Guntur, Pendakian Nekad bin Dadakan



Bahagia itu mendapati kalender merah  tepat di awal bulan, ah rasanya tuh seperti menemukan air  saat tengah kehausan di lembah Gurun Sahara. *Hiperbola.  Tapi seperti itulah gambarannya,  rutinitas yang dilalui terkadang menjebak kita dalam mengurangi radar kefokusan, meskipun aku pribadi sudah dari zaman purba-nya terlahir dengan ketelitian yang minim, kesalahan yang disusul dengan kesalahan berikutnya akhirnya menghiasi rutinitas kerjaku. Oke fiks aku tersadar,  mungkin iya aku kurang piknik.  Dan rabu itu ajakan haiking ke Guntur itu hadir. H-2 dari pendakian. Dari sinilah bermula sebuah label itu, pendakian nekad bin dadakan.

Telah kita ketahui bersama, setelah film 5 cm itu meledak di pasaran, Haiking menjadi trend baru anak muda dan  tanggal merah 5-6 Mei dengan sabtu sebagai tambahan hari libur kejepit nasional otomatis bisa menjadi hari pendakian Nasional, ini terlihat dari ramainya grup-grup pendakian di sosmed  juga hilir mudik orang berdatangan di terminal Guntur Garut dengan kelir sebagai tengtengannya. Imbasnya  sebagai pendaki  newbie yang tidak memiliki sama sekali kelengkapan alat-alat outdoor  akan ditambah dengan  kesulitan menemukan tempat penyewaan alat-alat outdoor karena dapat dipastikan sudah on booked. Dan benar saja, mulai dari kawan yang memiliki kelengkapan haiking,  meski  tidak mendaki  pada hari libur tersebut, kebanyakan alat-alatnya telah dipinjamkan. Bersyukur masih mendapatkan pinjaman sleeping bag+matras+sendal gunung. Eh buset gak modal amet yah semua pinjaman, maklum pendaki newbie hehe *ngeles. Kelengkapan berikutnya yang krusial harus ada adalah tenda.  Dari empat tempat sewa alat-alat haking sampai kamis malam dengan rencana keberangkatan jum’at yang aku telusuri semuanya sold alias sedang digunakan, artinya jelang dari rencana keberangkatan esok hari tenda masih belum ada ditangan.

Sedang pendakian tidak mungkin di cancel, kak Nisa (temn pendakian nekad bin dadakan) cuma satu orang tanpa rombongan telah on the way dari kota asalnya dari Jakarta menuju Garut. Kalangkabut malam jum’at itu aku mencari-cari tenda. Bersyukur Allah mengingatkanku kepada kawan lama, teman seperjuangan ketika di kampus. Aku tahu, dia sering haiking.  Alhamdulillah disetiap ada kemauan pasti ada jalan. Bukan semata mendapatkan tenda, pendakian nekad bin dadakan ini pun mendapatkan guide expert-nya. *hatur nuhun Bro...

Jum’at pagi dengan semangat menggebu menaklukkan puncak gunung Guntur, aku memulai pendakian nekad bin dadan ini dengan mengambil jalur post tanjung, salah satu jalur resmi dari pendakian gunung Guntur.  Saat menaiki angkot leles yang akan membawa ke base camp Umi Tati, dengan keril lama  yang ku bawa mudah sekali mamang supir mengenali tujuan perjalanan kami meski tidak berombongan. Mamang supir berbaik hati memberi tawaran untuk mengantarkan sampai base camp Umi Tati. Kesepakatan harga pun terjalin. Deal. Tapi ternyata mamang supir ini tidak menurunkan kami sampai di base camp Umi Tati, menurutnya jaraknya sudah hampir dekat dan bisa di tempuh dengan jalan kaki. Thart’s right ceritanya aku di PHP-in, duh sedinya. Tapi yah gais, kita tidak boleh  membuang emosi dengan kemarahan yang percuma, energiku tak boleh terkuras dengan hal sepele ini, anggap saja pemanasan.  Well, akhirnya pertolongan itu datang, ada  satu truk yang membawa pasir berbaik hati berhenti tepat dihadapan kami dan bersedia membawa kami sampai di base camp Umi Tati dengan gratis.

Sesampai di basecamp aku dan kak Nisa menunggu kawanku yang bernama Ihsan, nah kali ini kita dapat ppersonil baru dalam pendakian nekad bin dadakan ini,  cukup lama sebenarnya kami menunggu jika dihabiskan untuk menonton film mungkin akan sampai pada akhir tayangan, namun tak mengapa lamanya kami menunggu tidak ada apa-apanya dengan jasanya dia yang sangat membantu mensukseskan pendakian nekad dan dadakan ini.  Kali itu ia terpaksa harus direpotkan berkali-kali lipat oleh pendakian ini, dari mulai mencarikan tenda, mencarikan spirtus untuk memasak sekaligus memandu kami untuk memasak (karena gak bisa nyalain nestingnya, maklum nestingnya sejenis trangia bukan nesting biasa hehe *lagi-lagi ngeles) yang juga merangkap sebagai  pemandu perjalanan,  mendirikan tenda sampai membawa barang-barangku didaypacknya, untuk yang satu ini bukan karena kelelahan, aku sendiri sebenarnya ingin membawa keril biar berasa gitu muncaknya hehe. Tapi berhubung kerilku ternyata bermasalah, ada satu tali yang terputus sehingga tidak bisa menopang dan berdiri tegap dalam gendongan akhirnya kami pun sempat mempecking ulang barang bawaan tiga orang dan meringkasnya dalam dua daypack, karena kak Nisa dan Ihsan hanya membawa daypack yang kapasitas tempatnya tidak seluas keril, akhirnya terpaksa sleeping bag si ranger yang baik hati itu tidak bisa  dibawa dan tinggalkan di basecamp itu menemani si keril yang tidak bisa diikutsertakan dalam pendakian ini. Sempat sangsi dan khawatir jika kemungkinan terburuk nanti dia hipotermia di POS III karena tidak mengenakan sleeping bag, sekalipun ranger dan berkali-kali menaklukan Guntur jika tidak dengan safety dalam pendakian, kemungkinan itu bisa saja terjadi tapi tuturnya di POS III itu ada sleeping bag yang bisa ia kenakan sebagaimana tenda yang tinggal kami dirikan di POS III nanti. Meskipun aku sendiri saat itu tidak mengkomfmasi kebenaran itu. Ah pokoke hatur nuhun again, kamu mah bageur.

Guntur yang menggurat semangat, dengan fisik kami yang sebelum-sebelumnya sudah terkuras oleh rutinitas dan tidak sempat melakukan pemanasan dengan berolahraga cukup kepayahan dalam menaklukan Guntur terkecuali si Ihsan yang sudah terbiasa menaklukan Guntur. Terutama saat summit attack menuju puncak satu. Masya Allah tracknya sebanding dengan keindahan yang didapatkan diatas, naik terus sama sekali tak bertemu bonus. Dengan track yang penuh dengan bebatuan dan pasir. 





Menurut penuturan kawanku si Ranger yang baik hati tadi, normalnya perjalanan dari pos III tempat pendirian tenda sampai puncak satu 1 adalah 2,5 jam dengan catatan tanpa istirahat yang lama. Namun karena dalam pendakian ini menyertakan seorang newbie sepertiku yang muncak bagai kura-kura, perjalanan menuju puncak menjadi dua kali lipat dalam hitungan normal. Star dari Pos tiga kisaran jam 5 setelah shalat Shubuh sampai di puncak Satu kisaran jam 10an. Entah berapa kali aku duduk mengistirahatkan diri dan kemudian di hibur oleh Kak Nisa bahwa puncak 1 sebentar lagi atau 5 menit lagi. Lima menit apanya? yang ada lima menit rasa satu Jam. Dalam pendakian nekad bin dadakan ini kami pun menemukan kawan baru, perjalanan menuju puncak pun menjadi lebih ramai karena menemukan kawan baru. Dan satu lagi, Guntur ini pembuktian julukan itu, Pantas saja orang menyebutnya dengan kembarannya Semeru karena saat turun ada adegan yang mengasyikan yaitu berselencar dalam bebatuan dan pasir. Kapan lagi coba berselancar diatas bebatuan dan pasir jika tidak dalam pendakian Guntur?

Aku memang bukan pendaki sejati yang sejak dari nalurinya mencintai alam, mungkin aku hanya sebagian ada mereka yang terbawa angin segar tentang indahnya perjuangan merangkak keatas puncak, namun sekalipun aku adalah seorang pendaki newbie. Aku bisa memeluk erat pelajaran berharga, filosofi kehidupan dari sebuah pendakian bahwa hidup adalah perjuangan, berjalan merunduk disaat naik dan berjalan tegap disaat kita turun.

Dan pada akhirnya haiking bukan sebatas tentang mengabadikan gambar di atas puncak, kembali pulang dengan selamat adalah penting maka mengukur dimana kemampuan diri dalam pendakian harus tetap diutamakan dari sekedar menuruti ego diri untuk sampai diatas puncak. Perjalanan dari pendakian nekad bin dadakan ini akhirnya menyisakan PR, sampai di puncak satu kami menaklukan Guntur. Esok hari dengan cadangan energi dan persiapan yang lebih prima ingin kembali ku taklukan kembarannya Semeru, si mungil Guntur yang terjal.

