Ketika Wanita Menjadi Arsitek peradaban di Parlement


 Tak terbantahkan lagi bahwa sang arsitek peradaban itu bisa juga bernama wanita, bukan karena semata darinya  lahir setiap orang-orang hebat itu yang kelak akan mengubah dunia tapi bagaimana peranannya baik sebagai sekolah pertama dalam miniature peradaban (keualrga) atau peranannya langsung di medan juang baik dalam ranah  social, pendidikan, politik ,budaya dan atau yang lainnya. Dan inilah kehebatan seorang wanita. Ketika tangan kanannya menggendong ayunan maka tangan kirinya mampu mengguncang dunia.  Wanita diberi kelebihan multitasking. Peranannya diluar domestik tak menjadi mengapa karena dunia wanita tak hanya sebatas sumur, dapur dan kasur selama kaidahnya terpenuhi bahwa kewajiban yang satu tak harus meninggalkan kewajiban yang lain. Mengutip rumus Einsten bahwa dalam kehidupan, kerap selalu ada nilai kontanta yang mutlak juga relatifitas yang bisa jadi nilainya berubah-ubah. Dalam konteksnya adalah seberapa tinggi pun jabatan struktural yang dimiliki oleh seorang wanita, dalam keluarga kendali bahtera tetap pada pria. Rumus itu pun berlaku juga untuk konteks prinsip politik, ada nilai mutlak yang tidak bisa diganggu gugat, ada pula nilai relatifitas yang bisa berubah dan diperlukan  penyesuaian diri agar tetap pada on the track-nya.
Berbicara masalah ke-berpartisipasian-nya seorang wanita dilaur ranah dometik memang menarik, terlebih dengan isu emansipasi yang nyaring mendengungkan kesetraan gender. Kehadiran wanita dalam parlemen misalnya diharapkan tidak sekedar memenuhi kuota komposisi semata tetapi juga memberikan warna politik. Bagaimana dia bisa menjadi peng-ubah dalam melakukan legislasi dan memiliki daya tawar untuk turut serta menyelesaikan permasalahan bangsa, khususnya isu wanita. Pada periode 1997-1999 perempuan yang menjadi ang- gota DPR RI berjumlah 54 o- rang dari 500 anggota (10,8%). Pada 1999-2004 jumlahnya 45 orang dari 500 anggota (9%).
Dengan semangat mendorong kuota 30% di parlemen, terjadi peningkatan jumlah anggota DPR pada periode 2004-2009, yaitu menjadi 61 orang (11,6%), dan pada pe riode 2009-2014 meningkat lagi menjadi 103 orang. Namun berbeda pada pariode 2014-2019, tren partisipasi parlementer wanita mengalami penurunan menjadi  97 atau sebesar 17, 32%. [1]
Kehadiran wanita di parlemen diharapkan bukan sekedar tuntutan porsi untuk komposisi menuju 30%. Ketika wanita tidak dipersiapkan secara mental dan pemahaman, dikhawatirkan kehadirannya disana hanya sebagai pelengkap saja atau bahkan yang paling mengerikan dijadikan korban atau tumbal politik akibat sebuah kepolosan sikap dan ketidakmengertian menyikapi keputusan politik yang harus dilakukan.
Wanita yang ketika kodratnya sebagai Ibu telah menjadikannya pandai mengatur keuangan rumah tangga, dan bukankah sifat itu dibutuhkan di senayan guna menghasilkan Rancangan Anggaran dan pendapatan Belanja Negara yang efektif dan Efisien. Wanita yang secara naluriah berjiwakan lemah lembut bisa mewarnai perpolitikan parlemen yang penuh dengan dinamika yang menguras fikiran dan emosi. Betapa kita mengharapkan dengan adanya suara-suara wanita di parlement bisa menepis suara bising dan kegaduhan di senayan, meski memang seharusnya senayan tidak boleh hening dan harus menjadi tempat yang gaduh untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Namun setidaknya kehadiran wanita di parlemen bisa menghindarkan adanya kegaduhan yang dipadukan dengan pacuan emosi yang menguras otot dan energi.
Masyarakat merindukan kehadiran wanita yang menjadi arsitek peradaban di parlement, Diplomat yang piawai mengaspirasikan keluh kesah masyarakat yang darinya tercipta output legislasi yang berpihak dan menyelesaikan permasalahan masyarakat, menjawab permasalah human tracfikking, kekerasan terhadap anak, kemiskinan, pendidikan dan segudang permasalahan lainnya.


[1] Data dari Perludem (Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi

Satu Putri, dua Raja


Aku adalah putri, seorang wanita biasa, bukan putri dari negri dongeng bahkan putri dari Hutama. Banyak hal yang tak aku sukai menjadi bagian dari Keluarga Hutama, adalah hal yang ku benci, pencitraan aku sebagai seorang putri yang harus  diperlakukan emas dan harus mendapatkan perhatian ekstra . Aku hanya ingin menjadi putri, seorang wanita biasa, bersahabat dengan siapapun dan apapun, bisa menikmati rinai hujan dengan bebasnya, mengendarai kuda bermesian roda dua, menikmati semilir angin malam dalam nuansa alam yang bersahabat, menaiki bukit terjal dan menjejakkan kaki di puncak gunung, melakukan apa yang aku sukai bukan melakukan apa yang menurutnya “aman”.

“Pah, aku mau ikut club volley yah disekolah?”Tanyaku
“Jangan Put, nanti kamu kecapaian olahraga berat seperti itu, mending kamu ikut les musik atau memasak saja?” jawab Sang komandon.

Sudah kuduga, jawaban seperti itu yang akan diberikan olehnya, entahlah kenapa background milter yang begitu kuat melekat pada ayahku tak lantas menjadikannya mendidikku secara “keras” tapi justru sebaliknya seringnya aku mendapati larangan-larangan semisal itu. Mungkin iya keras, keras dalam hal pelarangan  yang  justru menurutku lebih mirip sebagai pengukungan.

Dari semenjak aku kecil hingga saat ini, entah berapa banyak inginku  yang  terlewatkan , jika benar aku seorang putri seperti sangkaan mereka, kenapa terlalu banyak hal yang kuinginkan  tak bisa ku raih? aku yang tak bisa bermain lumpur-lumpuran,bermain hujan-hujanan,bermain riang di tengah terik matahari dan permainan lainnya.Setiap kali ku dekati teman-temanku, mereka menolaku dengan dalih takut mendapat marah jika aku dilibatkan dalam permainan mereka dari baby sisterku yang super  ketat menjagaku. Begitu pun masa remajaku. pernah ketika aku ingin ikut camping yang merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh semua siswa, pembina pramuka pun bisa memaklumi dengan mudahnya saat Ayahku langsung yang meminta ijin agar aku bisa untuk tidak mengikuti kegiatan Camping. Jika benar aku adalah putri, adakah putri yang terkurung dalam istananya sendiri?

Putri dari negri dongeng selalu menceritakan keindahannya, sang tokoh laksana seorang putri yang nyaris sempurna tanpa celah dan aku bukanlah putri dari negri dongeng tersebut. Tapi entah karena alasan apa, opini publik mencitrakanku bak seorang putri. Kadang ku dengar  bisikian yang menurutku berlebihan. Putri kamu itu beruntung keluarga yang harmonis dan menyayangimu, perhatian, kehidupan yang mapan, dan seabreg lainnya yang mereka sebut sebagai keberuntungan.





Tanpa mereka tahu bahwa aku disini tak bisa menikmati bebas setiap inginku. Bahkan aku pun bukan putri Hutama si anak tunggal yang penuh dengan keberuntungan itu. Dan sebelum aku tahu kenyataan yang sesungguhnya itu,  sudah sempat terbesit untuk keluar dari singgasana itu, untuk mencari sebuah angin kebebasan tapi ketika justru alasan telah aku temukan untuk meninggalkan istana itu dan menjemput Raja yang sesungguhnya, semuanya menjadi terasa berat. Teramat berat.

Ada rahasia besar di balik jati diriku yang baru saja ku ketahui, dan sangat ingin ku katakan tentang siapa Putri yang sesungguhnya. Tentang putri yang sesungguhnya tak seberuntung yang mereka kira,  Dulu aku masih samar melihat  arti sebuah ketulusan seorang kawan, karena ada nama Hutama dipundakku betapa banyak rangkulan yang ku dapatkan, namun jika kelak nama itu ku tinggalkan, masihkah mereka merangkulku? Aku sama sekali tak takut untuk kehilangan perhatian dan perlakuan emas mereka karena justru itulah yang aku harapkan agar ku bisa merasakan indahnya ketulusan yang sebenarnya dan tak terjebak pada keasingan dunia. Hutama yang selama ini ku panggil “papa”. Iya, aku bukanlah anak kadung darinya melainkan keponakan dari  Neysea, seseorang yang juga selalu ku panggil dengan sebutan “mama”. Iya aku adalah anak dari kakak kandungnya, “Mama Neysea” adalah adik dari ibuku yang telah meninggal. Dia menggantikan posisi kakaknya dengan sangat sempurna sesuai dengan amanah ibuku kepadanya.

Dia rela berbohong kepada Hutama demi aku, Neysea   berbohong padanya bahwa sebelum menikah dengan hutama, dia telah menikah dan akulah buah hatinya itu.Tak ada pilihan lain baginya selain berbohong, karena jika Hutama tahu bahwa aku adalah anak dari Hendra yang tak lain adalah Ayahku, Neysea khawatir dia menolak kehadiran putri dan mengabaikannya. Karena sepeninggal ibuku, ayahku menjadi rivalnya dalam mempersunting Neysea tapi karena nenek dan kakekku kecewa kepada ayahku yang lalai dalam menjaga ibuku. Ayahku disebut sebagai dalang kematian Ibuku, dia  yang menyebabkan ibuku jatuh saat hamil besar dan melahirkanku bukan pada waktunya dan juga membuatnya pergi untuk selamanya. Maka nenek-kakekku pun memilih Hutama sebagai pendamping Neysea. Tentu ayahku pun sedih, bukan karena  tak bisa mempersunting Neysea, yang menyakitkannya adalah  ia tak di izinkan untuk merawat anaknya sendiri oleh orangtua Neysea dan hal inilah yang membuatnya pergi ke luar kota untuk menumpahkah dan menghapus segala kesedihannya.

Selidik demi selidik Neysea pun tahu bahwa ayahku berkali-kali mencari informasi keberadaanku lewat nenek-kakekku, tapi mereka tak memberikan informasi yang di cari ayahku itu dengan alasan takut mengganggu rumah tangga Hutama. Ayah ku pun menjanjikan untuk tak menganggu rumah tangga Hutama tapi tetap saja nenek kakekku tak luluh-luluh juga maka ayahku pun meninggalkan jejak dan berharap aku bisa menemuinya.




Dan diam-diam aku pun menemuinya,tentu hanya Mama Neysea yang mengetahui kenekatanku karena dialah sumber informasi untuk aku bisa bertemu dengan rajaku yang sesungguhnya. Mama Neysea sangat memahami, bagaimana pun sejarah itu tak dapat dihapus dan aku memang harus mengetahui siapa raja yang sebenarnya. Saat ku menemuinya, berkali-kali airmata ini berderai.

Pertemuan yang sungguh mengharukan .Aduhai rabbi wajahnya itu menyiratkan kerinduan yang sangat. Aku ingin terus bersamanya, begitupun rajaaku, dia sangat mengharapkan keberadaanku di sampingnya.Tapi bagaimana dengan papa dan mamaku? Bukankah dia juga raja dan ratu diistanaku? Aku tak mungkin melupakannya. Iya, aku baru tersadar sekarang, bagaimana pun Papa Hutama begitu menyangiku, semua larangan itu adalah demi kebaikanku. Karena nyatanya aku adalah seorang pesakitan yang sangat tidak boleh kecapaian. Dan ini pun baru aku ketahui, itu semua adalah efek dari benturan keras saat ibuku hamil dulu, terkait apa nama penyakitku, lidahku terlalu sukar melafalkan istilah medisnya, aku tak berniat sama sekali untuk menghafal jenis penyakit itu, entahlah aku masih ingin merasa diriku seorang yang sehat, sejak dari dulu aku tak ingin berkawan dengan rumah sakit, tempat yang selalu justru mensuggesti orang sebagai orang sakit.

Mungkin Mama Neysea akan memakluminya tapi Papa? dia yang masih belum tahu bahwa aku bukanlah anak kandung dari Mama Neysea melainkan anak dari rivalnya dulu, Dia yang tak tahu bahwa aku pun telah menemui rajaku.. Aku dibuat bingung dengan semuanya.  Tapi  hati membisikan bahwa aku harus berterus terang akan semuanya. Bukankah kejujuran yang pahit lebih baik dari kebohongan yang indah? aku pun putuskan untuk jujur padanya jujur bahwa aku telah menemukan istana yang lain.. Jujur bahwa aku adalah anak dari rivalnya. Jujur bahwa aku ingin tinggal di istana baruku dan jujur bahwa aku pun akan tetap menyayanginya.Tapi setelah kejujuran itu, ia terdiam membisu.Tak ada respon bahkan saat rajaku bersuara untuk meminta maaf,  jika dengan kehadirannya telah menjadikan suasana tak nyaman, dan ia pun masih membisu.

Aku masih di istana lamaku, tapi suasana hening masih tetap berlangsung, papaku menjadi seorang pendiam bahkan ia pun sangat jarang bertegur sapa denganku ataupun Mama Neysea dan aku  tak bisa meninggalkan istanaku ini dalam keadaan seperti ini.Sampai sutu massa ku coba kembali untuk bicara dari hati ke hati. Saat ku tanya apakah ia marah akan kebohonganku dan Mama Neysea? Papa pun menggelengkan kepala. Lantas aku pun bertanya kembali, akan prihal yang membuatnya berubah seperti ini? Kembali hening tak ada jawaban. Setelah lama membisu, aku pun kembali bersuara

“Pah  jika papa marah padaku, katakanlah? tapi Putri mohon Papa jangan diamkan kami seperti ini, terlebih mama, Putri harap  Papa tak membencinya?”tanyaku yang berasumsi bahwa Papaku kecewa kepada Mama Neysea. Dan kali ini ia pun bersuara
“Putri, papa sama sekali tak membenci Mamamu ataupun marah kepadamu, Sekalipun papa sempat merasa kecewa”jawabnya

“Lalu kenapa papa diamkan kami seperti ini, apa papa takut ayahku mengambil mama. Itu tak akan Pah, karena yang ayah harapkan hanya kehadiran Putri” Sahutku.
“Bukan Mamamu yang Papa khawatirkan tapi kamu putri, kamu yang papa khawatirkan”jawabnya yang membuat air mataku berderai.

Sungguh aku merasa menjadi seorang putri yang sesungguhnya, sekarang cukup dengan kasih sayang keluargaku aku sudah merasakan indahnya istana itu. Bahkan aku memiliki dua istana sekaligus. Dalam keharuan itu ku katakana padanya dengan atau tanpa aku tinggal di sini aku akan tetap menyanyanginya.

Semua menjadi berat saat ku melepas nama marga yang dulu sempat ingin ku lepas. Aku pun menyesali sikapku yang pernah salah menafsirkan kasih sayangnya yang ku anggap sebagai pengukungan diri. Kini saatnya ku jalankan tugas baruku untuk berbakti kepada rajaku yang sesungguhnya tanpa menghilangkan bakhtiku kepada Papaku.

Muhajid Cilik Perindu Surga


            Palestina Kembali berduka, sesaat setelah derasnya hujan bom, hujan tangis pun membahana iringi kepergian para syuhada. Desing peluru,deru tank baja,gelegar bom dan granat menjadi hal yang tak aneh. Genangan darah yang bersimbah,mayat-mayat yang berserakan,rumah-rumah yang di ratakan,semua menjadi pemandangan biasa yang belum cukup untuk membangunkan dunia dalam kebisuannya. Dimanakah HAM??? negara sang kuasa wacana itu malah tak bergeming, bukankah ia yang paling keras mendengung-dengungkan HAM, tapi kenapa ia tutup mata, tutup telinga mendengar penderitaan rakyat Palestina.Ah sudahlah… berharap pada mereka hanyalah sebuah ke-percuma-an dan rakyat Palestina tak perlu menggantungkan harapannya pada mereka. Cukuplah Allah sebagai penolong. Itulah yang di hayati oleh Alif, di usianya yang menginjak 5 tahun, ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya, setelah sebelumnya orang tuannya gugur menjadi syuhada, kali ini keenam kakaknya menyusul mereka kembali kepadaNya.Tapi Alif tak kehilangan semuanya. Iman dan semangat itu selalu terpatri teguh di hatinya. Itulah kekayaan yang berharga yang selalu ia pertahankan sampai titik darah penghabisan.
            Tanpa sapu tangan, ia usap airmatanya ,ia larang air matanya untuk kembali jatuh menetes menangisi kepergian seluruh anggota keluarganya, karena ia tahu surga telah menanti kedatangan mereka. Selepas bermunajat padaNya,t iba-tiba luka itu kembali ia rasakan, Alif pun meringis kesakitan, peluru itu mengenai kakinya dan ia pun membalut lukanya sendiri seadanya. Dalam keadaan yang demekian, tiba-tiba seseorang mendekatinya .Alif yang sama sekali tak mengenalinya menjadi waswas terlebih orang yang mendekatinya berparas kebarat-baratan tanpa atribut relawan sebagai tanda pengenal yang tak sempat ia kenakan kembali.
            “Nak, kau baik-baik saja?”Tanya seseorang itu
            “Siapa??Ya.. hu..d..Yaa..huu… dd?pen ja haaa t itu?”jawab Alif terbata-bata
            “Bukan..Apakah wajahku seperti penjahat itu? aku saudaramu nak,jangan takut!”jawabnya meyakinkan
            “Benarkah??Saudaraku telah meninggal.Semua kakakku, ayah-ibuku,penjahat itu..Tank-tank itu..Peluru-peluru itu..Aku benci penjahat itu..!”Pilu Alif
            “Aku saudaramu Nak, kenalkan namaku Ale. Aku relawan dari Turki, aku ingin mengobati lukamu juga saudara-saudaraku yang lainnya. Namamu siapa?”
            “Senang berkenalan denganmu tuan, namaku Alif”
Sang Relawan pun mengobati luka Alif, ia balut lukanya dengan p3k di tas kecilnya, ia pandangi wajah sendu itu.Wajah yang seharusnya ceria menikmati masa kanaknya.Tidak seperti Alif dan anak-anak lainnya di tepian Gaza ini.Tak ada permainan layaknya anak seusia mereka.Jika di belahan dunia lainnya  senapan dan bebatuan bagi mereka  adalah alat untuk meramaikan permainan perang-perangan, tapi tidak bagi Alif. Senapan dan bebatuan itu adalah senjata yang sebenarnya untuk melawan musuh-musuh dalam peperangan yang tiada henti, meski Alif tahu bahwa senjata yang ia miliki tak ada apa-apanya dibandingkan amunisi yang dimiliki sang lawan.Tank Markava,peluru-peluru, Rudal, Pesawat F-35nya dan senjata canggih lainnya, semua itu tak membuatnya gentar. Jika  di belahan dunia lainnya anak-anak bersenandung lagu dalam keceriannya tapi disini Alif dan yang lainnya bersenandung takbir sebagai pembakar semangat melawan musuh-musuh Allah.
            “Sekarang kau di sini sendiri??apakah kau mau ikut bersamaku tinggal di Turki?”tawarnya membuka lagi percakapan
            “Tidak tuan..Terimakasih..Aku ingin tetap di sini.Dan aku tidak sendiri. Inallaha ma’ana!”jawab Alif.
            “Kau tidak takut dengan penjahat itu? kenapa kau ingin tetap disini, bukankah penjahat itu selalu menjahatimu?”
            “Ibuku pernah bercerita bahwa aku diberinya nama Alif agar aku seperti huruf hijaiyah yang berada di depan,begitupun dengan keadaanku sekarang aku ingin tetap menjadi yang terdepan seperti pesan Ibuku, sekalipun aku akan meninggal. Tak mengapa selagi syuhada yang kidapat”.
            Sang relawan pun terdeiam, dalam benaknya ia berdecak kagum kepada bocah yang ada dihadapannya. Kedewasaannya melampaui usiannya bahkan mengalahkan kedewasaannya. Ia seolah telah memberi  tawaran yang salah, kehidupan yang nyaman tak akan menggiurkan niatnya untuk menjadi mujahid cilik yang mendambakan surga sebagai tempat berkumpulnya kembali dengan keluarganya. Bukankah teramat jarang kita mendengar pengungsi Palestina di luar tanah mereka yang selalu terus mereka perjuangkan? Bukan karena tak ada pilihan untuk mengungsi ke negara lain, tapi pilihan sahid lebih menggiurkan untuk mereka. Alif pun membuka percakapan kembali sekaligus meminta izin untuk pamit meninggalkan tempat percakapan, saat sang relawan itu  bertanya hendak pergi kemana dengan percaya diri Alif menjawab ia ingin menghatamkan hapalannya meski lukanya belum sembuh total.
Ketika Alif dan puluhan mujahid cilik lainnya sedang asyik-asyiknya melantunkan hafalannya, tiba-tiba tank-tank itu datang mengusik ketenangan mereka dalam menyenandungkan kalamNya.
            “Istaidu..Istaidu..Lil  jihad…Allahuakbar!!!”laksana seorang komandan memberikan instruksi. Alif serta puluhan mujahid lainnya menyambut seruan itu dengan takbir yang menggebu-gebu, tak ada siratan takut sedikit pun meski mereka tahu selangkah mereka maju,pintu kematian akan semakin mendekat.,
…Dorrrrrrr……….dorrrrrrrrrrrrrrrr!!desing peluru yang membahana,tak lantas mendengar ancaman itu menjadikan Alif mundur kebelakang. Dengan senapan dan bebatuan di tangannya, ia tetap maju di garda terdepan seperti makna namanya yang telah ia ungkapkan. Dengan lantunan takbir ia lemparkan senapan dan bebatuan itu ke arah tank-tank itu. Dalam suasana genting itu Alif  tak gentar untuk tetap berjuang bahkan sampai ketika peluru tepat mengenai  jantungnya, kalimah sahadatain pun di ucapakannya dan mengantarkannya ke surga, Alif sang mujahid cilik itu telah sahid.
          

Memotret Asa Dalam Pendidikan



Pendidikan adalah satu jalan meretas menuju kesejahteraan . Itu adalah hipotesa dari hampir mayoritas masyarakat tentang  salah satu jalan roma untuk merajut mimpi mencapai cita. Betapa kita banyak mendapati bahwa mimpi dan harapan itu tersirat  indah dalam tulisan-tulisan diantara buku-buku yang mereka bawa setiap hari dibangku sekolah itu. Dan tak ada yang salah dengan harapan mereka tentang cita yang mereka gantungkan pada satu hal yang bernama pendidikan. Kita pun perlu yakin dan optimis bahwa pendidikan bisa mengantarkan kita pada satu pintu bernama kesejahteraan ketimbang mengutuki kegelapan dan wajah suram pendidikan itu sendiri, tentu  tanpa mengabaikan perbaikan dan upaya untuk terus berbenah diri agar pendidikan itu sendiri bisa mengantarkan pada apa yang telah tersemai menjadi cita bersama.
Pendidikan yang kita harapkan  tentu bukan sekedar transformasi  ilmu atau pengetahuan semata, lebih dari itu pendidikan memiliki makna luas lainnya.Tentang bagaimana menumbuhkembangkan setiap potensi anak bangsa, tentang bagaimana memanusiakan manusia dan seperti cita kita yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar yang tak lain adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, inilah pelabuhan terakhir dari pendidikan. Betapa besar tugas pendidikan itu sendiri, satu kosa kata “mencerdaskan”  saja bukan hal yang mudah apalagi ditambah dengan kehidupan bangsa, cakupannya bukan sebatas  individu atau bangsa tapi “kehidupan bangsa”.
Tentu peran besar itu bukan semata amanah untuk para pendidik saja yang terkadang secara definitif sempit lebih ditujukan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru semata padahal  semua lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab sama untuk mewujudkan cita-cita bersama tadi.  Ini catatan utama dari saya pribadi agar setiap kita  aware kepada pendidikan dengan atau tanpa menjabat pelaku struktural bernobat GURU, setidaknya setiap orang bisa menjadi pendidik untuk dirinya sendiri dan lingkup kecilnya keluarga. Catatan lain untuk  sebuah perbaikan wajah pendidikan itu sendiri adalah tentang kesenjangan sarana dan prasarana pendidikan di daerah  kota dan daerah pelosok , baik dari SDM sampai ke sarana pendukung diluar sistem lingkungan pendidikan namun juga memiliki andil pengaruh terhadap pendidikan itu sendiri. Seperti sarana transportasi umum pada daerah-daerah pelosok yang masih minim. Sehingga diperlukan langkah pemerataan pendidikan dalam konteks sarana prasananya, dan saya pribadi sangat mendukung program-program seperti SM3T yang bisa membantu untuk mempercepat pemerataan pendidikan dalam konteks tersebut. Dalam hal standarisasi kelulusan memang kerap menjadi polemik karena setiap potensi anak bangsa tentu berbeda-beda namun sayangnya standarisasi saat ini masih terstigma pada aspek normatif saja tanpa pemaknaan pada pemahaman dan perhatian khusus kepada pendidikan karakter ataupun keahlian lainnya selain normatif. Pun dengan peningkatan kualitas pendidikan, seperti tunjangan dan kesejahteraan Guru, Tadi saja saya pribadi menemukan meme sindiran untuk kita semua, bagaimana seorang guru dibayar murah dengan tugas berat untuk mencerdaskan anak bangsa sedangkan selebritis dibayar mahal yang kerap memberi pengaruh negatif pada anak bangsa.  Begitu pun dengan realisasi program wajib belajar 12 tahun, yang ditunjang juga dengan kebijkan untuk penghapusan pungutan-pungutan liar dilingkungan sekolah yang masih saja kerap terjadi. Serta perhatian penuh untuk pendidikan kreatifitas anak yang seringnya terabaikan karena terlalu dominan pada aspek penddidikan berbasis konseptual semata, peningkatan pelatihan-pelatihan kreatifitas anak dan soft skill serta kreatifitas para anak berkebutuhan khusus. Yang dijuga diikuti dengan regulasi sebagai payung hukum untuk setiap hasil kreatifitas anak bangsa agar memiliki kesempatan  luas untuk meningkatkan dan bersaing di kompetensi global.

ambigu

hai kawan...
Masih ingat dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang ambigu?
Dulu di modul pelajaran Bahasa itu, aku mendapati sebuah contoh kalimat ambigu, "kucing makan tikus mati"..
letak kesalahannya karena kalimat tersebut bisa dipersepsikan kucing memakan tikus yang mati atau kucing sedang makan dikondisi lain ada tikus yang mati..
 Yups benar pengertian ambigu adalah bermakna ganda. Karena itulah perlu standarisasi bacaan agar ambigu-ambigu tak ada. Maka lahirlah Ejaan yang disempurnakan.
 Tapi rumitnya dalam kehidupan meski ejaan telah sesuai dengan standarisasi, ]
masih saja   kita mendapati ambigu-ambigu itu. Karena dalam kehidupan selalu ada yang tersirat dibalik yang tersurat, selalu ada konteks dibalik teks.. Selalu kawan..
selamat memahami :)

Jenis-Jenis Kepo

Defini kepo

KEPO adalah akronim dari Knowing Every Particular Object yang artinya sebutan untuk orang yang serba ingin tahu dari detail sesuatu..
Dari konsep normatif sebenarnya kepo adalah sesuatu yang baik karena berpeluang menambah wawasan tapi kalau salah pemaknaan atau salah menjadikan objek bisa berpeluang tidak disukai bahkan amarah .. yang seperti apa sih kepo yang bisa mendatangkan  amarah itu?
cekitdot !

1. kepo yang menyebalkan adalah sejenis tanya yang horor, yups betul tanya tentang kapan wisuda, dan atau tanya kapan nikah, nah kepo yang jenis satu ini jangan coba di praktekan  ke jomblo ngenes plus sedang datang tamu bulanan yang juga sedang njlimet mikirin skripsi yang belum kelar-kelar nanti idup loe yang kelar hehe... pesannya jaga jarak aja yah
2. kepo detektif gagal misi adalah sejenis tindakan stalking medsos, bisa itu  stalking Fb atau IG  tapi meninggalkan jejak like dan atau gambar love  di instagram pada postingan bulan lama atau bahkan tahun lalu... oow..ooww kamu ketahuan sedang stalking medsos *sambil nyanyi hehe
3. Kepo yang menyenangkan adalah sejenis tindakan bertanyanya seorang calon buyer pada seller, atau keponya seorang calon donwline kepada uplinenya hehe,meskipun gak beli yah senang aja dech rasanya, artinya dagangan kita mendekati laris
4. kepo yang menakutkan adalah sejenis tindakan bertanya pada saat ulangan atau ujian, makanya ujian tuh belajarnya dirumah bukan pas hari H nya,
5. Kepoin yang gagal moveOn adalah kepoin idup orang, jangan gitu yah gais itu gak baik !
 
yang keenam, manggooo bisa ditambahkan olehpara kepo-ers :)


Agar status tak sekedar ngampus


Seragam putih abu  itu telah ditanggalkan, ada yang menggantinya dengan kemeja- jeans atau perpaduan kaos dengan jeans, sesekali jaket sebagai asesoris untuk kaum adam. Lain lagi dengan kaum hawa, varian style nya begitu beragam  agak repot juga ngabsennya hehe. Pokoknya darimulai setelan rok you can see sampai gamis lebar + cadar pun bisa ditemui di dunia yang bernama kampus. Iya kita sedang berbicara dunia para mahasiswa.  Dunia yang penuh dengan multidimensi, ada si kubis[1]  yang asyik kuliah sembari jualan, mulai dari pulsa, kaos, buku, cemilan dan segala macam lainnya yang berpeluang menghasilkan pembuluh dompet alias money dia jadikan objek jualan.  Ada si kupu-kupu [2] yang  akrab banget rute rumah-kampus. Tipe yang kaya gini, tutup mata juga tahu betul  rute jalan dan gak mungkin lagunya Ayu ting-ting yang salah alamat itu sampai kejadian kecuali takdir menghendaki . Dan ada jenis kupu-kupu yang high kelas, dimana ia juga rangkap sebagai kutu buku, tambah mantap tuh hafalannya selain “vocab rute”  rumah-kampus tapi juga seabreg teori buku masuk dalam daftar panjang ingatan mereka. Ada lagi nih si kunang-kunang[3], yang tipe ini lumayanlah “vocab rute” jalannya jauh lebih banyak dari si kupu-kupu, biasanya cafe dan tempat hang out lainnya masuk dalam ingatan “vocab rute” yang  sudah diluar kepala mereka. Dan ada juga si kuda-kuda[4], eits yang satu ini bukan berarti pasang mimbar dikampus terus wara-wiri ceramah ke santero kampus, karena toh yang utama itu mengjijrahkan diri dan memberi teladan yang baik  sembari  mereka berhimpun di UKM kampus semisal rohis gitu kalau dalam dunia Putih Abu, bukankah  kebaikan yang tidak teroganisir akan kalah oleh kejahatan yang teroganisir. . nah kalau eksternalnya, bisa lah untuk gabung di KAMMI, yang ini lebih luas malah, mengajari kita untuk menjadi muslim yang hanif, intelektual profetik yang berjiwa sosial dan melek politik. Jadi tertarik angkat topik yang lebih sfesifik tentang aktifis haraki  haraki gimana? 
Tahu sendirilah, diskursus singa jalanan vs akademisi sudah sangat familiar, di setiap kampus diskusi ini selalu menjadi kajian panas para mahasiswa. Untuk para singa jalanan, aksi adalah keharusan seorang mahasiswa, jas almamater mereka wajib terkotori debu  jalanan juga tetes keringat terik matahari. Tapi untuk akademisi, IPK comlude adalah wajib, ia akan menjadi catatan kebanggaan ketika di kenang  juga dapat dijadikan persembahan terbaik untuk keluarga tercinta. Keduanya tak salah, menjadi singa jalanan tak mengapa asal kewajiban menuntut ilmu jangan sampai terabaikan karena ada beberapa  tipikal aktifis yang begitu kuat di pergerakan sampai ia rela di DO dengan dalih DO fii Sabilillah, meski benar bahwa DO mereka bukan sekedar karena malas menyelesaikan salah satu dari problematika mahasiswa tingkat akhir selain nikah, yakni skripsi. Bahkan  beberapa alumnus yang mengalami hal tersebut memang bisa membuktikan bahwa mereka bisa mencapai tangga kesuksesan tanpa gelar di belakang  nama mereka juga tanpa lembar  ijazah. Namun di era ini, anekdot DO fii sabillillah sudah tidak relevan dan mulai harus terganti dengan Comlude Fii Sabilillah, tentu ini menjadi catatan sendiri untuk para mahasiswa tipikal studi Oriented agar tak hanya sekedar lembar IPK dan izasah saja yang dikejar, harus ada nilai lebih agar  lembar  ijazah tak sekedar kertas kelulusan semata tapi bagaimana mereka bisa menghasilkan karya dari ide dan gagasan dari buah pemikiran mereka yang bisa bermanfaat untuk masyarakat. Sebenarnya kombinasi yang  pas untuk mahasiswa tipikal studi oriented yang juga berorganisasi, selain pembelajaran agar semakin cerdas dalam memanage waktu juga dalam menerpa ide dan gagasan mereka agar menjadi sebuah karya yang memiliki nilai jual. Mahasiswa yang berkreatifitas tinggi dan memiliki ide dan gagasan terkadang menjadi buntu ketika mereka tidak memiliki skill dalam berjejaring atau skill organisatoris sehingga ide mereka stag nan di tempat.So masih mau cuma numpang beken berstatus mahasiswa? Nah kalau mahasiswi  gimana? Eits mahasiswi juga bisa keles jadi akhawat haraki,  karena arsitek peradaban itu bernama wanita. Gak percaya? Yuk buktikan.

Tak terbantahkan lagi bahwa sang arsitek peradaban itu bisa juga bernama wanita,bukan karena semata darinya  lahir setiap orang-orang hebat itu yang kelak akan mengubah dunia tapi bagaimana peranannya baik sebagai madrasah pertama dalam miniature peradabannya (Kelarga ) atau peranannya langsung di medan juang baik dalam ranah  social,pendidikan,politik,budaya dan atau yang lainnya. Dan inilah kehebatan seorang wanita.Ketika tangan kanannya menggendong ayunan maka tangan kirinya mampu mengguncang dunia.Peranannya tadi tak menjadi mengapa karena dunia wanita tak hanya sebatas Sumur,Dapur dan Kasur selama kaidahnya terpenuhi bahwa kewajiban yang satu tak harus meninggalkan kewajiban yang lain. Maka dalam konteks kekinian Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh dengan belasan anaknya yang hafidz patut di jadikan role mode bahwa peranan ia di kancah politik,social dan atau yang lainnya tak menelantarkan peranannya di kancah domestic (keluarga).

Afwan  saya lupa kita belum mendefinisikan siapakah akhwat haraki itu?? adakah ia yang memakai sandal gunung,atau bidadari dunia beransel?hehe.Terasa naif jika kita mendefinisikanya hanya secara dhahirnya saja karena bisa jadi akhwat yang bergaun anggun yang tak bersendal gunung dan tak pula beransel memiliki kapasitas yang memadai untuk ada dalam sebuah pergerakan. Beberapa akhwat banyak yang menemukan ketidaksebandingan diri antara kapasitas dan amanah yang ada.Setidaknya itu yang penulis alami atau pernah penulis baca pada sebuah  artikel yang bertajuk” Akhwat think slow, move slow” eits  yang merasa tidak seperti itu jangan mendemo, karena bukan saya penulisnya hehe.Tapi mungkin ada benarnya juga ketika seorang wanita yang notabenenya memiliki sensifitas perasaan tinggi bergelut pada sebuah pergerakan yang penuh dinamika dan menuntut mengedepankan pikiran jadi harap di maklum ketika ada loading yang terjadi setidaknya itu proses baginya untuk menyamakan frekuensiDan ini yang menjadi pertanyaan khususnya bagi penulis pribadi,kapasitas apa yang harus dimiliki agar ketidaksebandingan diri ini bisa tereliminasi?Ada asumsi penyebab munculnya ketidaksebandingan diri bisa jadi karena pemahaman,belum mengenal potensi diri atau yang ketiga ruh dakwah kita yang tak ada.
Lalu tugas kita sebagai Akhawat haraki itu apa?adakah sama dengan peran lain politikus wanita adakah sama dengan peran kita sebagai seorang akhwat Haraki? Tentu berbeda jika eksekutif wanita itu berpolitik praktis dan yang memiliki power dalam menentukan kebijakan sesuai dengan yang dimandatkan kepadanya maka kita sebagai seorang akhawat haraki berpolitik nilai dengan mandat kita sebagai seorang mahasiswi yang memiliki kekuatan sebagai penyangga pemerintah yang sering kita sebut sebagai agent of Change. Entah itu posisi kita sebagai oposisi ataupun mitra. Berbicara masalah ini menarik memang kita selalu tajam memposisikan diri sebagai oposisi,selalu peka terhadap hal apapun yang bisa kita kritisi tapi yang  tak boleh dilupakan adalah tanda cinta kita juga tak hanya mengkritisi penyimpangan yang ada tetapi juga melakukan kerja-kerja sebagai mitra dalam rangka perbaikan.








[1] Kubis, kuliah-bisnis
[2] Kupu-kupu, kuliah pulang-kuliah pulang
[3] Kunang-kunang, kuliah nangkring-kuliah nangkring
[4] Kuda-kuda, kuliah dakwah-kuliah dakwah
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: