksasa yang dimilikinya. Iya, sang tokoh dikisahkan memiliki masa lalu yang kelam, orang tua yang terbunuh karena arisan berantai milik keluarga, dan kepahitan masa lalu itu yang menjadikan Tom dewasa belajar banyak sehingga membawanya di puncak karir.Tapi dia tak bisa berdiam diri begitu saja menyaksikan Om-nya menjadi buronan padahal sejatinya ada bedebah dibalik bedebah lainnya yang masih berusaha keras menguras kekayaan ekonomi negara juga pada akhirnya dia mulai mencium motif tersendiri dari orang-orang disekitar Om-nya yang mengingkan kehancuran keluarga.

Pada sekuel pertama, semua tokoh seolah memiliki kebedebahannya masing-masing. Termasuk tokoh utama sendiri. Berbeda dengan novel- novel lainnya, tokoh utama pun tidak terlepas dari sifat bedebah. Kebedebahan-nya dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bank Semesta dan Om-nya, memaksa dia melakukan sifat-sifat bedebah seperti melarikan diri, bertarung  dan menyuap petugas polisi. Alur waktu yang diceritakan pun sangat menarik, hanya dua hari dengan spot tempat yang berbeda-beda di dalam dan luar negeri. Dia (Tomy) bukan hanya mahir bertarung secara logis tapi juga otot karena dia adalah aggota dari club rahasia (petarung-petarung). Kecerdasan intelektualnya ia tunjukkan dengan melempar isu "dampak sistemis" atas kasus yang menimpa Bank Semesta. Kemampuan tarung pun disajikan dari novel ini. Berkali-kali ia lolos dari maut yang mengancam jiwanya karena keputusan untuk menyelamatkan Bank Semesta. Dalam novel ini, waktu begitu digambarkan menjadi harta yang baling berharga. Tom hanya memiliki waktu dua hari untuk menyelsaikan misinya. Singkat ceritanya, misi terselesaikan dengan bantuan teman-teman disekitarnya yang berdedikasi membantu bukan sekedar karena upah. Terkuak bahwa ada orang dalam kepercayaan kelurga Liem yang menaruh dendam dan bersekongkol dengan Tuan Shinpei, tokoh bedebah paling bedebah di novel ini. (untuk lebih lengkapnya, plis baca sendiri yah asli seru)

Masuk pada sekuel kedua, ketika Tom semakin berada di puncak karir dengan kasus yang berhasil ditanganinya yaitu penyelamatan Bank Semesta yang pada akhirnya Tom membayar kebedebahannya dengan menyerahkan Om-nya untuk di proses hukum. Tom dengan perusahaan konsultan keuangannya membuka devisi baru, yaitu konsultan politik. Kali ini ia memegang clien yang teramat penting, yaitu seorang politikus berinisial JD untuk maju di bursa pencalonan presiden dengan mekanisme konvensi dari parpol yang mengusungnya. (Mirip-mirip sama cerita sebelah kan yah?)

Konflik dimulai ketika sang calon diindikasikan melakukan tindak korupsi. Tentu Tom bergerak cepat untuk menyelamatkan cliennya, baginya misinya bukan sekedar mengembalikan nama baik dan mengusung sang clien pada bursa pencalonan presidan lalu kemudian mendapatkan imbalan. Tetapi ada panggilan nurani sesama almamater "anak-anak khusus" juga dedikasinya untuk menaruh orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat. Dia sangat yakin, ada tangan yang tak menghendaki cliennya untuk menjadi seorang pemegang kekuasaan. Ada bedebah yang takut terdepak dan kehilangan kendali. Lagi, waktu yang dimiliki Tom hanya dua hari. Sebentar disini, lalu disana.  Dalam kurun dua hari itu Tom harus kembali bertaruh hidup dan mati, keluar masuk penjara. Menghadapi fitnah, intrik dan ancaman.

Endingnya, Tom kembali sukses memainkan perannya, terungkap siapa bedebah dibalik bedabah yang sesungguhnya yang sebenarnya adalah tuan Shinphei. (Masih kurang jelas yah? so pasti detail jelasnya disana ada di novelnya)

Pembelajaran berharga dari Novel ini adalah perkawinan antara ekonomi dan politik akan menghasilkan turunan masalah yang konfleks. Bagaimana  keduanya tidak bisa dihilangkan satu samalain dan saling berhubungan.