Puncak satu

Bersama pendaki lain, summkit&turun bareng
Ceritanya istirahat
city light

Menggapai Hijrah

Adalah benar bahwa hijrah adalah proses panjang tapi tak berarti juga menjadi alasan menunda hijrah
Adalah benar pula bahwa hidup penuh dengan rintangan karena yg banyak rantangan itu namanya catering, ups *kidding dikit boleh kali, abaikan kalau joke itu sudah maenstream.
Hijrah adalah sebuah perjalanan. Yang panjangnya tak terukur oleh satuan KM. Istiqamah adalah ongkos untuk perjalanannya. Dan Firdaus adalah muara akhir tujuannya.  
Karena kita yang menentukan dan Allah pun menetapkan....
Eh bentar definisi dari hijrah dari itu sendiri belum dibahas, yuk mari kita kupas,  cekiddottt !
Dari kajian yg pernah diikuti, hijrah didefinisikan dalam dua konteks, pertama perpindahan tempat sebagaimana rasul pernah berpindah tempat dari mekah menuju madinah..
Sedang definisi lainnya terkait konteks makna yaitu perubahan menuju perbaikan, dan setiap orang tentu ingin mengupayakan menjadi lebih baik, gak mau dong menjadi orang yang merugi? Yups benar, karena jika hari ini masih sama bahkan lebih buruk dengan hari kemarin adalah kerugian pun sebaliknya yang hari esok lebih baik dari hari kemarin adalah  keberuntungan
Nah ketika kita melangkahkan kaki untuk berhijrah so pasti kita menemui rintangan, bener apa betul ??
Kadang definisi berat dan rintangan tersebut menjadikan kita stag dan melakukan pemakluman, misalnya kaya gini nih, Da aku mah apa ath segini ge udah uyuhan.. Please gais, untuk urusan akherat jangan mau minimalis yah. Firdaus masih bisa menampung banyak orang kok !
Rintangan tersebut akan terus menjadi berat selama kita tidak menghadapinya, katakanlah berhijab.
Dulu mulanya dia adalah hal yang berat untuk dilakukan, bener gak? kan gak ujug-ujug lahir langsung berhijab? dan nyatanya setelah mulai mengenakannya. Sedikit demi sedikit gak kerasa lagi beratnya untuk berhijab dan hijab  mulai bisa menjadi bagian dari kita. Apalagi sekarang hijab syar'i mulai menjadi trend fashion. Senang kan kalau kamu bisa mnegikuti syariat agama sekaligus gak ketinggalan jaman? Aku sih gak masalah  dengan adanya trend hijab, setidaknya syiar hijab menjadi booming daripada fashion yoo can see yang menjadi trend centter mending hijab kemana-mana, masalah  berbondong-bondong wanita mulai berhijab karena trend. Tak apa,  Allah maha baik, selalu memberi kesempatan hambaNya untuk memperbaharui niat, imbangi dengan syiar bahwa sebaik-baik berhijab adalah untukNya bukan untuknya.
Ukuran berat dalam definisi pria biasanya adalah rokok, berat yah untuk pensiun dari rokok? Aku gak perlu yah review ulang bahaya rokok, toh dia sendiri udah nemplong dikemasannya, dan hei ramadhan aja bisa tuh berhenti di siangnya, kenapa tidak dilanjutin sampe malamnya...
Atau pacaran? yang bisa menjadi berat baik untuk wanita atau lelaki ..
Gini yah, kalau urusannya dengan virus merah jambu, cuma dua solusinya. Sudahi atau nikahi? berat untuk nikah? Ya udah puasa, simple kan?engga.. Ya udah asyikin aja jadi jojoba, jomblo-jomblo bahagia, kan enak gak direncongin oleh orang lain, berisik kali kalau setiap menit ada yang nanyain lagi apa? atau ucapan gombal met pagi, met malam, situ customer service yah? jomblo asyikin aja,
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/09/jomblo-asyikin-aja.html

Katanya sih gak semudah itu, lalu semudah apa dong, semudah mengembalikan telapak tangan?
Guys gini yah, setiap kita punya definisi dari apa yg menjadi tintangan terbesarnya dalam berhijrah, aku mah sih masih mending gak dihadepin dengan resiko dipecat dari jabatan untuk berhijab misalnya, kehilangan karir atau jodoh karena beruntung ada dalam lingkungan yang support tapi tetap saja untuk sampai di titik ini tentu tidak ujug-ujug pasti ada proses yang dilalui, kalaupun dari kalian ada yang menghadapi resiko tadi, yakinlah Allah akan ganti dengan yang lebih baik, berkah dariNya jauh lebih baik dari patamorgana dunia.
Bahkan mereka yang sedang proses menata jalan hijrahNya, tidak serta merta telah sukses dalam berhijrah. Kita tidak pernah tahu ujung jalan dari perjalanan hijrah ini, tugas kita hanya taat.
Btw masalah ujian, pasca hijrah juga pasti nemu lagi ujiannya. Ada ujian istiqamah, setelah istiqamah level berikutnya semakin berat, dia harus menjadi qudwah bagi ummat. Well, ujian yag gak kalah beratnya itu ikhlas, jangan beralibi nunggu ikhlas untuk berhijab, karena tidak ada keikhlasan dalam kemaksiatan. so masih mau alibi hati untuk menunda perintahNya?
Well... Hidup itu memang bebas, bebas dalam arti memilih, memilih taat atau maksiat.. bukan bebas yang kebablasan.
Kadang kita pun asyik berlindung dibalik menjadi diriku sendiri, padahal dengan berhijrah tak mengubah karaktermu, hanya berpindah dari titik maksiat menuju titik taat, sebagaimana umar pasca hijrahnya tetap dikenal sebagai tokoh yang tegas dan kuat yang justru dengan kekuatan yang sudah menjadi karakternya menjadi semakin berkharisma dengan sentuhan cahaya Islam, saking kuatnya kharisma ketegasannya setan pun takut mengdapati Umar...
Oke guys mari jadikan waktu yang kita miliki sebagai momentum perbaikan, mari berhijrah.

Alergi politik

Menjadi benar apa yang sering kita lihat dan dengar,  derasnya informasi hari ini banyak mengabarkan kebobrokan negeri pada setiap sektornya. Kemudian kita membenarkan simpulan yang terjadi hingga kita mengidap penyakit alergi politik. Hanya mengapa, masih ada justifikasi invalid atas asumsi dari pihak yang terafiliasi. Bak seperti spam. Selama asumsi yang lahir, tak mengandung paksaan untuk mengikuti pilihan. Mengapa harus berkompetensi tanpa merajut kolaborasi??

Alergi politik ini kemudian datang bersama turunannya yang bernama epilepsi politik. Kejang-kejang mendengar setiap kali kebobrokan itu menjadi pengulangan kabar menghiasi layar 21 inci pada setiap rumah.
Alergi politik pun memberikan turunannya lagi  bernama amnesia, bahwa pada setiap pundak telah terbebani amanah yang sama untuk mengelola segenap alam semesta.
Bahwa manusia diberikan hak dan kewajiban oleh Allah untuk menjaga keteraturan dan keseimbangan alam
.Naluri alami ketika kebaikan yang ingin kita upayakan, semesta mendukung dengan sendirinya. Tidak melulu bernegatif thinking tentang politik, tidak juga menjadi seorang yang polos menjadikan diri tumbal kepada para pemain kebijakan.
 Terlalu menuntut perubahan dengan tanpa menyalakan lilin lebih menjadikan kita seorang retoris utopis semata. Kawan dengan atau tanpa kita sadari, pilihan selalu ada dalam genggaman. Pembeda hanya ada dalam cara kita memaknai pilihan yang terambil. Juga pilihan untuk terus memperbaharui pilihan dan atau bertahan dalam pilihan..

Mari bersama menjadi kita meski dalam pilihan yang berbeda,  menata objektif yang kini begitu relatif..
Tidak perlu bijaksana dengan definisi realita yang mengubah diksi menjadi bijak sana dan bijak sini..
Karena itu hanya akan mengaburkan warnamu...
Absurd, bias juga ambigu..
Cukup aku, kamu menjadi kita dengan pilihan masing-masing.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqadimmah bahwa ijtima insani (organisasi kemasyarakatan) adalah keharusan dan manusia bersifat siyasi menurut tabi'atnya. Dan hak kebebasan manusia ialah kebebasan menentukan pilihan sebuah institusi siasah. Kesadaran kolektif menjadi cikal bakal timbulnya apa yang disebut bilad/balad (negri). "Ketahuilah sesungguhnya syariah itu adalah pokok dan raja itu adalah penjaganya. sesuatu yang tidak punya pokok akan hancur dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan musnah" (Imam Ghazali). Mari menyembuhkan diri dari penyakit alergi politik, menjadikan diri seorang raja untuk menjaga dalam setiap pilihan dan metode  untuk memberi peran sekecil apapun jalan kontribusi yang kita ambil.

Jomblo?? Asyikin aja

Jomblo itu bukan kutukan, katanya sih pilihan, pilihan untuk ngenes maksudnya, eh engga ding, pilihan hiduplah karena pacaran itu haram. Dan ada masanya status jomblo itu kadaluarsa, bukankah tidak ada yang abadi? So jomblo? Asyikin aja..

Bercermin dr stand up comedy, setiap keresahan yang dirasa menjadi bahan  materi untuk mereka.
Bisa di tebaklah keresahan seseorang yg sudah melewati tahap pertanyaan kapan lulus? 
Jangan ditanya,, sesering apa ditanya kapan nikah? Bang toyib aja cuma 3X lebaran ditanya kapan pulang, ini rekan mblo sejawat mungkin ada yang melewati lebih dari tiga lebaran dengan pertanyaan yang sama..
Sabar yah mblo, insya allah akan indah pada waktunya....
sampai kapan? Yah sabar kembali sebagai jawaban..

Yups inilah keresahan sejuta ummat, kebingungan mencari kunci jawaban kapan nikah, daripada mengutuki kemacetan yang menyebabkan tak kunjung datang tamu mending memanfaatkan  moment pencarian kunci jawaban itu sebaik mungkin....
Sendiri itu asyik tapi jangan keasyikan sendiri yah hehe
Hal-hal yg mengundang bapermu, ternyata bisa dijadikan pengkondisian tahap awal, percis siang ini, menemani kondangan mamah.   Asyik aja berasa sedang merajut harmonisasi yg indah, jalan bareng dengan mamah serasi dengan seragaman kan jarang punya moment jalan bareng sama mamah sendiri saat kita beranjak dewasa, eh tapi kemudian my mom berasa mendapat inspirasi tentang bagaimana setting latar pelaminan anaknya nanti, dia langsung request, nanti pelaminannya sebelah sana, panggung disana, nah daripada merusak suasana karena nganggap ditodong mantu mending lanjut sharingnya anggap aja pengkondisian tahap awal...
"Oke mah, tapi tamunya ntar dipisah yah dan pengisi hiburan nya nasyid yah" jawabku ..
"Kok gitu?"
Bla..bla... Masuk point pengkondisian sekalian menanamkan apa yang kita fahami meskipun ujungnya pernyataan yang seperti ini yang terlontar "kaya yang udah ada calonnya"
Kasus lainnya, sewaktu-waktu pernah ada kawan mamah telepon ,, rupanya kawan lama ibu ini termasuk ibu yang care terhadap anaknya, saking carenya dia mau mencarikan istri untuk anak lakinya, my mom pun menyebut satu anak gadis tetangga, perbincangan itu disaksikan oleh aku dan kakak pertamaku, sempat kakakku protes, "kenapa engga diarahkan ke resti"  dengan sedikitnya mamah sudah memahami dunia sang anak, dia pun bisa menjawab dengan bijak "bukan kriteria resti, dia mah anti sama perokok !" alhamdulillah bisa bernafas lega, beda konteks kalau penanaman tentang seperti apa yang kita fahami dan yang kita inginkan mengenai pernikahan itu belum sejalan dengan keluarga, karena kemungkinan memunculkan resiko ketidaknyamanan itu makin kuat, dengan faham sedikit tentang apa yang kita inginkan, tentu orangtua pun akan berfikir jauh sebelum mengambil kesempatan untuk menjodohkan. Akan sangat tidak nyaman, jika orangtua sudah mengambil sikap  untuk turut memilihkan calon sekalipun itu bagian dari tugasnya dan bentuk kasih sayangnya, mending kalau dapat yang sesuai, kalau engga?  gak enaknya doeble kuadrat bro !
Nah itu untuk tatanan keluarga, paradigma yang bikin ngebaperin itu bisa dirubah jadi pengkondisian, kalau kawan, sahabat yang turut ribut nodong undangan, gimana?
Masih bisa mengubah hal yang mengundang baper itu menjadi sesuatu yang lebih enakan dihati?
Bisa kok bisa, kalau aku sih dimasa rentan serangan tanya kapan ini diolah alih menjadi bahan nutrisi merancang ramuan kata hehe..
Semisal tulisan ini, lumayan kan bisa untuk menuhin postingan blog wkwkwkwk....

Menertawakan Keresahan

Menertawakan keresahan...
 Teringat salah satu acara ajang pencarian bakat yang kini menjadi booming. Yups stand up comedy, para comica sebutan bagi mereka yang pandai mengocok perut dengan gaya berkomedi seorang diri. Mereka para comica tersebut, selalu ditantang oleh pementornya untuk membawakan keresahan sebagai materi yang dibawakan untuk menghadirkan tawa yang pecah atau grrr yang berantakan Menertawakan Keresahan...
Lalu apa kaitannya dengan postingan kali ini? mari kita sedikit bercermin dari stan up comedy, selalu ada kebaikan yang tak kasat mata dalam banyak hal.

 Menertawakan Keresahan.
Mungkin iya, menjadi alternatif penghibur lara kala dirundung gelisah dengan mertawakan keresahan.
 " Aku Gelisah"
 "Aku Galau"
 "Aku Andilau"
 Pernah menemukan postingan ini di jagad sosmed? yups, ini bagian dari menertawakan keresahan. Tapi perlu dicatat ada beda tipis antara alayers dengan menertawakan keresahan yang menjadikan diri kita sebagai diplomat ulung dalam soal negosiasi perasaan untuk berdamai dengan hati. Dan dalam keduanya, memahami lebih baik daripada menghukumi.

 Menertawakan keresahan....
Ada hal lain juga yang harus kau ingat? agak kurang elok jika menyerang setiap muda-mudi yang menertawakan keresahan dengan sebutan alay. Karena muda-mudi hari ini adalah lebih banyak bagian dari generasi Y dan Z. Oh bukan, tentu kita tidak sedang membahas persamaan linear. Y dan Z adalah sebutan generasi yang hari ini mendominasi. Singkat jelasnya, generasi Y adalah generasi Milineum dengan kelahiran antara 1981- 1994 dan mulai terbiasa dengan teknologi sedang Z atau I-generation adalah mereka yang lahir dari tahun 1995-2010 yang sedari kecil, generasi ini sudah akrab dengan gedget . Tentu dengan karakter yang berbeda tersebut, perlu kiranya sentuhan yang berbeda. Jika generasi dulu sebelum generasi X terbiasa menikmati kehidupan dengan rintihan dan perjuangan tentu tak ada episode bagi mereka untuk menertawakan keresahan karena zaman telah menjadikan mereka pribadi yang tangguh. Berbeda dengan masa kini yang didominasi oleh generasi Y dan Z. Terbiasa dengan kemudahan dan serba instan dan hal itu pun menjadikan mereka selalu ingin ada pada zona nyaman.Hingga tak aneh, sedikit saja mereka bersentuhan dengan masalah, mereka akan bersorak "Aku Galau". Ya, mereka menertawakan keresahannya.

Bahwa memahami adalah bagian dari terfahami, maka berbicaralah sesuai dengan masanya, benar bahwa ada hal mutlak yang tak lekang oleh waktu tapi menjadi tugas bagaimana menyampaikannya. Akan selalu ada beda dalam setiap beda. Dan  relatif itu cantik karena cantik itu relatif begitu maenstream. Relatif dalam menilai beda berarti cantik dalam beda. Selamat geleng-geleng kepala jika rumit dalam mencerna kalimat penutup ini  karena sekali lagi, selamat mencoba untuk menertawakan keresahan.

Review film horor Munafik

Belakagan ini dunia maya dikejutkan dengan film horor made in Malaysia yang tersebar secara viral. Yups, film Munafik  yang saya maksud. Film horor anti maenstream menurut saya. Sekalipun saya awam terhadap dunia perfilm-an tapi review saya akan  film ini sebagai film horor yang berkualitas bukanlah sesuatu yang berlebih. Film horor yang feel-nya jauh lebih terasa dan dekat dengan realita dari kondisi sosial masyarakat. Jauh dari kesan dramatisasi tingkat dewa.
Film ini pun sarat dengan hikmah, sisi film horor yang antimaenstreamnya begitu terlihat dari ketegangan sampai level klimaks  dihadirkan dengan tanpa menciptakan tokoh rekaan makhluk tak kasat mata seseram mungkin. Seperti The Counjuring dengan tokoh ciptaannya si valak yang juga sempat meramaikan jagad sosmed. Tak bisa dipungkiri bahwa perkenalan dengan tokoh kuntilanak, genderewo, jelangkung dan kawan-kawan lainnya adalah dimulai dari tayangan media cetak yang mereka -reka sosok yang bernama setan tersebut. Pun film ini dibumbui dengan balutan kasus mengungkap sebuah mistri dengan pemanis cerita yang unpredictable.
Film ini mengisahkan tentang seorang ustadz yang bernama Adam diberi kelebihan, bisa meruqiyah dan melepaskan orang lain dari gangguan syetan. Namun lepas kepergian istrinya, ia sempat terpuruk dalam ratapan kesedihannya juga sulit untuk dimintai lagi pertolongannya.Tapi ketika salah satu warga masyarakatnya yang berama Maria terkena gangguan Iblis dan ia mau tak mau harus membantunya. Perjalanan Adam dalam melepaskan Maria dari gangguan Iblis juga mengungkap dalang dari terganggunya hidup Maria begitu menarik dengan akhir cerita yang diluar prediksi.
Judul munafik ini sempat menjadi teka-teki yang mengasyikan, siapa tokoh dari latar judul film tersebut? Film tersebut sengaja dibuat spot yang bertanya-tanya sampai ending cerita. Pemgambilan spot tersebut berhasil membawa sudut pandang penonton yang memprediksi Adam dan juga Ibu tirinya sebagai tersangka dari tokoh munafik tersebut. Adam dengan ketidakikhlasannya dalam melepas kepergian istrinya.Orang kedua yang dicurigai sebagai tokoh munafik  adalah Ibu tirinya yang sempat didapati memiliki benda yang diyakininya sebagai jimat yang bisa melindungi.Ending cerita terungkapnlah siapa dalang dibalik terganggunya Maria yang ternyata ayah kandungnya sendiri dengan bertopengkan jubah dan sorban, kerap kali mendatangi mesjid namun ternyata ia adalah sosok pemuja iblis yang juga penyebab meninggalnya Zulaikha yang tak lain istri dari Adam.
Dan sarat hikmah yang kita dapat dari Film ini adalah tentang ikhlas agar tak ada noda munafik menghiasi hati. Sesulit apapun ia, adalah harus diperjuangkan. Dan garis bawah lainnya adalah bahwa ikhlas tak ada dalam kemaksiatan. 

Penikmat buku, General dalam Membaca dan Berkata dalam Aksara

Membaca adalah perintah pertama dari surat cintaNya, dan banyak alasan "karena lainnya" yang melatarbelakangi perintah tersebut. Sebagiannya adalah mengajari kita makna hakekat, mengajari kita memahami yang tersurat bahkan tersirat. Meluaskan cakrawala, menerbangkan pijakan kaki ke hamparan tanahNya yang maha luas meski raga tak bergeser sedikitpun. Dan zaman pun berbicara, ketika lintasan informasi begitu cepat melesat hingga tak sempat kita untuk meng-crosceheck kebenarannya. Betapa imformasi begitu mudah menjadi asumsi, tak terklarifikasi kebenaran maka ia bisa menjadi senjata yang meluluhlantakan bangunan. Namun buku tetaplah buku, tak akan pernah terganti dihati para penikmatnya, meski tulisan telah terkonversi  dalam halaman PC atau smartphone.
Dan berbagai genre buku pun mewarnai pasaran,  fiksi dan non fiksi adalah peng-kategori-an yang paling sederhananya. Dan Novel masih menempati ruang spesial bagi para penikmatnya. Terlepas dari berbagai macam genre Novel, Novel kerap menjadi buku yang paling laris di pasaran. Menjadi teringat kutipan dari sebuah status yang di posting oleh mas Dwi Suwiknyo, postingan yang menginspirasi saya untuk menulis ini, dan abaikan kalimat ketiganya jika dengan membaca kalimat ketiganya membuat anda baper hehe.
"Bacalah buku sastra agar hatimu peka, betapa banyak masalah kemanusiaan yang harus kita rampungkan." (Sastrawan)
"Bacalah buku yang tebal, betapa banyak halaman yang harus kita baca, setebal itu pula ilmu yang akan kita dapatkan." (Dwi Suwiknyo)
"Bacalah buku tabungan agar engkau bersiap-siap, betapa banyak uang yang harus dikumpulkan untuk menggelar acara walimah." (Jomblo Galau)
In my humble opinion, para penikmat buku tak mesti membatasi diri dalam jenis buku santapannya. Menjadi seorang yang general dalam menikmati buku.  Saya sempat menjadi orang yang pernah membatasi buku bacaan,  membatasi diri untuk tidak menggandrungi buku yang ber-genre-kan novel. Padahal awal mula saya mencintai membaca adalah dari novel. Mungkin saya sempat menjadi kacang yang lupa pada kulitnya. Hiks maafkan. Beberapa alasan yang membuat saya mem-pensiun-kan diri adalah karena ingin keluar dari zona yang melankolis dan ingin mulai berfikir analitik, tidak tenggelam dalam roman picisan dan meng-explore dunia lain hehe. Tapi belakangan, saya mulai kembali ke jalan benar karena tak selamanya novel hanya roman picisan saja. Berbicara masalah Novel yang masuk dalam kategori fiksi, sekalipun dia (novel ) fiktif tapi kerap dia begitu imformatif.
Saya pribadi mendapatkan detail informasi tentang sesuatu lebih banyaknya dari sebuah Novel, misalnya dari novel Ayat-ayat Cinta, detail tentang Mesir dan ragam budayanya lebih saya dapatkan dari  novel yang menjadi best seller tersebut,  ketimbang artikel atau bahkan mengalahkan cerita dari orang yang pernah menginjakkan kaki kesana. Benar saja, bahwa pengalaman yang kita bisikkan pada lembaran kertas dan kita poles dengan bahasa sastra, jauh lebih hidup dari cerita lisan yang kita sampaikan. Mungkin ini menjadi alasan, asumsi tentang tulisan berlanjut bahwa tulisan lebih dari sekedar abadi. Dari sanalah para penikmat buku mulai memanjangkan jangkauannya, korelasi yang saling mempengaruhi, dari mulai membudayakan membaca biasanya akan melahirkan insting  ingin menulis.
Satu dua bahkan ribuan ynag telah diketik lalu delete yang kau temui adalah bagian dari seninya menari diatas keyboard.  Teruslah menari,  Olah saja tulisanmu, sampai tarian jemarinya menemukan harmonisasi aksara yang indah. Tak perlu risau dengan view yang tak kunjung meningkat, dengan tulisan yang gagal maning-gagal maning dalam perlombaan. Atau karya yang terus ditolak oleh pacar (read: penerbit). Tugasmu hanya dua, Baca dan menulislah. Cukup intensifkan, interaksi sebagai penikmat buku. Berdialog dengan cara bermonolog. Cara asyik memilih telinga bumi adalah dengan berbisik pada tulisan. Sedang kau perlu banyak buku yang harus kau baca, untuk bisa menuliskan satu paragraf. Maka sebanyak itulah pengkali kuadrat buku yang harus kau baca untuk menulis satu topik bahasan. Dan kabar baiknya minat dan ketekunan bisa mengalahkan bakat.





Resume Buku Kontribusi Muslimah Dalam Mihwar Daulah



Resume Buku Kontribusi Muslimah Dalam Mihwar Daulah
Penulis : Sumaryatin Zarkasyi
Tebal Halaman : 172
ü             Pendahuluan
Ajaran Islam hadir bukan sekedar memberikan nuansa ini boleh dan itu tidak boleh. Isalm adalah satu-satunya risalah yang memiliki karakteristik seimbang dan lengkap.
Syeikh yusuf qardhawi, manhaj Islam meletakkan anak timbangan secara seimbang antara rabbaniyah dan insaniyah, antara akal dan wahyu, antara individualisme dan kolektvisme, antara idealita dan realita, antara tanggung jawab dan kebebasan, antara konservatif dan inovatif, antara kewajiban dan hak, antara kehormatan dan toleransi
ü      Siyasi
Makna harfiah : Pemeliharaan atau pengendalian atau pelayanan
Menurut Ibnul Qayyim dlm buku as-siyasah al hakimah, siyasah adalah semua aktifitas yg mendekatkan manusia pada kemaslahatan dan menjauhkan mereka dari kerusakan, semua jalan yg bisa mengantarkan pada keadilan maka jalan itu bagian dari agama ini.
·         Akhawat bersiyasah??
“Dan orang-orang yg beriman lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah  penolong yg lainnya. Mereka  menyuruh mengerjakan yg makruf, mencegah dri yg mungkar, mendirikan shalat dan menunaikan zakat (at-taubah:71)
Dari Ibnu Mulaikhah bahwa Asma berkata “ saya melayani urusan rumah tangga Zubair. Dia memiliki seekor kuda yang saya urus, bagi saya tidak ada pelayanan yang paling berat selain siyasatu al-faras (mengurus kuda). Saya mencarikan rumput, memberi makan, mengurus dan menumbuk biji-bijian untuk makanannya. Kemudian ia dihadiahi seorang pelayan oleh Rasulullah saw”  Asma berkata “maka terbebaslah saya dari siyasatu Al-Faras, Maka pemenuhan kebutuhannya bukan lagi menjadi  pekerjaanku” (HR. Muslim)

Hak akhawat muslimah
  1.      Hak pribadi
Hak memilih suami, hak mahar, pengasuhan, hak tempat tinggal dan nafkah, hak atas kepemilikan pribadi
2.       Hak umum
3.        Hak amar maruf nahi mungkar, hak mengajar, hak bekerja, hak terlibat dlm pemilihan umum.hak menjadi anggota dewan, hak untuk memangku jabatan publik kecuali imamah kubra.
Tinjauan Hukum
Ahli fiqih mufakat menjaga agama termasuk dharuriyat, jadi apabila keikutsertaan muslimah dalam pentas politik bertujuan untuk menjaga agama, hukumnya mubah, dan bahkan bisa dianjurkan degan ketentuan etika syar’i yg harus dilaksanakan degan baik.
ü  Maratibul Amal
*        Ishlahu An-Nafsi(perbaikan diri)
Kemenangan politik fase ini adalah munculnya nafsu mutmainah (jiwa yang tenang)
Kontribusi akhwat dalam fase ini: memulai dari diri sendiri, menjadi tauladan dan mengispirasi minimal kerabat terdekat.
*        Takwin Bait Al-Muslim (pembentukan keluarga Muslim)
Kontribusi dlm fase ini :menjadi istri sholehah, menjadi anak sholehah, menjadi ummi madrasah, teladan, Taurits (pewaris).
*        Irsyad Al-Mujtama(pembentukan masyarakat Muslim)

Unsur penting dalam siyasatu al-mujtama adalah hizbullah. Hizb adalah kelompok-kelompok dalam masyarakat dengan ikatan-ikatan tertentu dan dengan tujuan tertentu.
Kontribusi dalam fase ini : berdakwah dan memahami metode dakwah, berkhidmah dengan profesi dan keilmuan, peduli dgn problem2 pokok masyarakat.
Cermin pejuang perubahan dalam masyarakat:
ü  Nyai Haji Ahmad Dahlan
Istri dari Ahmad Dahlan sekaligus pendiri dari Aisyiyah yaitu lembaga khusus perempuan dalam organisasi Muhammadiyah yang memperkenalkan pemikiran bahwa perempuan mempunyai hak yang sama untuk menuntut ilmu.
ü  Dewi sartika
Lahir dari keluarga priyayi sunda dan pendiri Sakola Istri yang juga gigih memperjuangkan pendidikan untuk kaum wanita.

*        Tahiru Al-wathan (Membela Negara)
Tahapan keempat dalam maratibul amal adalah membangun kembali eksistensi umat Islam .
Cermin keikutsertaan perempuan dalam Tahiru Al-wathan:

ü  Malahayati
Pejuang wanita dari Aceh, pemimpin 2000 pasukan Inong balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu dan mendapat gelar Laksamana.
ü  Cut Nyak Dien
Pejuang wanita dari Aceh, terkenal sebagai pejuang wanita yang anti berkompromi dengan Belanda. Bersama suaminya teuku Umar ia gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah bahkan sampai suaminya gugur, jiwa perjuang tak pernah surut. Dalam usia senjanya, Cut Nyak Dien pernah menyembunyikan diri dihutan dengan makanan yang seadaya bahkan panglimanya yang bernama Pang Laot Ali menawarinya untuk menyerah sebagai jalan pembebasan utapi Cut Nyak Dien menolak, kemudian panglimanya berkhianat dengan melaporkan keberadaannya dengan syarat jangan melakukan kekerasan terhadapnya, ia masih sempat melakukan perlawanan dengan mengangkat rencong. Selanjutnya Cut Nyak Dien diasingkandi Sumedang dan dikenal sebagai ibu perbu.



Zentgraaff mengatakan para wanitalah yang merupakan de leidster van het verzet ( pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu. Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor.
*        Ishlahu Al-hukumah (perbaikan hukum)
Dakwah adalah upaya untuk melakukan taghyir( perubahan). Dalam cakupan keluasan makna dakwah itulah politik menempati posisinya. Bagi perempuan muslimah, aktif dan mendayagunakan hak politik adalah bagian dari upaya untuk mengubah serta melakukan perubahan masyarakat  dan negara ke arah yang lebih sejahtera dan Islami.
            Politik yang sarat makna dakwah tidak memberhentikan terminal politik pada kekuasaan, tetapi membimbing arahnya pada perubahan yang substantif pada upaya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan pada seluruh sektor kehidupan masyarakat.

Menurut Hasan Al-Banna, diantara hal-hal yang menjadikan titik tolak dan dasar bahwa seorang muslim itu politikus adalah sebagai berikut:
·         Integralitas Islam mewajibkan adanya perjuangan politik
·         Negara adalah cermin fikrah
·         Seorang muslim tidak boleh menyianyiakan pemerintahan
·         Umat harus menuntut hak-hak keislamannya pada pemerintah
·         Pemantapan, penyebaran dakwah dan perjuangan konstitusional adalah sarana paling aman bagi masyarakat
·         Pemerintah adalah bagian dari rukun islam
·         Proporsional dan rasional dalam sistematika berinteraksi dengan berbagai masalah pemerintahan
Kontribusi dalam fase ini : mendorong perundang-undangan untuk melindungi perlindungan dan pemecahan masalah keluarga, menguasai elemen kepemudaan,memberikan perhatian untuk dunia anak



*        Siyasatu At –Daulah (mengelola daulah)
Kemenangan fase ini adlh  : terlibat khilafah ala minhaji nubuwah
Kontribusi dalam fase ini : terlibat aktif dalam LSM, organisasi dan lembaga profesi, menjadi birokrat dan jalan lain untuk berkontribusi
*        Ustadziyyatu Al-Alam
Tegaknya kepemimpinan dunia degan penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
ü  Karakter Muslimah di Mihwar Daulah
*        Takwa,
*        Sejahtera
Standar aman dan makmur
Menyangkut aspek ekonomi, keamanan fisik, dan kenyaman psikologis
*        Cerdas,
*        Berdaya
*        Berbudaya
ü  Menjadi Pahlawan
*        Pahlawan untuk diri sendiri
Memenangkan bisikan kebaikan dlm setiap pertempuran dalam diri
*        Pahlawan untk keluarga
At-tahrim :6
“peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka


*        Pahlawan bagi masyarakat
Kemajuan masyarakat Islam tdk hanya diukur oleh kekayaan kaum muslim tapi kombinasi yg baik antara kekayaan dengan sedekah dan zakatnya, antara penumpukan hrta dan penggunaannya, antara hasrat mencari kesejahteraan dgn kebersihan caranya.

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: