Pernikhan dari Lembaran Kertas

Kali ini mood saya tertarik membahas perkara berat, saking beratnya sering menggalaukan jomblo sejagat raya. Seriusan, perkara ini bukan masalah remeh temeh, mudah untuk menjadi topik obrolan, bahan tegur sapa yang empuk dijadikan canda tawa nan mencairkan, punch line asyik mengundang Gerrr berantakan meski terisi hati dengan tanya  kapan, kapan dan kapan? tapi sayangnya ini perkara yang  rrrrrruar biasaaaa, perjanjian agung yang bahkan terakui sakral oleh Al-qur'an. Menuntut diri dalam pembelajaran  yang rumit, lebih rumit berkali-kali kuadrat dari trigonometri yang njlimet itu. Bahkan saat ijab sah terikrar, proses belajar tiada pula mengenal kata ending. Yups betul sekali, pernikahan.

Setiap orang mungkin memiliki impian akan pernikahannya, sudah buang CD Drakormu kalau yang menghiasi benakmu masih berkutat, sosok pangeran nan rupawan yang baik hati dan bangsawan. Opa, hidup ini tak seindah drama korea. Dan aku persempit ruang racikan kata dalam tema ini, pernikahan yang kita upayakan sebagai jalan para mujahhid mencetak arsitek peradaban.

Wahai kita yang berada dipersimpangan jalan, kita yang mengupayakan diri menjemput pernikahan dengan  keberkahan. Mengisi ruang penantian dengan sebaik wasilah mendatangkan kebaikan. Mari bersama menghilangkan ragu,  yakinlah pernikahan yang kita jemput ke-barokahan-nya bukan membeli kucing di dalam karung. Iya, harapan kita tinggi bahwa puncak pernikahan yang kita ndaki, bukan sekedar mengubah status dari single menjadi doeble. Tapi menggenap dalam agama dengan jalan sunnah tanpa proses yang di haramkannya menuju cintaNya.

Aku selalu kagum kepada mereka yang diperkenalkan oleh lembaran kertas, bertemu pertama kali ketika nadhor dan yang kedua pada akad. Sama sekali tidak mengenal sebelumnya, seolah ada yakin yang menggerakan bahwa dia adalah yang tertakdirkan. Aku pernah merasa diintipi tamu yang bernama ragu. Berspekulasi pada waktu yang belum terwujud, nanti esok yakinku itu hadir dariNya ataukah dari nafsu?oh iya, lembaran kertas itu mampukah merepresentasikan diriku sebenarnya? ada banyak kurangku yang belum tertuang disana, mungkin pula nanti lembar kertas yang ku terima tak jauh bedanya, hanya sepersekian persen gambaran utuh dari Mr. X itu. Terhempaslah hush, hush sana. Akan kucoba memegang yakin bahwa pernikahan itu bukan membeli kucing dalam karung. Iya, aku si akhawat nakal ini masih ingin menjemput jodoh tanpa mengundang murka. Toh dengan jalan pacaran sekalipun watak asli akan nampak terlihat jelas setelah ijab sah terikrar.

Jalan Independet? Oia ini pun fenomena yang seolah menjadi jalan alternatif berikutnya, tanpa proses tukar kertas tapi cus langsung datangi objek. Tapi ingat yah ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Jangan PMDK, Penjajakan Mulu Jadi Kagak apalagi pacaran yang berkedok dengan taaruf. Tapi kita akhawat, gengsi dong ngedatengin langsung? Mari bercermin dari Bunda khodijah yang menjadikan Nafisah pihak yang menyambungkan ketertarikannya kepada Rasul. Begitulah ibrah mengisahkan, jodoh kita memang telah ditentukan tapi kitalah yang menetapkan jalannya. Aku tak pernah memvonis bahwa pernikahan yang barokah hanya dengan jalan pertukaran kertas. Ada banyak jalan menuju roma, selama kita mengambil jalan yang tidak menyesatkan Insya allah semoga barokah tetap menyertai.




Buffalo Hills, Cerita dibalik Cerita petualangan

Lagi-lagi kembali berpetualangan dengan perjalanan yang "terencanakan versi maju mundur cantik"  tak terduga dan dadakan. Fiksasi ngetrip malam menjelang keberangkatan . Tepat hari senin yang terpoles dengan tinta merah di kalender itu menjadi pilihan. Adalah Buffalo Hills objek dari petualangan reunian-an ini..
Reuni?iya reuni...Sedikit singkat dari cerita dibalik cerita petualangan ini. Genangan air besar yang orang megapolitan bilang sebagai banjir. Kemudian dipertemukaan dan mengeratkan persaudaraan, Adalah bunda aulia yang dipersaudarakan oleh hikmah dibalik genangan air besar saat menimpa Garut si Swiss van java. Dan Maya, dia sudah ku kenali sebelumnya, karena kami ada pada satu organisasi yang sama, hanya merasa begitu didekatkan oleh peristiwa genangan air besar itu, semenjak dari peristiwa itu kami berdua menjadi dua sekawan yang ngeklop, intensitas main bareng semakin menjadi meski sudah tak seoraganisasi, suka main-main tapi gak suka dimainin, eh. Gak lagi malu untuk curhat apapun yang ada kadang kami bedua malu-maluin duh...

Oh iya, kenapa selalu memilih reunian dengan petualangan?jika hang out  makan-makan, selesai acara kesannya pun sebatas hahahihih dalam obrolan yang ngalor-ngidul-wetan... hehe Tapi dengan petualangan bukan hanya hahahihi tapi hahahihihehehoho seneng, cape, menderita bareng-bareng. Yah begitulah, alam selalu punya kesempatan semakin mengeratkan. Dan lagi ada saja pertemanan baru yang dimulai dengan petualangan..


Kali ini tentang objek tempat petualang kita, Buffalo Hills. Tempat ini mulai ngehits karena ramainya orang-orang yang mengexplore keindahan tempat tersebut via sosmed. Tapi jangan terkecoh dengan picture yang booming itu. Dalam keduanya setelah yang pertama tak menuntaskan petualangan Buffalo Hills saya masih terkecoh. Seolah objek wisata saya kembali memakai sepatu anti-treckking. Tapak kaki bawah kerasa banget di elus-elus sama batuan tajam dari track perjalanan. Oh iya, dua teman baru saya dari team ekspedisi Buffalo Hills ini samasekali tak menyangka bahwa petualangan yang akan dilakukan akan sejauh itu, hampir menyerah meski puncak sudah terlihat didepan mata.  Percis dengan team petualang pertama saya mengexplore Buffalo Hills, perkiraan landai dan mulus, yah minimal kalau tak semulus jalan tol, serupa dengan Papandayan atau Karacak Valleylah, tapi oh tapi, tracknya minim bonus dan lumayan nanjak, iseng-iseng saya menyebutnya dengan Tegal Munding rasa Cikuray. Kita berangkat pagi, dan start mulai trecking jam 8an pun para bapak-ibu petani yang kami temui masih menyebut kesiangan. Nah iya kalian yang melakukan perjalanan kesini pasti akan menemui petani dan bu tani. Dan saya baru ngeh, wortel, tomat, kentang, cabei yang sering saya temui itu, ditanam dengan amat penuh perjuangan tapi kadang dihargai murah dalam pasaran. Misalnya saya sempat ngobrol dengan butani yang ditemui, beliau bercocok tanaman bisa setiap hari tapi panen hanya tujuh bulan sekali. perjalnan ini benar-benar mengingatkan akan Firman-Nya, "nikmat mana lagi yang kamu dustakan?".




Perjalanan pulang-pergi kami selalu menemui Ibu tani sama petani alhamdulillah mereka baik-baik orangnya. Ada yang memberi kami air, pisang juga tumpangan untuk shalat dzuhur juga sempat menawari kami untuk memberi bekal singkong. Ah Indonesia, betapa gotong royong itu begitu nyata kulihat dalam perjalanan ini..Dari para petani pula saya mendapat informasi, kenapa tempat ini diberi nama Buffalo Hilss, karena tempat ini tempat menggembala kerbau. Ada sekitaran 60 kerbau disana, kerbau-kerbau itu tidak dibawa pulang, tetapi di kembangbiakan di tonggoh (Sunda: atas) yang sekarang menjadi hits karena memang keindahan yang ditawarkan seperti menemui padang savana hijau luas yang mengademkan.


Untuk Informasi tempat ini lebih cocok disebut sebagai objek wisatanya para pendaki, teman baru saya juga salah seorang di team ekspedisi pertama, begitu kaget ketika sampai di pos pendataan dengan spanduk yang bertuliskan "Selamat datang di Camp Pendakian Buffalo Hills" (agak lupa percis tulisannya seperti apa, tapi pointnya seperti itu) itu bisa diartikan juga, selamat ber-ripuh-ripuh ria dan menikmati sensasi perjalanannya. Jangan menyamakan Buffalo Hills seperti PCG yang juga hits setelah viral di sosmed, atau bahkan papandayan sendiri yang hari ini lebih berasa sebagai objek wisata ketimbang gunung dan karena treck Buffalo Hills ini memang lebih "leklok" ketimbang Papandayan itu sendiri. Fyi, kami start treckking jam 8 dan sampai dibawah tempat pendataan juga parkiran motor jam setengah 4 sore bolehlah dihitung sebagai waktu tempuh pendaki amatir, tapi well Buffalo Hills tetap bukan objek wisata biasa melainkan objek wisatanya pendaki. Diluar teman baru yang menjadi bagian dari team ekspedisi, dalam petualangan ini pula, kami mendapatkan teman baru again, mereka para pendaki yang baru summit dari Guntur, dan kemudian sumitt buffalo Hill dan akan kembali menaklukan Guntur ahir April nanti, btw kalau sudah menjadi pendaki emang sulit move on yah untuk berhenti muncak ...

Dilematis seorang pengendali diri (mantan Kaderisasi dan atau Kaderisasi)

Salahsatu dari sekian perjalanan puzzle kehidupan yang menitipkan banyak hikmah juga bingkisan bernama kenangan adalah sepenggal episode bersama bunga haraki (Read: KAMMI), pernah ada satu masa pundak ini teramanahi sebagai seorang pengendali ( Read: Kaderisasi) . Singkatnya job desk mengendalikan dan menambah pasukan baik secara kuantitas ataupun kualitas. Entah itu mengendalikan dan atau menambah keduanya adalah tugas besar. Pada bagian kuantitas patokan jelas terukur, sekian orang.  Ada pandangan realistis yang menyelimuti kadang menjebak diri pada jiwa pesimis mencapai target.  Toh sudah menjadi karakterisik jalan juang para mujahid identik dengan sedikit, memakan waktu lama dan perjalanan yang panjang. Sehingga di lapangan, ini menjadi PR bersama apapun itu amanahnya. Mengajak dan menyeru pada kebaikan.

Pada tupoksi mengendalikan dilema itu amat terasa.  Pada bagian ini, jangan dikira ranah kualitas, tak memiliki patokan jelas yang menjadi acuan standar "para pengendali" dalam mengukur kualitas seseorang, sebut saja kader sesuai dengan marhalahnya (Read: jenjang) . Ada patokan khusus untuk mengukurnya, sesuatu yang kami sebut sebagai IJDK (indeks Jati Diri Kader). Persoalan itu dimulai, ketika kami para pengendali, harus mengendalikan diri juga mengendalikan mereka yang menjadi bagian dari "amanah ini".  Ibaratnya bicara IJDK aja masih mengeja sudah harus mengakar mereka memenuhi patokannya. Kalau mau ngasih bocoran kaya gimana point IJDK yang menjadi standar bagi seorang kader. Siap-siapin sapu tangan bukan mau nagis sih, yah minimal untuk alat tutup muka. Horor emang? Gitu dech meski  itu sebenarnya menjadi cambuk  pemacu lecutan agar segera meng_ugrade kapasitas diri. Kaya gimana emangnya? Sebenernya sih rinciannya panjang. Ini sedikit contohnya, Gak boleh pacaran/ HTS-an, gak boleh merokok, pegang hafalan, tertanam jiwa haroki yang menjadi paket ekstranya karena wajihah ini (Read:Kammi) berisikan para pembelajar cepat, ada PR yang tak terhenti pada pribadi Islami tetapi meluas menjadi muslim negarawan. Bisalah kebayang gimana susahnya menjadi seorang yang bisa terkatagorikan muslim negarawan dan kemudian mencetak " mereka" sebagai pribadi muslim negarawan. 

Bicara idealita, jangan pernah membenci realita, karena mengingat dan mengulang idealita adalah langkah awal menggapainya menjadi nyata. Mengingat goal settingnya muslim negarawan, banyak treatment khusus yang harus dilakukan. Misalnya mantuba, what this is? bisa disebut sejenis makhluk per-buku-an dengan tema-tema Islam dan kenegeraan. Nambah lagikan PR bacaannya. modul kuliah, mantuba,  skripsi. Terlebih jika ditemukan pasien yang alergi baca buku kenegaraan, atau parahnya justru "si pengendali" sendiri yang diharapkan menjadi dokter malah terserang penyakit sama karena bertentangan dengan passionnya. Akhirnya teralami juga oleh diri pribadi bagaimana dilematisnya memiliki  hobi baca novel tapi dituntut membaca modul-modul kenegaraan lalu kemudian memastikan "mereka" melahap suplemen yang sama. See, kebayangkan dilematisnya? wait. Ada yang lebih mendilematiskan dari persoalan ini.
Kalian para pengendali, eh ralat kosakata kalian ( Read: kaderisasi) bisa menjadi kita karena kata pengendali ini bisa juga merajuk untuk umum. Setiap kita adalah pengendali, mengendalikan diri yang juga sebenarnya teramanahi pula untuk mengendalikan alam sekitar. Kita harus mulai membiasakn diri kebal pada bahasa, "urus aja diri sendiri" duh maunya sih gitu kaya Pak Pres yang dulu  sanggahannya pernah hits, "Bukan urusan saya". Nyatanya hidup bukan hanya tentang seorang diri. Eh tapi kemudian  menemukan untaian hikmah dari sahabat Rasul yang satu ini.

" Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya. Sibuklah dengan diri kalian, perbaiki aibmu ( Ali bin Abu Thalib)". Prit, disana letak dilematisnya. Permainan hati kadang dimulai. Bismillah, mawas diri dan terus berbenah. Sesekali mempertanyakan benar atau salah dan atau seharusnya bagaimana? Inilah sepenggal pembelajaran berharganya yang tak ditemui pada SKS mata kuliah.
Kembali dalam ranah pengendali dalam  arti struktural. Pernah sesekali dengar statment yang seperti ini, orang-orang kaderisasi harus memiliki track record yang aman, selesai dengan masalah diri, lebih extrim orang kaderisasi  biasanya yang sholeh-sholeh. Duh rasanya pengen demo dech. Manabisa selesai dengan diri sendiri? Lalu aman, dan sholeh. Rasa-rasanya jika itu menjadi prasyarat menjadi seorang kaderisasi akan sulit menemukan orang yang berkapasitas menyandang amanah sebagai pengendali tadi. Karena itu perkara yang  menjadi PR panjang sampai menutup mata.
Point tadi pula sebenarnya bisa disubsitusikan pada kondisi kita yang hakekatnya sebagai seorang pengendali. Bukan karena kita sholeh lalu menasehati, tidak pula karena merasa belum sholeh lalu kita abai terhadap saudara sekitar. Karena surga terlalu luas untuk kita jejali seorang diri. Kepo-lah secara adil yang pada tempatnya. Atau pilihlah kepo is care. Karena kepo atas motif kepedulian tidak terdefinisikan prilaku yang menyebalkan. Hanya saja tentang bagaimana kita menanggapi persoalan saudara, ada adab dan etika yang harus kita jaga. Tutup aibnya dan nasehatilah secara pribadi dari hati ke hati, oke mari kita belajar menjadi pengendali diri yang tak pernah  usai dan tak sebatas pada diri. Mengutip qoutes bang Tere Liye, seseorang yang hebat bukan dia yang bisa mengendalikan udara, air atau api tapi hati.

Awas, Jangan Mendaki !

Mata ini menemui sesuatu yang menarik perhatian, sebuah meme pendakian berisi warning...
Dalam captionnya disebutkan bahwa pendakian bisa menyebabkan kelelahan, kurang tidur, kantong kering dan kalimat terakhir sebagai punch line yang terasa menyentak, susah mendapatkan jodoh *gedubrak
Well, mari kita verifikasi...
Point 1-3 adalah hipotesis yang mendekati kebenaran, sejauh mata memandang dalam perjalanan pendakian. Hoax kalau mendaki gak capek, bisa tidur pulas dan gak bikin kantong jebol.
Cape karena track yang dilalui gak semulus jalan tol, mirip jalan kehidupan gitu dech, ditambah juga dengan beban keril yang membawa logistik dan perbekalan. Emang sih gak seberat beban hidup tapi cukuplah membuat hayati lelah...
Tidur pulas, emang situ kira digunung ada hotel? Yang ada was-was takut binatang buas muncul, sesosok makhluk yang tak dikenal dan bisa membuatmu birigidik (in english, bulu roma berdiri), atau si Hipo datang bersama angin yang membelai mesra dan membawa kedinginan pada sekujur tubuhmu, ( etdah bahasa, mana maenstream pula)
Kantong kering, jelas banget secara dari alat-alatnya saja udah bikin alis berkerut, Jangan ngarep  bisa dapat harga cincai, mau nego sulit say. Belum akomodasi atau transfor menuju gunung yang biasanya melewati bukit dan lembah. Udah dech dijamin kena penyakit penyempitan pembuluh dompet pastinya, karena kalau kanker terlalu maenstream haha...
iya, oke itu semua benar tapi dari pengalaman sih, bukannya kapok malah bawa virus candu alias bikin ketagihan..
Sedikit curcol yah, pengalaman pribadi sih awalnya cuma mupeng papandayan. Kebetulan odoj bekasi bikin event khataman dipapandayan, ikutanlah akhirnya, dapat cerita banyak disana dan oleh-olehnya yah itu bawa virus candu ngedaki, lengkapnya nih disini..
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/05/papandayan-yang-membawa-candu-muncak.html

Selang kemudian, bulan Mei kembali dapat ajakan ngeguntur, karena kebetulan bulan muda dan pas hari libur nasional, Moment-able bukan tuh, cus aja berangkat. Meski yang itu bener-bener nekad dan dadakan, wong alat-alat dan tendanya baru dapat saat malam menjelang besok keberangkatan. Itu pun cuma bertiga, mini team banget kan... Kurang nekad bin dadakan apa coba?
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/12/pendakian.html

Nah berhubung Garut terkenal dengan pagucinya. Jadi ngerasa tanggung aja kalau cikuray belum di khatamin..
Fiks februari kemarin pun berkesempatan ngerasaain terjalnya Cikuray yang dikit-dikit nanjak. Beda dikitlah sama si cantik eldewies, kalau papandayan dikit nanjaknya. Nah kalau cikuray dikit-dikit nanjak, dikit-dikit nanjak gitu aja terus sampe puncak. Naik tiada akhir dengan bonus lutut ketemu dagu. Kalau hujan kamu dapat double bones dengan track yang licin... Muantappolllll.....
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2017/02/cikuray-pendakian-mental.html
Apapun itu cerita perjalanannya, dari satu pendakian ke pendakian lain bawannya sulit move On, pantesan aja yah para pendaki sulit ngambil keputusan pensiun? Apa baru jika ancaman terakhir dari meme itu benar, bisa bikin kapok ngedaki? Tapi untungnya sih point terakhir hoax, yakin aja sama Allah. Jodoh udah ada yang ngatur kok..

Mau pensiun? Engga dech, insya allah ada masanya gantung keril dan cuti panjang dlm pendakian..

Cikuray, Pendakian Mental


Sabtu -minggu kedua dalam Februari ini, keputusan telah diambil. Iya, untuk  reuni kembali dan atau mendapatkan kawan baru di Cikuray. Iya Cikuray adalah perjalanan yang terpilih.
Cikuray, gunung tertinggi di kota Garut. Kita tidak sedang unjuk pembuktian diri sebagai seorang yang kuat. Karena nyatanya setiap jengkal yang dijejaki akan memojokannmu sebagai seorang yang lemah. Hanya satu yang harus kau camkan, jika gunung yang menjulang tinggi itu bisa dibawah tapak kakimu. Masih pantaskah kita merasa kehilangan semangat lalu meng-underestimate-kan diri? Peduli apa dengan penilaian orang, sudah tutup saja telingamu. Teman, rendah hati itu boleh tapi rendah diri jangan.
Cikuray dengan via stasiun pemancar adalah rute yang kami pilih. Ada beberapa pilihan untuk mendaki Cikuray. Via pemancar "yang katanya standar tapi lebih jauh" atau via bayongbong yang tracknya  luar biasa mempertemukan dagu dan lutut tapi lebih dekat". Kita yang kumpulan pemula tentu lebih memilih track yang standar itu, daripada yang luar biasa, karena kurasa sedekat apapun puncak terlihat, tetap saja dekat di mata jauh di kaki. Eeeaaa

Team Cikuray,
Oke, perkenalkan team dalam pendakian Cikuray ini. samping kiri guide kami yang luar biasa mendampingi kumpulan pendaki yang satu dua langkah sudah haheho. Ada kang Andri, kedua Ifah dengan nama gunungnya sasmiati, Sri dengan nama gunungnya Kokom, Alfi dengan nama gunungnya ijem, Anista dengan nama gunungnya Angel, saya sendiri Resti dengan nama gunung Umbrella, dan Khodijah dengan nama gunungnya nenek, dan paling ujung yang tak kalah luar biasanya menyertai kami dengan penuh kesabaran adalah kang Oki.
Tapi eh tapi,  standar yang menjadi relative itu bukan hanya urusan kecantikan tapi juga dalam pendakian. Bagiku tracknya luar biasaaaaaaaaa. Sampai saat ini, Cikuray adalah pendakian yang ter-ripuh  dalam catatan hati seorang pendaki newbie yang kumiliki sepanjang episodenya bergulir. Entah faktor cuaca, faktor x, atau faktor y pokoknya serumit memecahkan persamaan linear matematika.

Hujan, Kamu suka hujan? Biasanya hujan adalah moment terhanyutnya seorang dalam kenangan, atau sekedar waktu untuk bersenandung ria. Mengasyikan bukan? Tapi, hujan di bulan februari ini memberi memori tersendiri, mengingatkan  akan angin badai yang bertiup kencang. Hujan dalam pendakian kemarin adalah moment saat track tanpa bonus, tak ada jalur landai  menjadi licin, medan curam, dan angin badai. Di tambah dengan jarak pandang yang menipis karena kabut mirip dengan masih tak terlihat jelas hilal jodoh *curcol colongan* adalah tantangan luarbiasa untuk menempuh puncak 2821 MDPL Cikuray.

Lagi, alam selalu memiliki kesempatan,
Mengeratkan. Mengganti asing menjadi kawan.
Biarkan, agar esok hari ada kisah nostalgia yang bisa kita ceritakan.
Tentang perjalanan jatuh bangun, merangkak ke atas dan turun perlahan...
Angin badai, terjal dan curam jalanan, fisik yang habis terkuras menjadi pemanis ceritanya, jejak perjalanan tanpa rekaan, sebenarnya cerita tentang filosofi kehidupan..Ini alasan kenapa pendakian Cikuray ini, bisa bernamakan pendakian mental. Seberapa jauh mental kita kuat untuk menghadapi aral melintang dalam pendakian Cikuray ini.

"Nak, ibu pernah kesini " adalah caption kita bersama. Karena ini adalah perjalanan kita bersama. Bagian dari cerita yang akan terkenang. Kembali tentang bagaimana pendakian Cikuray ini ditempuh, karena  perjalanannya luar biasa, hampir mendekati sore kami baru sampai di post tiga. Dan memutuskan untuk camp disana, agak beresiko apabila tetap untuk melanjutkan perjalanan ngetrack atau mengambil lokasi camp dekat dengan puncak karena semakin sore angin semangin kencang dan gelap malam menjadi ancaman berikutnya.
Menjelang malam angin badai bertiup, dan semakin ngeri jika sampai babi hutan berkeliaran, maklum Cikuray adalah Gunung dengan tipe hutan yang masih asri. Kang Andri menuturkan, ini adalah rumahnya. Bukan mereka yang mengganggu. Para pendakilah tamunya yang tak boleh mengganggu rumah mereka. Sekalipun Kang Oki menuturkan, daerah rawan babi adalah pos 5 & 7 tetap saja kecemasan tidak bisa dihilangkan.  Jam dua dini hari, kami bergegas untuk summit menuju puncak, apa daya meskipun malamnya kang Andri  telah menyiapkan menu sahur, summit baru kita lakukan jam 4 dini hari. Dan butuh waktu hampir lima jam untuk sampai di puncak Cikuray. Telinga sudah amat kebal jika ada bertutur semangat kak, puncak sebentar lagi. Serasa kalimat hoak bhuahahah. Yah meskipun sampai di puncak, samudera awannya tertutup oleh kabut. Cikuray memang terkenal dengan negeri diatas awan, tapi tak menemukan keelokan awan disana tak mengurangi kesan yang amat berharga dari pendakian Cikuray ini.

Awan atau sekedar mengabadikan diri diatas puncak, bukanlah tujuan. Itu hanya bonus. Saat turun perlahan karena cuaca dan langit malam yang menyapa, medan menjadi berkali-kali extrim daripada saat merangkak naik ke puncak dan menjadi bagian yang tak akan terlupakan. Jika Nice Pic yang menjadi incaran, Kami mendapatkan City Light pengganti awan yang tertutup kabut, sisi lain yang di tawarkan oleh Cikuray selain awannya, jari-jemariku tak sempat mengambil nice epik dari panorama yang indah. Biarlah mata ini mengambil langsung lukisan alam mahakarya sang pencipta yang tak tertandingi. Karena sekali lagi, pendakian bukan sekedar bagaimana mengabadikan diri diatas puncak. Tetapi bagaimana perjalanan berkawan dalam pendakian dan pulang dengan selamat adalah harapan utama dalam pendakian.

Guntur, Pendakian Nekad bin Dadakan



Bahagia itu mendapati kalender merah  tepat di awal bulan, ah rasanya tuh seperti menemukan air  saat tengah kehausan di lembah Gurun Sahara. *Hiperbola.  Tapi seperti itulah gambarannya,  rutinitas yang dilalui terkadang menjebak kita dalam mengurangi radar kefokusan, meskipun aku pribadi sudah dari zaman purba-nya terlahir dengan ketelitian yang minim, kesalahan yang disusul dengan kesalahan berikutnya akhirnya menghiasi rutinitas kerjaku. Oke fiks aku tersadar,  mungkin iya aku kurang piknik.  Dan rabu itu ajakan haiking ke Guntur itu hadir. H-2 dari pendakian. Dari sinilah bermula sebuah label itu, pendakian nekad bin dadakan.

Telah kita ketahui bersama, setelah film 5 cm itu meledak di pasaran, Haiking menjadi trend baru anak muda dan  tanggal merah 5-6 Mei dengan sabtu sebagai tambahan hari libur kejepit nasional otomatis bisa menjadi hari pendakian Nasional, ini terlihat dari ramainya grup-grup pendakian di sosmed  juga hilir mudik orang berdatangan di terminal Guntur Garut dengan kelir sebagai tengtengannya. Imbasnya  sebagai pendaki  newbie yang tidak memiliki sama sekali kelengkapan alat-alat outdoor  akan ditambah dengan  kesulitan menemukan tempat penyewaan alat-alat outdoor karena dapat dipastikan sudah on booked. Dan benar saja, mulai dari kawan yang memiliki kelengkapan haiking,  meski  tidak mendaki  pada hari libur tersebut, kebanyakan alat-alatnya telah dipinjamkan. Bersyukur masih mendapatkan pinjaman sleeping bag+matras+sendal gunung. Eh buset gak modal amet yah semua pinjaman, maklum pendaki newbie hehe *ngeles. Kelengkapan berikutnya yang krusial harus ada adalah tenda.  Dari empat tempat sewa alat-alat haking sampai kamis malam dengan rencana keberangkatan jum’at yang aku telusuri semuanya sold alias sedang digunakan, artinya jelang dari rencana keberangkatan esok hari tenda masih belum ada ditangan.

Sedang pendakian tidak mungkin di cancel, kak Nisa (temn pendakian nekad bin dadakan) cuma satu orang tanpa rombongan telah on the way dari kota asalnya dari Jakarta menuju Garut. Kalangkabut malam jum’at itu aku mencari-cari tenda. Bersyukur Allah mengingatkanku kepada kawan lama, teman seperjuangan ketika di kampus. Aku tahu, dia sering haiking.  Alhamdulillah disetiap ada kemauan pasti ada jalan. Bukan semata mendapatkan tenda, pendakian nekad bin dadakan ini pun mendapatkan guide expert-nya. *hatur nuhun Bro...

Jum’at pagi dengan semangat menggebu menaklukkan puncak gunung Guntur, aku memulai pendakian nekad bin dadan ini dengan mengambil jalur post tanjung, salah satu jalur resmi dari pendakian gunung Guntur.  Saat menaiki angkot leles yang akan membawa ke base camp Umi Tati, dengan keril lama  yang ku bawa mudah sekali mamang supir mengenali tujuan perjalanan kami meski tidak berombongan. Mamang supir berbaik hati memberi tawaran untuk mengantarkan sampai base camp Umi Tati. Kesepakatan harga pun terjalin. Deal. Tapi ternyata mamang supir ini tidak menurunkan kami sampai di base camp Umi Tati, menurutnya jaraknya sudah hampir dekat dan bisa di tempuh dengan jalan kaki. Thart’s right ceritanya aku di PHP-in, duh sedinya. Tapi yah gais, kita tidak boleh  membuang emosi dengan kemarahan yang percuma, energiku tak boleh terkuras dengan hal sepele ini, anggap saja pemanasan.  Well, akhirnya pertolongan itu datang, ada  satu truk yang membawa pasir berbaik hati berhenti tepat dihadapan kami dan bersedia membawa kami sampai di base camp Umi Tati dengan gratis.

Sesampai di basecamp aku dan kak Nisa menunggu kawanku yang bernama Ihsan, nah kali ini kita dapat ppersonil baru dalam pendakian nekad bin dadakan ini,  cukup lama sebenarnya kami menunggu jika dihabiskan untuk menonton film mungkin akan sampai pada akhir tayangan, namun tak mengapa lamanya kami menunggu tidak ada apa-apanya dengan jasanya dia yang sangat membantu mensukseskan pendakian nekad dan dadakan ini.  Kali itu ia terpaksa harus direpotkan berkali-kali lipat oleh pendakian ini, dari mulai mencarikan tenda, mencarikan spirtus untuk memasak sekaligus memandu kami untuk memasak (karena gak bisa nyalain nestingnya, maklum nestingnya sejenis trangia bukan nesting biasa hehe *lagi-lagi ngeles) yang juga merangkap sebagai  pemandu perjalanan,  mendirikan tenda sampai membawa barang-barangku didaypacknya, untuk yang satu ini bukan karena kelelahan, aku sendiri sebenarnya ingin membawa keril biar berasa gitu muncaknya hehe. Tapi berhubung kerilku ternyata bermasalah, ada satu tali yang terputus sehingga tidak bisa menopang dan berdiri tegap dalam gendongan akhirnya kami pun sempat mempecking ulang barang bawaan tiga orang dan meringkasnya dalam dua daypack, karena kak Nisa dan Ihsan hanya membawa daypack yang kapasitas tempatnya tidak seluas keril, akhirnya terpaksa sleeping bag si ranger yang baik hati itu tidak bisa  dibawa dan tinggalkan di basecamp itu menemani si keril yang tidak bisa diikutsertakan dalam pendakian ini. Sempat sangsi dan khawatir jika kemungkinan terburuk nanti dia hipotermia di POS III karena tidak mengenakan sleeping bag, sekalipun ranger dan berkali-kali menaklukan Guntur jika tidak dengan safety dalam pendakian, kemungkinan itu bisa saja terjadi tapi tuturnya di POS III itu ada sleeping bag yang bisa ia kenakan sebagaimana tenda yang tinggal kami dirikan di POS III nanti. Meskipun aku sendiri saat itu tidak mengkomfmasi kebenaran itu. Ah pokoke hatur nuhun again, kamu mah bageur.

Guntur yang menggurat semangat, dengan fisik kami yang sebelum-sebelumnya sudah terkuras oleh rutinitas dan tidak sempat melakukan pemanasan dengan berolahraga cukup kepayahan dalam menaklukan Guntur terkecuali si Ihsan yang sudah terbiasa menaklukan Guntur. Terutama saat summit attack menuju puncak satu. Masya Allah tracknya sebanding dengan keindahan yang didapatkan diatas, naik terus sama sekali tak bertemu bonus. Dengan track yang penuh dengan bebatuan dan pasir. 





Menurut penuturan kawanku si Ranger yang baik hati tadi, normalnya perjalanan dari pos III tempat pendirian tenda sampai puncak satu 1 adalah 2,5 jam dengan catatan tanpa istirahat yang lama. Namun karena dalam pendakian ini menyertakan seorang newbie sepertiku yang muncak bagai kura-kura, perjalanan menuju puncak menjadi dua kali lipat dalam hitungan normal. Star dari Pos tiga kisaran jam 5 setelah shalat Shubuh sampai di puncak Satu kisaran jam 10an. Entah berapa kali aku duduk mengistirahatkan diri dan kemudian di hibur oleh Kak Nisa bahwa puncak 1 sebentar lagi atau 5 menit lagi. Lima menit apanya? yang ada lima menit rasa satu Jam. Dalam pendakian nekad bin dadakan ini kami pun menemukan kawan baru, perjalanan menuju puncak pun menjadi lebih ramai karena menemukan kawan baru. Dan satu lagi, Guntur ini pembuktian julukan itu, Pantas saja orang menyebutnya dengan kembarannya Semeru karena saat turun ada adegan yang mengasyikan yaitu berselencar dalam bebatuan dan pasir. Kapan lagi coba berselancar diatas bebatuan dan pasir jika tidak dalam pendakian Guntur?

Aku memang bukan pendaki sejati yang sejak dari nalurinya mencintai alam, mungkin aku hanya sebagian ada mereka yang terbawa angin segar tentang indahnya perjuangan merangkak keatas puncak, namun sekalipun aku adalah seorang pendaki newbie. Aku bisa memeluk erat pelajaran berharga, filosofi kehidupan dari sebuah pendakian bahwa hidup adalah perjuangan, berjalan merunduk disaat naik dan berjalan tegap disaat kita turun.

Dan pada akhirnya haiking bukan sebatas tentang mengabadikan gambar di atas puncak, kembali pulang dengan selamat adalah penting maka mengukur dimana kemampuan diri dalam pendakian harus tetap diutamakan dari sekedar menuruti ego diri untuk sampai diatas puncak. Perjalanan dari pendakian nekad bin dadakan ini akhirnya menyisakan PR, sampai di puncak satu kami menaklukan Guntur. Esok hari dengan cadangan energi dan persiapan yang lebih prima ingin kembali ku taklukan kembarannya Semeru, si mungil Guntur yang terjal.

Puncak satu

Bersama pendaki lain, summkit&turun bareng
Ceritanya istirahat
city light

Menggapai Hijrah

Adalah benar bahwa hijrah adalah proses panjang tapi tak berarti juga menjadi alasan menunda hijrah
Adalah benar pula bahwa hidup penuh dengan rintangan karena yg banyak rantangan itu namanya catering, ups *kidding dikit boleh kali, abaikan kalau joke itu sudah maenstream.
Hijrah adalah sebuah perjalanan. Yang panjangnya tak terukur oleh satuan KM. Istiqamah adalah ongkos untuk perjalanannya. Dan Firdaus adalah muara akhir tujuannya.  
Karena kita yang menentukan dan Allah pun menetapkan....
Eh bentar definisi dari hijrah dari itu sendiri belum dibahas, yuk mari kita kupas,  cekiddottt !
Dari kajian yg pernah diikuti, hijrah didefinisikan dalam dua konteks, pertama perpindahan tempat sebagaimana rasul pernah berpindah tempat dari mekah menuju madinah..
Sedang definisi lainnya terkait konteks makna yaitu perubahan menuju perbaikan, dan setiap orang tentu ingin mengupayakan menjadi lebih baik, gak mau dong menjadi orang yang merugi? Yups benar, karena jika hari ini masih sama bahkan lebih buruk dengan hari kemarin adalah kerugian pun sebaliknya yang hari esok lebih baik dari hari kemarin adalah  keberuntungan
Nah ketika kita melangkahkan kaki untuk berhijrah so pasti kita menemui rintangan, bener apa betul ??
Kadang definisi berat dan rintangan tersebut menjadikan kita stag dan melakukan pemakluman, misalnya kaya gini nih, Da aku mah apa ath segini ge udah uyuhan.. Please gais, untuk urusan akherat jangan mau minimalis yah. Firdaus masih bisa menampung banyak orang kok !
Rintangan tersebut akan terus menjadi berat selama kita tidak menghadapinya, katakanlah berhijab.
Dulu mulanya dia adalah hal yang berat untuk dilakukan, bener gak? kan gak ujug-ujug lahir langsung berhijab? dan nyatanya setelah mulai mengenakannya. Sedikit demi sedikit gak kerasa lagi beratnya untuk berhijab dan hijab  mulai bisa menjadi bagian dari kita. Apalagi sekarang hijab syar'i mulai menjadi trend fashion. Senang kan kalau kamu bisa mnegikuti syariat agama sekaligus gak ketinggalan jaman? Aku sih gak masalah  dengan adanya trend hijab, setidaknya syiar hijab menjadi booming daripada fashion yoo can see yang menjadi trend centter mending hijab kemana-mana, masalah  berbondong-bondong wanita mulai berhijab karena trend. Tak apa,  Allah maha baik, selalu memberi kesempatan hambaNya untuk memperbaharui niat, imbangi dengan syiar bahwa sebaik-baik berhijab adalah untukNya bukan untuknya.
Ukuran berat dalam definisi pria biasanya adalah rokok, berat yah untuk pensiun dari rokok? Aku gak perlu yah review ulang bahaya rokok, toh dia sendiri udah nemplong dikemasannya, dan hei ramadhan aja bisa tuh berhenti di siangnya, kenapa tidak dilanjutin sampe malamnya...
Atau pacaran? yang bisa menjadi berat baik untuk wanita atau lelaki ..
Gini yah, kalau urusannya dengan virus merah jambu, cuma dua solusinya. Sudahi atau nikahi? berat untuk nikah? Ya udah puasa, simple kan?engga.. Ya udah asyikin aja jadi jojoba, jomblo-jomblo bahagia, kan enak gak direncongin oleh orang lain, berisik kali kalau setiap menit ada yang nanyain lagi apa? atau ucapan gombal met pagi, met malam, situ customer service yah? jomblo asyikin aja,
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/09/jomblo-asyikin-aja.html

Katanya sih gak semudah itu, lalu semudah apa dong, semudah mengembalikan telapak tangan?
Guys gini yah, setiap kita punya definisi dari apa yg menjadi tintangan terbesarnya dalam berhijrah, aku mah sih masih mending gak dihadepin dengan resiko dipecat dari jabatan untuk berhijab misalnya, kehilangan karir atau jodoh karena beruntung ada dalam lingkungan yang support tapi tetap saja untuk sampai di titik ini tentu tidak ujug-ujug pasti ada proses yang dilalui, kalaupun dari kalian ada yang menghadapi resiko tadi, yakinlah Allah akan ganti dengan yang lebih baik, berkah dariNya jauh lebih baik dari patamorgana dunia.
Bahkan mereka yang sedang proses menata jalan hijrahNya, tidak serta merta telah sukses dalam berhijrah. Kita tidak pernah tahu ujung jalan dari perjalanan hijrah ini, tugas kita hanya taat.
Btw masalah ujian, pasca hijrah juga pasti nemu lagi ujiannya. Ada ujian istiqamah, setelah istiqamah level berikutnya semakin berat, dia harus menjadi qudwah bagi ummat. Well, ujian yag gak kalah beratnya itu ikhlas, jangan beralibi nunggu ikhlas untuk berhijab, karena tidak ada keikhlasan dalam kemaksiatan. so masih mau alibi hati untuk menunda perintahNya?
Well... Hidup itu memang bebas, bebas dalam arti memilih, memilih taat atau maksiat.. bukan bebas yang kebablasan.
Kadang kita pun asyik berlindung dibalik menjadi diriku sendiri, padahal dengan berhijrah tak mengubah karaktermu, hanya berpindah dari titik maksiat menuju titik taat, sebagaimana umar pasca hijrahnya tetap dikenal sebagai tokoh yang tegas dan kuat yang justru dengan kekuatan yang sudah menjadi karakternya menjadi semakin berkharisma dengan sentuhan cahaya Islam, saking kuatnya kharisma ketegasannya setan pun takut mengdapati Umar...
Oke guys mari jadikan waktu yang kita miliki sebagai momentum perbaikan, mari berhijrah.
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: