Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah


Kali ini dibuat manggut-manggut, turut merasakan, iya. sama aku pun pernah merasakan..
Dalam forum udara pegiat literasi, ada yang mengeluhkan. Bait racikan hasilnya, seolah hanya dipersepsi dengan status kesendirian, atau nuansa hati yang sedang dilema. Dalam arti bahasa gaul, mereka yang berpuisi ria seolah sedang galau.
Andai bisa dimengerti,  racikan kata tanpa dramatisasi kalimat seumpama sayur tanpa garam. Sampai seorang teman berujar, "Jangan memposting melodi-melodi sendu jika kamu seorang jomblo" begitulah nasib jadi jomblo akan selalu dipersepsi rentan terkena infeksi virus andilau ( antara dilema dan galau), padahal dengan menikah bahkan kematian masalah tidak mungkin pernah selesai, soal postingan melodi, kita tak pernah tahu arti yang sebenarnya, sejatinya selalu ada konteks dibalik teks,  dan selalu ada makna yang tersirat dibalik yang tersurat.

Lain kasus, sebuah artikel memancing perhatian. Katanya fenomena aktifis dakwah hari ini seolah hanya berkutat pada singelillah, nikah ya begitulah. ..
Hmmm... bukan karena membela rekan jomblo sejawat, dibalik kesendirian seseorang kita tak pernah tahu ada banyak insan yang menikmati masanya berhahahhihihehheh menjadikan tema untuk memancing punch line yang gerrrrr berantakan, pembuka sapa juga tawa dalam mencairkan suasana. Nyatanya jomblo tak semerana itu kawan..

Selanjutnya, bukan tururt memboomingkan dakwah yang katanya garis halus, sekedar kampanye anti pacaran, singelillah, nikah ya sudahlah.. Fyi, pemuda katakanlah usia maba yang sedikit lebih dewasa dari usia SMA untuk bisa menanggung beban, hari ini didominasi oleh generasi milenia kelahiran tahun 2000-an, bahasa ilmiah lainnya mengkatagorikan generasi Z, jika sedikit mengupas karakter dari generasi Z ini, mereka adalah generasi yang terbiasa dengan gadget, kabar buruknya saking terbiasa dimudahkan dengan arus informasi mereka tidak terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang merepotkan, bisa di bayangkan kehidupan generasi Z yang terlahir pada fase kemudahan informasi dan kemajuan iptek. Bersekolah, tugas ini-itu tinggal googling, ingin ini-ingin itu tinggal main jempol. Kita (setidaknya saya) leluhur generasi Z, setidaknya pernah merasakan zaman, bersekolah mengerjakan PR saat imformasi yang dicari tak ada dalam buku ataupun lks, yang dilakukan mencari sumber lainnya bisa ke perpus atau bertanya pada kakak kelas, bahkan sebelum Hp mendunia untuk berkabar ria pun, ada usaha kaki untuk berjalan menemukan wartel untuk bisa bersapa mengudara.

Sangat dimaklumi, jika karakter dari generasi Z ini lebih menyukai hal-hal yang have funny, nongki-nongki cantik di cafe-cafe, asyik berselancar di dunia maia. Itu artinya harus ada pula formalasi yang sesuai dengan kondisi kekinian. Jika kita tidak ikut berkecimpung di dalam dunia mereka, manabisa kita menarik mereka untuk bijak dalam internet misalnya. Dan hari ini tema yang  bisa diterima oleh semua kalangan masih ditempati oleh tema jomblo, memang tema jomblo ini juara bertahan yang tak tergeserkan sepanjang zaman. Coba tengok postingan kang Emil, gaya tuturnya selalu membawa kaum jomblo, bandingkan dengan postingan dia yang serius (politik) jumlah likesnya jauh menurun ketimbang postingannya yang berkawan dengan kaum jomblo.

Bukan pemakluman, karena memang tak tak dipungkiri fenomena hari ini aktifitas dakwah riuh ramai dengan syiar kampanye anti pacaran, hanya jika itu menjadi wasilah untuk mencerahkan bahkan mengetuk pintu-pintu keberkahan dalam menyongsong peradaban dengan bonus pundak-pundak mereka kemudian menguat dalam barisan, salahkah?

Mata Kuliah dari Sebuah Novel Tere Liye (Review Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk)


Review Dwilogi Novel Tere Liye
Judul 1: Negeri Para Bedebah
Terbit: Juli 2012, Cetakan ke empat Mei 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 433 halaman

Judul 2: Negeri di Ujung Tanduk
Terbit: April 2013, Cetakan ke tiga Mei 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Sudah ku bilang, novel itu bukan sebatas roman picisan, dia fiktif tapi bisa sangat informatif. Serial novel ini adalah SKS tentang ekonomi juga politik yang paling asyik ku pelajari. Karenanya aku mengerti tentang perkawinan antara Ekonomi dan Politik.  Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk adalah dwilogi novel Tere Liye yang antri maenstream. Novel  fiksi tapi nyata, bak mengadopsi cerita true story yang  mengungkap keanehan dalam kenyataan hidup. Kita sudah sangat mafhum dengan kemampuan Tere Liye dalam merangkai kata, pun dengan novel ini sukses berat membawa kita tersesat pada sebuah negara antah berantah seperti judulnya berada di ujung tanduk, bukan karena Negara Api menyerang melainkan para bedebah-bedebah bertopeng yang juga tak kasat mata. Yah meski aku menggerutu aneh, kenapa buku sebagus ini tidak (belum, mungkin ) best seller atau diangkat dilayar film? Aku tak bisa membayangkan jika dwilogi novel ini diangkat menjadi sebuah film, mungkin setiap penonton akan berceloteh ala manusia lupa ingatan, aku dimana, itu Indonesia?

Bagaimana tidak, konflik dimulai ketika sebuah bank sebut saja Bank Semesta mengalami kebangkrutan total (mirip dengan bank Cent****) Tom sebagai tokoh utama berperan untuk menyelamatkan Bank tersebut dimana pemiliknya adalah Om-nya sendiri, Liem Soerja. konflik batin dimulai ketika Tom yang sangat idealis dan berprofesi sebagai konsultan keuangan  mengerti betul ihwal mula kebangkrutan ini dimulai yang tidak lain karena ketamakan manusia-manusia kapitalis. Dia menaruh benci karena menganggap awal dari kenapa dirinya sebatang kara adalah karena ketamakan om-nya dalam menjalankan bisnis reksasa yang dimilikinya. Iya, sang tokoh dikisahkan memiliki masa lalu yang kelam, orang tua yang terbunuh karena arisan berantai milik keluarga, dan kepahitan masa lalu itu yang menjadikan Tom dewasa belajar banyak sehingga membawanya di puncak karir.Tapi dia tak bisa berdiam diri begitu saja menyaksikan Om-nya menjadi buronan padahal sejatinya ada bedebah dibalik bedebah lainnya yang masih berusaha keras menguras kekayaan ekonomi negara juga pada akhirnya dia mulai mencium motif tersendiri dari orang-orang disekitar Om-nya yang mengingkan kehancuran keluarga.

Pada sekuel pertama, semua tokoh seolah memiliki kebedebahannya masing-masing. Termasuk tokoh utama sendiri. Berbeda dengan novel- novel lainnya, tokoh utama pun tidak terlepas dari sifat bedebah. Kebedebahan-nya dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bank Semesta dan Om-nya, memaksa dia melakukan sifat-sifat bedebah seperti melarikan diri, bertarung  dan menyuap petugas polisi. Alur waktu yang diceritakan pun sangat menarik, hanya dua hari dengan spot tempat yang berbeda-beda di dalam dan luar negeri. Dia (Tomy) bukan hanya mahir bertarung secara logis tapi juga otot karena dia adalah aggota dari club rahasia (petarung-petarung). Kecerdasan intelektualnya ia tunjukkan dengan melempar isu "dampak sistemis" atas kasus yang menimpa Bank Semesta. Kemampuan tarung pun disajikan dari novel ini. Berkali-kali ia lolos dari maut yang mengancam jiwanya karena keputusan untuk menyelamatkan Bank Semesta. Dalam novel ini, waktu begitu digambarkan menjadi harta yang baling berharga. Tom hanya memiliki waktu dua hari untuk menyelsaikan misinya. Singkat ceritanya, misi terselesaikan dengan bantuan teman-teman disekitarnya yang berdedikasi membantu bukan sekedar karena upah. Terkuak bahwa ada orang dalam kepercayaan kelurga Liem yang menaruh dendam dan bersekongkol dengan Tuan Shinpei, tokoh bedebah paling bedebah di novel ini. (untuk lebih lengkapnya, plis baca sendiri yah asli seru)

Masuk pada sekuel kedua, ketika Tom semakin berada di puncak karir dengan kasus yang berhasil ditanganinya yaitu penyelamatan Bank Semesta yang pada akhirnya Tom membayar kebedebahannya dengan menyerahkan Om-nya untuk di proses hukum. Tom dengan perusahaan konsultan keuangannya membuka devisi baru, yaitu konsultan politik. Kali ini ia memegang clien yang teramat penting, yaitu seorang politikus berinisial JD untuk maju di bursa pencalonan presiden dengan mekanisme konvensi dari parpol yang mengusungnya. (Mirip-mirip sama cerita sebelah kan yah?)

Konflik dimulai ketika sang calon diindikasikan melakukan tindak korupsi. Tentu Tom bergerak cepat untuk menyelamatkan cliennya, baginya misinya bukan sekedar mengembalikan nama baik dan mengusung sang clien pada bursa pencalonan presidan lalu kemudian mendapatkan imbalan. Tetapi ada panggilan nurani sesama almamater "anak-anak khusus" juga dedikasinya untuk menaruh orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat. Dia sangat yakin, ada tangan yang tak menghendaki cliennya untuk menjadi seorang pemegang kekuasaan. Ada bedebah yang takut terdepak dan kehilangan kendali. Lagi, waktu yang dimiliki Tom hanya dua hari. Sebentar disini, lalu disana.  Dalam kurun dua hari itu Tom harus kembali bertaruh hidup dan mati, keluar masuk penjara. Menghadapi fitnah, intrik dan ancaman.

Endingnya, Tom kembali sukses memainkan perannya, terungkap siapa bedebah dibalik bedabah yang sesungguhnya yang sebenarnya adalah tuan Shinphei. (Masih kurang jelas yah? so pasti detail jelasnya disana ada di novelnya)

Pembelajaran berharga dari Novel ini adalah perkawinan antara ekonomi dan politik akan menghasilkan turunan masalah yang konfleks. Bagaimana  keduanya tidak bisa dihilangkan satu samalain dan saling berhubungan.

Ramadhankan Hari, Dengan Berani Berbagi

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sehingga tak aneh jika setiap orang menyambutnya dengan semarak.  Ada hikmah terselip dari ketentuan puasa pada bulan Ramadhan. Betapa tidak semua orang muslim mukallaf tanpa terkecuali makan dan minum pada waktu yang sama, yakni saat sahur dan berbuka tak peduli status dan kasta. Seperti menggugah kepekaan sosial akan apa yang teralami oleh saudara kita yang sering berkawan dengan kelaparan. Rasa peduli itu bisa terbangunkan dari tidurnya saat kita ada pada satu frekuensi yang sama.
Jika kamu mudah peka bahkan tanpa kode untuk sebuah perasaan yang belum pasti, kenapa tidak untuk membangun kepekaan dengan mereka yang kurang beruntung, tenang Allah sudah memberikan kode balasan yang pastinya bukan sekedar janji palsu.

Ramadhan adalah momentum saat pahala dilipatgandakan. Sungguh, sangat disayangkan jika pundi-pundi pahala kita stagnan berjalan ditempat sedang digit dosa terus berjalan.  Lapar dan dahaga yang terasa semoga memanggil nurani kita untuk tergerak menebar kebaikan. Berbagi menjadi pintu untuk mengetuk kebahagian. Ingat berbagi, ingat Sekolah Relawan. http://www.sekolahrelawan.com/ Apa itu Sekolah Relawan? Sekolah Relawan adalah lembaga sosial kemanusian yang berfokus pada empat hal yakni sosial kemanusiaan, edukasi kerelawanan, advokasi dan  pemberdayaan masyarakat. Kenapa harus dengan Sekolah Relawan? saat sendiri dirasa tak cukup punya kekuatan untuk melebarkan sayap dalam berbagi menebar kebaikan, entah itu keterbatasan waktu, fisik juga materi maka bersinergi dengan lembaga sosial seperti Sekolah Relawan bisa menjadi pilihan. Saat tak cukup waktu atau fisik, maka Sekolah Relawan bisa menjadi perpanjangan tanganmu untuk mengetuk bahagia. Pun saat kendala materi mengganjal, maka sumbangsih tenaga bisa kita gunakan.

Seperti semboyannya, terinspirasi dan terus bergerak Sekolah Relawan mencoba terus memberikan inspirasi dan bergerak untuk  menerbar kebaikan dengan program Ramadhan  Berani Berbagi http://www.sekolahrelawan.com/
 Ada Beberapa kegiatan dari program Ramadhan Berani Berbagi ini, seperti :

1.Kado Sambut Ramadhan

Menjelang datangnya ramadhan, masyarakat  berbondong-bondong memperisapkan diri. Namun seperti yang kita ketahui, biasanya harga kebutuhan pokok meroket naik. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi kaum dhuafa yang mungkin tak berfikir banyak tentang pernak-pernik memperisapkan ramadhan, bisa menyantap menu untuk sahur saja mereka sudah lega. Sekolah Relawan dengan Programnya Kado Sambut Ramadhan, memberikan bingkisan kado untuk kaum dhuafa agar bisa ikut bahagia menyambut datangnya Ramadhan.

2. Foodbox

Program yang mengedukasi setiap orang untuk sedekah makanan dengan memberikan makanan siap santap dalam sebuah kotak untuk kaum dhuafa, fakir miskin atau mereka yang membutuhkan. Dengan adanya Foodbox diharapkan peranan fungsi sosial dari sebuah mesjid bisa semakin kuat. Sekolah Relawan ingin menyebarkan kebaikan sedekah makanan dengan foodbox ini agar tersebar diberbagai kota.

3. Free Food Car

Free Food Car ini sudah berjalan jauh sebelum Ramadhan tiba, kegiatan sedekah makan ini berlangsung dalam sebuah mobil dengan dilengkapi meja yang dugunakan untuk tempat penyajian dimana para relawan langsung yang memasak, menyajikan dan melayani untuk siapapun yang membutuhkannya. Seperti yang terdokementasikan dari fhoto dibawah ini, dimana masyarakat sekitar bisa merasakan makanan dari kehadiran Free Food Car ini.




4. Sumur Utsman

Pada beberepa lokasi tertentu, masih ditemukan daerah yang kesulitan air. Sekolah Relawan terinspirasi pada kisah Sahabat Rasul Utsman yang membeli sumur dan dimanffatkan oleh banyak orang yang membutuhkannya, sehingga dicetuskanlah ide untuk membantu masyarakat membuat sumur.

5. Kampung DugDug

Nama DugDug seperti mengisyaratkan semaraknya Ramadhan, dengan program ini Sekolah Relawan berusaha menghadirkan keseruan dan kebahagian Ramadhan di pelosok daerah. Dari picture yang terdokumentasikan oleh Sekolah relawan ini, bisa terasa sensasi buka bersama yang anti maenstream.

6. Belanja Bareng Yatim Dhuafa

Program Belanja Bareng Yatim Dhuafa ini diharapkan bisa memberi kebahagianuntuk anak yatim dalam menyambut lebaran dan memenuhi kebetuhan sekolahnya.

7. Naik Pangkat

Program ini untuk pemberdayaan masyarakat sehingga dengan modal yang diberikan dari Sekolah Relawan diharapkan bisa menjadi wasilah untuk membantu tingkat kesejahteraan keluarga dari penerima manfaat.

8. Kado Untuk Lebaran

Tidak seperti masyarakat pada umumnya ketika menjelang lebaran tiba, mereka mendapat THR dari kantor atau rekan bisnisnya, untuk itu Sekolah Relawan menghadirkan kado lebaran untuk kaum Dhuafa dan fakir miskin berupa paket kebutuhan sandang untuk menyambut datangnya lebaran.

Seru yah jika Ramadhan kita penuh dengan semarak kebaikan, sudahkan terinspirasi untuk berani berbagi ? Jadikan selalu hari yang kita miliki bak Ramadhan yang tak pernah usai dengan senantiasa menebar kebaikan. Mengutip pesan Aa Gym yang mahsyur dengan 3M-nya.  Memulainya dari hal terkecil. Saat ini, saat dimana nuansa Ramadhan masih menyelimuti yang juga  memberi kesejukan  pada diri, terakhir mengawali dari diri sendiri untuk mengambil bagian menebar kebaikan.







.







Buffalo Hills, Cerita dibalik Cerita petualangan

Lagi-lagi kembali berpetualangan dengan perjalanan yang "terencanakan versi maju mundur cantik"  tak terduga dan dadakan. Fiksasi ngetrip malam menjelang keberangkatan . Tepat hari senin yang terpoles dengan tinta merah di kalender itu menjadi pilihan. Adalah Buffalo Hills objek dari petualangan reunian-an ini..
Reuni?iya reuni...Sedikit singkat dari cerita dibalik cerita petualangan ini. Genangan air besar yang orang megapolitan bilang sebagai banjir. Kemudian dipertemukaan dan mengeratkan persaudaraan, Adalah bunda aulia yang dipersaudarakan oleh hikmah dibalik genangan air besar saat menimpa Garut si Swiss van java. Dan Maya, dia sudah ku kenali sebelumnya, karena kami ada pada satu organisasi yang sama, hanya merasa begitu didekatkan oleh peristiwa genangan air besar itu, semenjak dari peristiwa itu kami berdua menjadi dua sekawan yang ngeklop, intensitas main bareng semakin menjadi meski sudah tak seoraganisasi, suka main-main tapi gak suka dimainin, eh. Gak lagi malu untuk curhat apapun yang ada kadang kami bedua malu-maluin duh...

Oh iya, kenapa selalu memilih reunian dengan petualangan?jika hang out  makan-makan, selesai acara kesannya pun sebatas hahahihih dalam obrolan yang ngalor-ngidul-wetan... hehe Tapi dengan petualangan bukan hanya hahahihi tapi hahahihihehehoho seneng, cape, menderita bareng-bareng. Yah begitulah, alam selalu punya kesempatan semakin mengeratkan. Dan lagi ada saja pertemanan baru yang dimulai dengan petualangan..


Kali ini tentang objek tempat petualang kita, Buffalo Hills. Tempat ini mulai ngehits karena ramainya orang-orang yang mengexplore keindahan tempat tersebut via sosmed. Tapi jangan terkecoh dengan picture yang booming itu. Dalam keduanya setelah yang pertama tak menuntaskan petualangan Buffalo Hills saya masih terkecoh. Seolah objek wisata saya kembali memakai sepatu anti-treckking. Tapak kaki bawah kerasa banget di elus-elus sama batuan tajam dari track perjalanan. Oh iya, dua teman baru saya dari team ekspedisi Buffalo Hills ini samasekali tak menyangka bahwa petualangan yang akan dilakukan akan sejauh itu, hampir menyerah meski puncak sudah terlihat didepan mata.  Percis dengan team petualang pertama saya mengexplore Buffalo Hills, perkiraan landai dan mulus, yah minimal kalau tak semulus jalan tol, serupa dengan Papandayan atau Karacak Valleylah, tapi oh tapi, tracknya minim bonus dan lumayan nanjak, iseng-iseng saya menyebutnya dengan Tegal Munding rasa Cikuray. Kita berangkat pagi, dan start mulai trecking jam 8an pun para bapak-ibu petani yang kami temui masih menyebut kesiangan. Nah iya kalian yang melakukan perjalanan kesini pasti akan menemui petani dan bu tani. Dan saya baru ngeh, wortel, tomat, kentang, cabei yang sering saya temui itu, ditanam dengan amat penuh perjuangan tapi kadang dihargai murah dalam pasaran. Misalnya saya sempat ngobrol dengan butani yang ditemui, beliau bercocok tanaman bisa setiap hari tapi panen hanya tujuh bulan sekali. perjalnan ini benar-benar mengingatkan akan Firman-Nya, "nikmat mana lagi yang kamu dustakan?".




Perjalanan pulang-pergi kami selalu menemui Ibu tani sama petani alhamdulillah mereka baik-baik orangnya. Ada yang memberi kami air, pisang juga tumpangan untuk shalat dzuhur juga sempat menawari kami untuk memberi bekal singkong. Ah Indonesia, betapa gotong royong itu begitu nyata kulihat dalam perjalanan ini..Dari para petani pula saya mendapat informasi, kenapa tempat ini diberi nama Buffalo Hilss, karena tempat ini tempat menggembala kerbau. Ada sekitaran 60 kerbau disana, kerbau-kerbau itu tidak dibawa pulang, tetapi di kembangbiakan di tonggoh (Sunda: atas) yang sekarang menjadi hits karena memang keindahan yang ditawarkan seperti menemui padang savana hijau luas yang mengademkan.


Untuk Informasi tempat ini lebih cocok disebut sebagai objek wisatanya para pendaki, teman baru saya juga salah seorang di team ekspedisi pertama, begitu kaget ketika sampai di pos pendataan dengan spanduk yang bertuliskan "Selamat datang di Camp Pendakian Buffalo Hills" (agak lupa percis tulisannya seperti apa, tapi pointnya seperti itu) itu bisa diartikan juga, selamat ber-ripuh-ripuh ria dan menikmati sensasi perjalanannya. Jangan menyamakan Buffalo Hills seperti PCG yang juga hits setelah viral di sosmed, atau bahkan papandayan sendiri yang hari ini lebih berasa sebagai objek wisata ketimbang gunung dan karena treck Buffalo Hills ini memang lebih "leklok" ketimbang Papandayan itu sendiri. Fyi, kami start treckking jam 8 dan sampai dibawah tempat pendataan juga parkiran motor jam setengah 4 sore bolehlah dihitung sebagai waktu tempuh pendaki amatir, tapi well Buffalo Hills tetap bukan objek wisata biasa melainkan objek wisatanya pendaki. Diluar teman baru yang menjadi bagian dari team ekspedisi, dalam petualangan ini pula, kami mendapatkan teman baru again, mereka para pendaki yang baru summit dari Guntur, dan kemudian sumitt buffalo Hill dan akan kembali menaklukan Guntur ahir April nanti, btw kalau sudah menjadi pendaki emang sulit move on yah untuk berhenti muncak ...

Dilematis seorang pengendali diri (mantan Kaderisasi dan atau Kaderisasi)

Salahsatu dari sekian perjalanan puzzle kehidupan yang menitipkan banyak hikmah juga bingkisan bernama kenangan adalah sepenggal episode bersama bunga haraki (Read: KAMMI), pernah ada satu masa pundak ini teramanahi sebagai seorang pengendali ( Read: Kaderisasi) . Singkatnya job desk mengendalikan dan menambah pasukan baik secara kuantitas ataupun kualitas. Entah itu mengendalikan dan atau menambah keduanya adalah tugas besar. Pada bagian kuantitas patokan jelas terukur, sekian orang.  Ada pandangan realistis yang menyelimuti kadang menjebak diri pada jiwa pesimis mencapai target.  Toh sudah menjadi karakterisik jalan juang para mujahid identik dengan sedikit, memakan waktu lama dan perjalanan yang panjang. Sehingga di lapangan, ini menjadi PR bersama apapun itu amanahnya. Mengajak dan menyeru pada kebaikan.

Pada tupoksi mengendalikan dilema itu amat terasa.  Pada bagian ini, jangan dikira ranah kualitas, tak memiliki patokan jelas yang menjadi acuan standar "para pengendali" dalam mengukur kualitas seseorang, sebut saja kader sesuai dengan marhalahnya (Read: jenjang) . Ada patokan khusus untuk mengukurnya, sesuatu yang kami sebut sebagai IJDK (indeks Jati Diri Kader). Persoalan itu dimulai, ketika kami para pengendali, harus mengendalikan diri juga mengendalikan mereka yang menjadi bagian dari "amanah ini".  Ibaratnya bicara IJDK aja masih mengeja sudah harus mengakar mereka memenuhi patokannya. Kalau mau ngasih bocoran kaya gimana point IJDK yang menjadi standar bagi seorang kader. Siap-siapin sapu tangan bukan mau nagis sih, yah minimal untuk alat tutup muka. Horor emang? Gitu dech meski  itu sebenarnya menjadi cambuk  pemacu lecutan agar segera meng_ugrade kapasitas diri. Kaya gimana emangnya? Sebenernya sih rinciannya panjang. Ini sedikit contohnya, Gak boleh pacaran/ HTS-an, gak boleh merokok, pegang hafalan, tertanam jiwa haroki yang menjadi paket ekstranya karena wajihah ini (Read:Kammi) berisikan para pembelajar cepat, ada PR yang tak terhenti pada pribadi Islami tetapi meluas menjadi muslim negarawan. Bisalah kebayang gimana susahnya menjadi seorang yang bisa terkatagorikan muslim negarawan dan kemudian mencetak " mereka" sebagai pribadi muslim negarawan. 

Bicara idealita, jangan pernah membenci realita, karena mengingat dan mengulang idealita adalah langkah awal menggapainya menjadi nyata. Mengingat goal settingnya muslim negarawan, banyak treatment khusus yang harus dilakukan. Misalnya mantuba, what this is? bisa disebut sejenis makhluk per-buku-an dengan tema-tema Islam dan kenegeraan. Nambah lagikan PR bacaannya. modul kuliah, mantuba,  skripsi. Terlebih jika ditemukan pasien yang alergi baca buku kenegaraan, atau parahnya justru "si pengendali" sendiri yang diharapkan menjadi dokter malah terserang penyakit sama karena bertentangan dengan passionnya. Akhirnya teralami juga oleh diri pribadi bagaimana dilematisnya memiliki  hobi baca novel tapi dituntut membaca modul-modul kenegaraan lalu kemudian memastikan "mereka" melahap suplemen yang sama. See, kebayangkan dilematisnya? wait. Ada yang lebih mendilematiskan dari persoalan ini.
Kalian para pengendali, eh ralat kosakata kalian ( Read: kaderisasi) bisa menjadi kita karena kata pengendali ini bisa juga merajuk untuk umum. Setiap kita adalah pengendali, mengendalikan diri yang juga sebenarnya teramanahi pula untuk mengendalikan alam sekitar. Kita harus mulai membiasakn diri kebal pada bahasa, "urus aja diri sendiri" duh maunya sih gitu kaya Pak Pres yang dulu  sanggahannya pernah hits, "Bukan urusan saya". Nyatanya hidup bukan hanya tentang seorang diri. Eh tapi kemudian  menemukan untaian hikmah dari sahabat Rasul yang satu ini.

" Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya. Sibuklah dengan diri kalian, perbaiki aibmu ( Ali bin Abu Thalib)". Prit, disana letak dilematisnya. Permainan hati kadang dimulai. Bismillah, mawas diri dan terus berbenah. Sesekali mempertanyakan benar atau salah dan atau seharusnya bagaimana? Inilah sepenggal pembelajaran berharganya yang tak ditemui pada SKS mata kuliah.
Kembali dalam ranah pengendali dalam  arti struktural. Pernah sesekali dengar statment yang seperti ini, orang-orang kaderisasi harus memiliki track record yang aman, selesai dengan masalah diri, lebih extrim orang kaderisasi  biasanya yang sholeh-sholeh. Duh rasanya pengen demo dech. Manabisa selesai dengan diri sendiri? Lalu aman, dan sholeh. Rasa-rasanya jika itu menjadi prasyarat menjadi seorang kaderisasi akan sulit menemukan orang yang berkapasitas menyandang amanah sebagai pengendali tadi. Karena itu perkara yang  menjadi PR panjang sampai menutup mata.
Point tadi pula sebenarnya bisa disubsitusikan pada kondisi kita yang hakekatnya sebagai seorang pengendali. Bukan karena kita sholeh lalu menasehati, tidak pula karena merasa belum sholeh lalu kita abai terhadap saudara sekitar. Karena surga terlalu luas untuk kita jejali seorang diri. Kepo-lah secara adil yang pada tempatnya. Atau pilihlah kepo is care. Karena kepo atas motif kepedulian tidak terdefinisikan prilaku yang menyebalkan. Hanya saja tentang bagaimana kita menanggapi persoalan saudara, ada adab dan etika yang harus kita jaga. Tutup aibnya dan nasehatilah secara pribadi dari hati ke hati, oke mari kita belajar menjadi pengendali diri yang tak pernah  usai dan tak sebatas pada diri. Mengutip qoutes bang Tere Liye, seseorang yang hebat bukan dia yang bisa mengendalikan udara, air atau api tapi hati.

Awas, Jangan Mendaki !

Mata ini menemui sesuatu yang menarik perhatian, sebuah meme pendakian berisi warning...
Dalam captionnya disebutkan bahwa pendakian bisa menyebabkan kelelahan, kurang tidur, kantong kering dan kalimat terakhir sebagai punch line yang terasa menyentak, susah mendapatkan jodoh *gedubrak
Well, mari kita verifikasi...
Point 1-3 adalah hipotesis yang mendekati kebenaran, sejauh mata memandang dalam perjalanan pendakian. Hoax kalau mendaki gak capek, bisa tidur pulas dan gak bikin kantong jebol.
Cape karena track yang dilalui gak semulus jalan tol, mirip jalan kehidupan gitu dech, ditambah juga dengan beban keril yang membawa logistik dan perbekalan. Emang sih gak seberat beban hidup tapi cukuplah membuat hayati lelah...
Tidur pulas, emang situ kira digunung ada hotel? Yang ada was-was takut binatang buas muncul, sesosok makhluk yang tak dikenal dan bisa membuatmu birigidik (in english, bulu roma berdiri), atau si Hipo datang bersama angin yang membelai mesra dan membawa kedinginan pada sekujur tubuhmu, ( etdah bahasa, mana maenstream pula)
Kantong kering, jelas banget secara dari alat-alatnya saja udah bikin alis berkerut, Jangan ngarep  bisa dapat harga cincai, mau nego sulit say. Belum akomodasi atau transfor menuju gunung yang biasanya melewati bukit dan lembah. Udah dech dijamin kena penyakit penyempitan pembuluh dompet pastinya, karena kalau kanker terlalu maenstream haha...
iya, oke itu semua benar tapi dari pengalaman sih, bukannya kapok malah bawa virus candu alias bikin ketagihan..
Sedikit curcol yah, pengalaman pribadi sih awalnya cuma mupeng papandayan. Kebetulan odoj bekasi bikin event khataman dipapandayan, ikutanlah akhirnya, dapat cerita banyak disana dan oleh-olehnya yah itu bawa virus candu ngedaki, lengkapnya nih disini..
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/05/papandayan-yang-membawa-candu-muncak.html

Selang kemudian, bulan Mei kembali dapat ajakan ngeguntur, karena kebetulan bulan muda dan pas hari libur nasional, Moment-able bukan tuh, cus aja berangkat. Meski yang itu bener-bener nekad dan dadakan, wong alat-alat dan tendanya baru dapat saat malam menjelang besok keberangkatan. Itu pun cuma bertiga, mini team banget kan... Kurang nekad bin dadakan apa coba?
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/12/pendakian.html

Nah berhubung Garut terkenal dengan pagucinya. Jadi ngerasa tanggung aja kalau cikuray belum di khatamin..
Fiks februari kemarin pun berkesempatan ngerasaain terjalnya Cikuray yang dikit-dikit nanjak. Beda dikitlah sama si cantik eldewies, kalau papandayan dikit nanjaknya. Nah kalau cikuray dikit-dikit nanjak, dikit-dikit nanjak gitu aja terus sampe puncak. Naik tiada akhir dengan bonus lutut ketemu dagu. Kalau hujan kamu dapat double bones dengan track yang licin... Muantappolllll.....
http://penna.id/@dererez/reunian-dalam-petualangan-menaklukan-cikuray-jqgo904zl4fs

Apapun itu cerita perjalanannya, dari satu pendakian ke pendakian lain bawannya sulit move On, pantesan aja yah para pendaki sulit ngambil keputusan pensiun? Apa baru jika ancaman terakhir dari meme itu benar, bisa bikin kapok ngedaki? Tapi untungnya sih point terakhir hoax, yakin aja sama Allah. Jodoh udah ada yang ngatur kok..

Mau pensiun? Engga dech, insya allah ada masanya gantung keril dan cuti panjang dlm pendakian..

Guntur, Pendakian Nekad bin Dadakan



Bahagia itu mendapati kalender merah  tepat di awal bulan, ah rasanya tuh seperti menemukan air  saat tengah kehausan di lembah Gurun Sahara. *Hiperbola.  Tapi seperti itulah gambarannya,  rutinitas yang dilalui terkadang menjebak kita dalam mengurangi radar kefokusan, meskipun aku pribadi sudah dari zaman purba-nya terlahir dengan ketelitian yang minim, kesalahan yang disusul dengan kesalahan berikutnya akhirnya menghiasi rutinitas kerjaku. Oke fiks aku tersadar,  mungkin iya aku kurang piknik.  Dan rabu itu ajakan haiking ke Guntur itu hadir. H-2 dari pendakian. Dari sinilah bermula sebuah label itu, pendakian nekad bin dadakan.

Telah kita ketahui bersama, setelah film 5 cm itu meledak di pasaran, Haiking menjadi trend baru anak muda dan  tanggal merah 5-6 Mei dengan sabtu sebagai tambahan hari libur kejepit nasional otomatis bisa menjadi hari pendakian Nasional, ini terlihat dari ramainya grup-grup pendakian di sosmed  juga hilir mudik orang berdatangan di terminal Guntur Garut dengan kelir sebagai tengtengannya. Imbasnya  sebagai pendaki  newbie yang tidak memiliki sama sekali kelengkapan alat-alat outdoor  akan ditambah dengan  kesulitan menemukan tempat penyewaan alat-alat outdoor karena dapat dipastikan sudah on booked. Dan benar saja, mulai dari kawan yang memiliki kelengkapan haiking,  meski  tidak mendaki  pada hari libur tersebut, kebanyakan alat-alatnya telah dipinjamkan. Bersyukur masih mendapatkan pinjaman sleeping bag+matras+sendal gunung. Eh buset gak modal amet yah semua pinjaman, maklum pendaki newbie hehe *ngeles. Kelengkapan berikutnya yang krusial harus ada adalah tenda.  Dari empat tempat sewa alat-alat haking sampai kamis malam dengan rencana keberangkatan jum’at yang aku telusuri semuanya sold alias sedang digunakan, artinya jelang dari rencana keberangkatan esok hari tenda masih belum ada ditangan.

Sedang pendakian tidak mungkin di cancel, kak Nisa (temn pendakian nekad bin dadakan) cuma satu orang tanpa rombongan telah on the way dari kota asalnya dari Jakarta menuju Garut. Kalangkabut malam jum’at itu aku mencari-cari tenda. Bersyukur Allah mengingatkanku kepada kawan lama, teman seperjuangan ketika di kampus. Aku tahu, dia sering haiking.  Alhamdulillah disetiap ada kemauan pasti ada jalan. Bukan semata mendapatkan tenda, pendakian nekad bin dadakan ini pun mendapatkan guide expert-nya. *hatur nuhun Bro...

Jum’at pagi dengan semangat menggebu menaklukkan puncak gunung Guntur, aku memulai pendakian nekad bin dadan ini dengan mengambil jalur post tanjung, salah satu jalur resmi dari pendakian gunung Guntur.  Saat menaiki angkot leles yang akan membawa ke base camp Umi Tati, dengan keril lama  yang ku bawa mudah sekali mamang supir mengenali tujuan perjalanan kami meski tidak berombongan. Mamang supir berbaik hati memberi tawaran untuk mengantarkan sampai base camp Umi Tati. Kesepakatan harga pun terjalin. Deal. Tapi ternyata mamang supir ini tidak menurunkan kami sampai di base camp Umi Tati, menurutnya jaraknya sudah hampir dekat dan bisa di tempuh dengan jalan kaki. Thart’s right ceritanya aku di PHP-in, duh sedinya. Tapi yah gais, kita tidak boleh  membuang emosi dengan kemarahan yang percuma, energiku tak boleh terkuras dengan hal sepele ini, anggap saja pemanasan.  Well, akhirnya pertolongan itu datang, ada  satu truk yang membawa pasir berbaik hati berhenti tepat dihadapan kami dan bersedia membawa kami sampai di base camp Umi Tati dengan gratis.

Sesampai di basecamp aku dan kak Nisa menunggu kawanku yang bernama Ihsan, nah kali ini kita dapat ppersonil baru dalam pendakian nekad bin dadakan ini,  cukup lama sebenarnya kami menunggu jika dihabiskan untuk menonton film mungkin akan sampai pada akhir tayangan, namun tak mengapa lamanya kami menunggu tidak ada apa-apanya dengan jasanya dia yang sangat membantu mensukseskan pendakian nekad dan dadakan ini.  Kali itu ia terpaksa harus direpotkan berkali-kali lipat oleh pendakian ini, dari mulai mencarikan tenda, mencarikan spirtus untuk memasak sekaligus memandu kami untuk memasak (karena gak bisa nyalain nestingnya, maklum nestingnya sejenis trangia bukan nesting biasa hehe *lagi-lagi ngeles) yang juga merangkap sebagai  pemandu perjalanan,  mendirikan tenda sampai membawa barang-barangku didaypacknya, untuk yang satu ini bukan karena kelelahan, aku sendiri sebenarnya ingin membawa keril biar berasa gitu muncaknya hehe. Tapi berhubung kerilku ternyata bermasalah, ada satu tali yang terputus sehingga tidak bisa menopang dan berdiri tegap dalam gendongan akhirnya kami pun sempat mempecking ulang barang bawaan tiga orang dan meringkasnya dalam dua daypack, karena kak Nisa dan Ihsan hanya membawa daypack yang kapasitas tempatnya tidak seluas keril, akhirnya terpaksa sleeping bag si ranger yang baik hati itu tidak bisa  dibawa dan tinggalkan di basecamp itu menemani si keril yang tidak bisa diikutsertakan dalam pendakian ini. Sempat sangsi dan khawatir jika kemungkinan terburuk nanti dia hipotermia di POS III karena tidak mengenakan sleeping bag, sekalipun ranger dan berkali-kali menaklukan Guntur jika tidak dengan safety dalam pendakian, kemungkinan itu bisa saja terjadi tapi tuturnya di POS III itu ada sleeping bag yang bisa ia kenakan sebagaimana tenda yang tinggal kami dirikan di POS III nanti. Meskipun aku sendiri saat itu tidak mengkomfmasi kebenaran itu. Ah pokoke hatur nuhun again, kamu mah bageur.

Guntur yang menggurat semangat, dengan fisik kami yang sebelum-sebelumnya sudah terkuras oleh rutinitas dan tidak sempat melakukan pemanasan dengan berolahraga cukup kepayahan dalam menaklukan Guntur terkecuali si Ihsan yang sudah terbiasa menaklukan Guntur. Terutama saat summit attack menuju puncak satu. Masya Allah tracknya sebanding dengan keindahan yang didapatkan diatas, naik terus sama sekali tak bertemu bonus. Dengan track yang penuh dengan bebatuan dan pasir. 





Menurut penuturan kawanku si Ranger yang baik hati tadi, normalnya perjalanan dari pos III tempat pendirian tenda sampai puncak satu 1 adalah 2,5 jam dengan catatan tanpa istirahat yang lama. Namun karena dalam pendakian ini menyertakan seorang newbie sepertiku yang muncak bagai kura-kura, perjalanan menuju puncak menjadi dua kali lipat dalam hitungan normal. Star dari Pos tiga kisaran jam 5 setelah shalat Shubuh sampai di puncak Satu kisaran jam 10an. Entah berapa kali aku duduk mengistirahatkan diri dan kemudian di hibur oleh Kak Nisa bahwa puncak 1 sebentar lagi atau 5 menit lagi. Lima menit apanya? yang ada lima menit rasa satu Jam. Dalam pendakian nekad bin dadakan ini kami pun menemukan kawan baru, perjalanan menuju puncak pun menjadi lebih ramai karena menemukan kawan baru. Dan satu lagi, Guntur ini pembuktian julukan itu, Pantas saja orang menyebutnya dengan kembarannya Semeru karena saat turun ada adegan yang mengasyikan yaitu berselencar dalam bebatuan dan pasir. Kapan lagi coba berselancar diatas bebatuan dan pasir jika tidak dalam pendakian Guntur?

Aku memang bukan pendaki sejati yang sejak dari nalurinya mencintai alam, mungkin aku hanya sebagian ada mereka yang terbawa angin segar tentang indahnya perjuangan merangkak keatas puncak, namun sekalipun aku adalah seorang pendaki newbie. Aku bisa memeluk erat pelajaran berharga, filosofi kehidupan dari sebuah pendakian bahwa hidup adalah perjuangan, berjalan merunduk disaat naik dan berjalan tegap disaat kita turun.

Dan pada akhirnya haiking bukan sebatas tentang mengabadikan gambar di atas puncak, kembali pulang dengan selamat adalah penting maka mengukur dimana kemampuan diri dalam pendakian harus tetap diutamakan dari sekedar menuruti ego diri untuk sampai diatas puncak. Perjalanan dari pendakian nekad bin dadakan ini akhirnya menyisakan PR, sampai di puncak satu kami menaklukan Guntur. Esok hari dengan cadangan energi dan persiapan yang lebih prima ingin kembali ku taklukan kembarannya Semeru, si mungil Guntur yang terjal.

Puncak satu

Bersama pendaki lain, summkit&turun bareng
Ceritanya istirahat
city light
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: