Kamu cantik, cantik...Dari hatimu



Cantik  itu dari hati atau inner-beauty terkadang hanya menjadi penghibur atas gelisah yang tersembuyi . Melihat kecendrungan ikhwan yang daya tarik mereka justru mengarah kepada Akhawat yang diberikan karunia lebih.  Pun dengan penggalan hadist yang terkadang menimbulkan kecemasan tersendiri untuk kaum hawa jika penafsirannya dengan ojektifitas panca indra mereka secara fisik. “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya” .  Terlebih saat kesadaran mereka memahami posisinya yang terpilih kemudian memilih sehingga kemungkinan-kemungkinan menjadi terpilih dengan realita kondisi fisik yang menurut mereka kurang cukup menunjang untuk bisa memenuhi kriteria dari hadist tersebut. Ini bukan perkara mereka kufur nikmat atau tidak legowo menerima ketetapan Allah. Tapi tentang insan yang Allah berikan karunia lebih sebagai “makhluk perasa”. Sekalipun sebenarnya tak selalu posisi akhawat harus dulu terpilih kemudian memilih sebagaimana khadijah  yang memilih menyampaikan ketertarikannya terlebih dahulu kepada Muhammad.  


            Betapa kita mungkin terjebak dalam definisi cantik seperti yang sering digembor-gemborkan oleh media, kulit putih, hidung manclung dan tubuh yang ideal.  Tidak hanya untuk orang ammah semata, Jika boleh jujur bukankah kita yang tersebut sebagai penyeru amar ma’ruf nahi mungkar  pun acap kali terjebak pada definisi cantik tersebut. Cerita dari rangkaian fakta yang gagal melanjutkan pernikahan  karena alasan fisik. Pun saya dibuat kaget melihat contoh-contoh proposal yang itu adalah nyata dimana point-point dari kriteria calon yang diidamkan mensyaratkan cantik, tanpa bermaksud menyalahkan atas fitrah yang memang Allah karuniakan kepada hambaNya untuk  harapan memiliki pendamping yang sholehah nan cantik.


            Duhai ukhti, tak perlu risau dengan definisi cantik tadi, definisi yang justru akan hilang dimakan waktu. Anugrah dibalik itu adalah bahwa dia yang kelak akan menjadi imammu memilihmu sebagai pendampingnya bukan semata karena fisik. Dan terkait penggalan hadist tadi, untuk menjadi yang menyenangkan dipandang tak serta merta mensyaratkan mutlak kau harus cantik secara luaran, tapi mensyaratkan  dalam pengupayaan kita sebagai wanita yang senantiasa menjaga dirinya untuk menyenangkan suami.


Ada yang kehilangan kepercayaan dirinya hanya karena merasa belum cantik secara fisik lantas mempertanyakaan keadilan kenapa kecantikan yang secara give itu tidak diberi untuk setiap wanita padahal ada kecantikan yang jauh lebih berharga dari sekedar cantik secara fisik..

Tapi baiklah saya samakan frekuensi bahwa cantik adalah sesuatu yang give/ anugerah dari Allah tapi hai apakah itu masih menjadi nikmat ketika cantikmu mengundang pandangan liar dari lawan jenismu dan selalu ingin mendekatimu dan kau pun terbuai dengan rayuan maut mereka?

Cukup kuatkah engkau untuk mendapatkan pandangan liar?

Cukup kuatkah engkau untuk didekati mereka atau parahnya mendaparkan gangguan dari mereka?

Beruntunglah engkau kelak dia yang akan menjadi imammu bukan melihatmu dari hanya sekedar cantikmu..

Dan apakah cantik seperti itu masih menyenangkan sekalipun akan lekang oleh waktu? Bukankah untuk menjadi istri yg sholehah yang jika dipandang menyengankan itu tak mengsyaratkan kau harus cantik secara fisik?

Dan kau pun berhak untuk cantik..cantik yang tak akan sirna meski di usia senja..

kamu cantik..kamu cantik dari hatimu

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: