Kuda Mesin dan Sebuah Keresahan

Pada zaman dulu, saat kuda mesin belum merajai jalanan, otomatis sebagian kids zaman old menjadi customer angkot. Namun alternatif menjadi cust angkot tak selamanya ternikmati karena satu dua hal apalagi bisa memiliki alternatif seperti kids zaman now yang memiliki pilihan lain selain menjadi cust angkot, gojek online.

Seperti pada satu moment tertentu, saat mengikuti agenda leadership Camp yang diselenggarakan oleh KAMMI *nostalgiaModeOn
Otomatis objek tempat adalah daerah terpencil tepatnya di kaki Gunung Cikuray dan sulit menemukan sarana transportasi, mungkin kali itu time is olahraga, jalan kaki kuy....

Ngah-ngeh-ngoh jadi ritme  yang mengikuti irama kaki. Sempat dapat tawaran pinjaman motor, hanya sayang kali itu baru bisa menaiki saja tanpa bisa mengemudi. Saat keahlian itu belum juga termiliki. Hal - hal serupa ini sering kali dirasakan, sampai pernah salah seorang teman berujar, " ngah- ngeh- ngohna akhawat dalam safari dakwah adalah godaan ikhwan, karena bawaannya pengen ngehalalin"

Semangat belajar ngedrive itu pun dihidupkan, yang penting bisa aja dulu. Memiliki motornya bisa menyusul. Tapi kemudian saat
kemandirian akhawat semakin terasah lebih dari sekedar bisa mengemudikan sebuah kuda besi, suara resah itu terdengar.

"Semakin akhawat mandiri, semakin resah ikhwan dan dirundung keragu-raguan untuk melangkah dan kemudian memperpanjang penantian akhawat", kira - kira pernyataan tadi, benar apa betul?

Lain waktu, saat diskusi lepas dengan seorang yang berkecimpung dalam penelitian, mengatakan fenomena sosial hari ini saat isu  emansipasi didengungkan, geliat wanita dalam meniti karier menemukan muaranya. Dada saya sesak saat beliau menuturkan bahwa dibalik meng- kota-nya sebuah desa dari  proses industrialisasi ada angka perceraian yang semakin meningkat. Berbagai faktor melatarbelakanginya, salah satunya pendapatan istri yang lebih tinggi hingga tak ada lagi kepatuhan kepada suami. 

Sampai titik itu, akal saya sampai detik ini masih mencari "harus seperti apa menyikapi  antara idealita dan realita?" Karena cermin diri itu tahu persis kaliber diri, ada kesenjangan jauh dengan Khadijah wanita kaya yang penuh iman dan rendah hati. Jalan tengah yang harus elegan menyikapi fenomena sosial dalam kondisi zaman now. Benar, akhawat bukanlah tulang punggung melainkan tulang rusuk, hanya saja ketika pilihan untuk "sedekah keluarga" itu terpilih adalah catatan bahwa kepala bahtera dalam sebuah dermaga keluarga tak pernah akan terganti.

Filosofi Valas

Minggu kemarin dalam senja yang ditemani hujan, sebagai mahasiswa kelas karyawan saya putuskan untuk tetap pergi ngampus. Hujan adalah berkah maka tak pentas untuk dijadikan kambing hitam..

Aku memiliki impian untuk menjejakkan kaki ke luar negeri, tentu selain mempelajari bahasa asing, aku juga harus mempelajari valas atau valuta asing yang merupakan media yang digunakan dalam bertransaksi dengan mata uang mancanegara sebagai partner yang tak bisa  dipisahkan. Nah, tepatnya senja yang kemudian memasuki sabtu malam itu, dalam duduk manisku aku lamat - lamat mencerna materi tentang valas.

Pasar Valuta Asing atau yang biasa disebut Valas, adalah pertukaran uang dari nilai mata uang yang berbeda. Valuta asing merupakan suatu mekanisme di mana orang dapat mmemperoleh uang dari mata uang asing atau menyediakan kredit untuk transaksi perdagangan internasioanal, mentransfer daya beli antarnegara, dan meminimalkan kemungkinan resiko kerugian (exposure of risk) akibat terjadinya fluktuasi kurs suatu mata uang.

Dimana dalam transaksi valas yang diperjualbelikan adalah selisih kurs.  Kurs ini akan selalu terkait dengan tukar-menukar uang asing di bank atau tempat penukaran uang negara lain. Dimana kurs sendiri dapat diartikan sebagai perbandingan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain, dimana kurs mata uang suatu negara bisa menguat ataupun melemah. 

Agar lebih gampang memahami, antara kurs jual dan kurs beli. Yang harus diperhatikan adalah selaku penyedia jasa dalam hal ini bank atau money changer bukan kita sebagai orang yang butuh jasa.
Berikut ini dua hal yang harus kamu fahami dari kurs.

1. Kurs jual 
Kura jual yaitu kurs yang digunakan apabila bank atau money changer menjual uang asing (valuta asing/valas) atau apabila kita akan menukarkan rupiah dengan uang asing yang kita butuhkan.


Contoh kurs jual
Resti akan liburan ke Eropa. Karena mata uang yang berlaku di eropa mayoritas euro,  Resti harus membawa mata uang tersebut. Dengan menukarkan rupiah yang dimilikinya di bank atau money changer, Resti bisa mendapatkan mata uang Euro.
Ketika  Resti akan menukarkan uang, saat itu harga kurs jual 1 EUR = Rp15.000,00. Sedangkan kurs beli 1 EUR = Rp14.000,00. Karena Resti pemilik rupiah, sedangkan bank atau money changer yang akan menjual uang asingnya, maka dalam kondisi ini yang berlaku kurs jual.
Jadi, berapa euro yang akan Resti dapatkan jika menukarkan 90 juta rupiah?
Jawab : Rp60.000.000,00 : Rp15.000,00 = €6.000

2. Kurs Beli
Kurs beli adalah kurs yang digunakan apabila bank atau money changer membeli uang asing atau apabila kita akan menukarkan uang asing yang kita miliki dengan rupiah.

Contoh kurs beli, Ade memiliki tabungan sebesar 150.00p yen. Saat itu kurs beli sebesar Rp. 124. 45 sedangkan kurs Jual 125. 60. Jika ia menukarkan ke bank atau money changer, berapa Rupiah tabungan yang dimiliki Ade?


Dalam kasus ini, Ade memiliki uang yen sebesar 150.000. Ade sebagai pemiliki mata uang asing yang akan menjual sedangkan bank sebagai pembeli mata uang yen tadi. Maka dalam kasus itu Ade terkena kurs beli, jika Kurs beli saat itu adalah 124. 45 maka penyelesaiannya menjadi :
Jawab : 124. 45 x 150.000 = Rp. 186. 6750.000

Jadi dari dua kasus tersebut, yang perlu menjadi catatan adalah dengan memperhatikan posisi Bank apakah sebagai pembeli atau penjual. Maka kurs yang berlaku sesuai dengan posisi bank bukan posisi nasabah yang digunakan.

Pun dengan kehidupan kita, kadang dalam menilai satu hal yang harus kita gunakan adalah sudut pandang orang lain bukan sudut pandang diri sendiri. Itu adalah siratan dari hikmah yang tersirat dalam materi kuliah itu. Hujan kali itu masih mengguyur kota intan, aku rapalkan do'a semoga ilmu ini bermanfaat dan bisa ku aplikasikan suatu hari dalam menjelajah tanah-Nya yang maha luas.

Pribumi, Kosa kata Yang Mampu Menyatukan

Pribumi, Kosa kata Yang Mampu Menyatukan


Belum genap satu hari dari pelantikan Gubernur terpilih DKI Jakarta. Cuit penggunaan kata pribumi seketika mencapai lebih dari 134. 000 . Dalam pidatonya itu, berikut kutipan Gubernur Anies Baswedan  yang hangat diperbincangkan publik.

"Dulu kita semua peribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telon, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami". 

 Cuitan maya itu membentuk pagar hastag ribuan. Memunculkan pertanyaan  di permukaan, tentang sila ketiga dari dasar negara kita, Persatuan Indonesia. Satu sisi menyuarakan sabda sanggahannya, bahwa apa yang dilontarkan oleh sang penguasa akan menyurut perpecahan. Satu suara anggukan lainnya menyatakan bahwa pernyataa  itu sangat tepat dengan kondisi kekinian. Agar tuan rumah berdaya di rumah sendiri dan agar masa kolonialisme itu tak terulang kembali.

Tidak bisa dipungkiri, kontroversi itu masih erat kaitannya dengan pertarungan dua kubu lalu dalam Pilkada Gubernur kemarin. Dimana nuansa konflik itu sangat kental sekali, isu sara menjadi makanan empuk setiap harinya. Hingga sering dijumpai dalam  pentas pemilihan penguasa baru itu  mampu membagi dua kubu bahkan dalam satu biduk rumah tangga.  Meski ketukan palu telah menghasilkan wajah baru sebagai penguasa Ibukota, pro kontra akan tetap mewarnai. Adalah Anies Baswedan yang pernah menjadi rektor termuda di Universitas Paramida yang juga kemarin mencuri perhatian masyarakat serta memancing riak kontroversi.

Baku ciutan saling mengkomentari itu riuh ramai menghantam jagad maya. Benang kusut pun terurai. Seolah melupakan cara mengsinergikan bagaimana mempribumikan diri dalam persatuan Indonesia. Padahal sudah dalam hitungan lama, masyarakat Indonesia dengan kemajemukannya berasama dalam etnitas bernama bangsa

Berfikir ulang tentang makna kosakata "Pribumi" dan "Indonesia", rasanya dua kosakata tersebut memungkinkan untuk membentuk satu kalimat bermakna "Persatuan".  Arti kosakata Pribumi menurut KBBI, adalah penghuni asli. Sementara mem-pribumi-kan adalah menjadikan milik pribumi. Sedangkan persatuan masih menurut KBBI adalah gabungan daei beberapa tang sudah bersatu. Dua kosa kata tersebut  bisa membentuk kalimat tanpa mesti berjalan masing - masing membentuk kalimatnya sendiri- sendiri. Bahwa menjadi seorang Pribumi yang baik dengan segala makna yang dikandung didalamnya akan membentuk Persatuan. Pribumi yang berdaya di atas kakinya sendiri kemudian mengulurkan tangan menengok kanan dan kiri lalu melangkah bersama membentuk persatuan.

Meng-KAMMI yang tak kalah mengesankan dari meng-KITA

Masa kuliah adalah masa dimana pilihan untuk berkembang itu terbuka lebar. Terbebas dari rapor yang harus terhindar dari keterangan alpa, bolos sekalipun tak perlu lagi menitipkan surat tetapi diganti dengan titip absen siluman. Ini adalah bagian dari fase dimana seseorang akan menerima konsekuensi dari pilihannya.Akan sangat disayangkan jika masa kuliah hanya dihabiskan untuk kuliah lalu pulang saja apalagi hanya sekadar kuliah lalu nongkrong.

Pintu untuk berorganisasi ketika masa kuliah itu adalah kesempatan yang berhak untuk kamu rasakan, bisa terlibat dalam organisasi intra kampus atau ekstra kampus. Atau bahkan menjadi seorang double player yang menjadikanmu semakin lekat dengan dinobatkan sebagai aktivis. 

KAMMI adalah salah satu organisasi ekstra kampus yang lahir ketika masa orde baru dan patut untuk kamu pertimbangkan, dimana salah satu keuntungan terlibat dalam organisasi ekstra adalah meluaskan jaringan. Di sana kamu akan digembleng bukan untuk sekadar menjadi mahasiswa, tetapi menjadi seorang yang berkarakter pemimpin dengan jiwa hanif dan intelektualitas bernalar ilmiah yang tak abai dengan kondisi sosial masyarakat. Kadang pandangan mahasiswa mengenai organisasi ekstra seperti KAMMI bak memandang materi perkuliahan yang sukar, padahal banyak hal menyenangkan yang juga dirasakan aktivis KAMMI.

Berikut ini adalah hal-hal pengalaman berkesan yang sering kali dirasakan oleh aktivis KAMMI.

1. Menjadi Mansur.

Mansur alias manusia syura, pesan dari ponsel seorang kader KAMMI biasanya pasti ditemui jarkom info untuk syura. Atau ketika kamu menjadi PJ syura dengan tugas menjarkom seluruh pengurus, dari puluhan SMS yang kamu kirim, yang hadir hanya hitungan jari. Disana adalah saat yang tepat untuk melontarkan jargon kekinian, "Yang sabar mblo, ini ujian"

2. Demo

Aktivitas yang satu ini, dirasa masih menjadi benci-benci rindu oleh mahasiwa bahkan sebagian aktivis. Belum berasa menjadi mahasiswa jika belum pernah ikut aksi jalanan. Namun akan ditemui perbedaan antara aksi solidaritas kemanusiaan yang banyak diikuti oleh mahasiswa dengan aksi jalanan untuk social control kepada pemerintah yang sepi dengan masa aksi.

3. Quote ala jomblo aktivis KAMMI

Aku + kamu = KAMMI adalah quote umum kader KAMMI untuk menutupi kejombloannya.

4. Sidang Mantuba

Mantuba adalah sejenis makluk asing dari planet lain yang mewajibkan seorang aktivis untuk membaca dan memahami buku yang dijadikan pedoman untuk referensi intelektualitas dalam pergerakan KAMMI.

Saat bagian kaderisasi mengevaluasi tugas baca para kadernya, seringkali episode buku yang tertukar itu terjadi. Seharusnya buku nuansa pergerakan malah terganti dengan novela atau buku kisaran pernikahan

5. Dilema aksi atau kuliah

Sebelum seorang mahasiswa tingkat akhir digalaukan dengan pilihan maisah, kuliah, Aisyah dan dakwah. Terlebih dahulu ia akan dihadapkan dengan pilihan rumit, yakni pilih kuliah atau aksi? Dimana aksi adalah amanah rakyat, dan kuliah adalah amanah orangtua.

Lima hal itu, sering kali dirasakan oleh aktivis KAMMI dan akan terkenang dalam perjalanan hidupnya.

 

 

 

Alur yang Mencuri Hati

Kadang ada alur yg sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, seperti saat ini menyelami dunia baru dalam episode pembelajar....
Entah pula dari mana awalnya, diri ini menyukai dan menikmati. Awalnya mungkin sekedar untuk mencari peralihan sebagai konsekuensi mendewasa, tetapi ada yg lebih dari sekedar mencari bongkahan berlian, ada kerlip - kerlip intan yang harus  dipikul, dijaga juga dirias agar esok hari terangnya mampu menerangi jalan kehidupan...
Dalam duduk manisku menyimak pemaparan, bukankah satu barang saja ada pengukuran nilai gunanya, lantas kita insan yang lebih hidup dari sekedar barang mati. Haruskah kehilangan nilai guna hanya karena hitungan materi?
Saat itu, saat dimana membersamai mereka dalam ruang kelas dengan detik akhir menuju bel yang dinantikan, lepas setelah do'a dimunatjatkan. Satu persatu mereka memanggul tasnya, lantas seorang siswa menghampiriku untuk menggapai tangan, satu kebiasaan yang sudah sangat dimafhumi, salaman.
Seorang siswi seketika juga memprotes "Fajar kamu mau salaman ke Bu Resti?bukan muhrim tahu !"
Luar biasa, protes itu sedetik kemudian membangunkan kesadaran. Beda kasus, jum'at lalu aku dibuat takjum dan terharu.
Saat dimana menunggui seorang siswa yang tertinggal Ulangan Tengah Semester karena sakit. Dia mengerjakan soal meski tertatih tak mampu mengerjakan dengan segala keterbatasan dia mencerna pembelajaran dengan kendala bahasa. Kemudian aku membaca lembaran jawaban B. Indonesia, dia menuliskan jawaban untuk soal dengan tulisan dua paragraf yang kurang lebihnya seperti ini " aku suka sekolah disini karena ada guru cantik dan baik juga teman - teman yang baik" dia berceloteh itu ibu. Sekelumit rasa bahagia itu hadir, entah itu gombalan atau modus seorang siswa. Yang jelas rasanya ada bunga- bunga yang bertebaran dihati ini. Terlebih setelah itu, saat tubuhku mulai menunjukan signal ketidakbersahabatannya, dia begitu saja menghampiri ruanganku dan memberi dua botol yakult. Rabb, persaksikanlah dia adalah anak yg sholeh.
"Nak, kamu tetap hebat jauh sebelum suratan raportmu harus dipulas angka Istimewa"..

Sepenggal Kenangan

Anak-anak d3 pasti ngalamin stuck moment kaya gini.
"Kagok ath, kenapa gak ambil S1 ajah sekalian?"
Kira- kira begini kali yah pilihan ganda sebagai jawaban yang cocok untuk pertanyaan diatas
A. Takdir
B. Biar cepat lulus
C. Biar cepat nikah
C. Semua jawaban benar
Yups. Bener sekali, survei membuktikan jawaban paling benar adalah D, gado - gado alias rupa - rupa alasan melatarbelakangi kami memilih menjadi pejuang diploma. Karena satu alasan tak cukup membuatmu mengambil kesimpulan, hahassikk..

Stuck moment kedua yang teralami oleh diri pribadi adalah tidak memiliki minat untuk menjadi profesional bankir tapi mengambil studi jurusan keuangan perbankan. Dan usut punya usut satu,dua, empat
( woi tiganya kelewat) teman sekelas pun mengalami hal yang sama, jadi yah wajarlah semangat belajarnya up..up..down..down..down..down..
down..down..
Terjun payung melesat kebawah..Maba masih bisa idealis harus lulus comloude, tingkat dua mulai merasa salah jurusan dan kemudian tingkat akhir yang penting lulus wkwkwkkwk...
Tapi sesalahnya tersesat jurusan, banyak kenangan yang masih saja berkelabat hangat dalam ingatan.
Moment saat praktikum bankir yang mewajibkan setiap kelompok seragaman, karena saya dan kawan-kawan sekompok mahasiswa yang menerapkan teori motif ekonomi bahwa segala sesuatunya dilakukan dengan biaya yang sekecil mungkin untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Alhasil karena kami pun mengenakan kaos panitia OSMA (Ospek) karena kebetulan yang mendukung, anggota kelompok semua aktif sebagai mahasiswa yang juga berorganisasi.
Dua diantara moment berikutnya yang selalu terngiang dalam ingatan adalah saat tugas persentasi metlit. Yang dilaksanakan bada UAS teeakhir sebagai penjuang diploma. Kecerobohan saya terulang, tugas maha penting itu tertinggal di rumah dan amat sangat merusak konsentrasi dari dua matkul yang diujiankan. Saat selesai mengerjakan, serusuh mungkin tancap gas ke rumah untuk mengambil tugas karena kesulitan saat meminta tolong orang rumah untuk mengambil dan membawakannya ke kampus. Tapu eh tapi saat sampai di kampus, nuansa galau karena korban PHP itu mulai tercium. Hitungan menit berlalu, sang dosen yang di tunggu tak kunjung data. Akhirnya kami pun melampiaskannya dengan fhoto bersama.

Gantung pena-nya Tere Liye, Antara Hobi atau Profesi?

Setelah lama tak memantau laman FB, shocking terapi muncul saat membaca postingan tentang Tere Liye yang bersepakat dengan Penerbit untuk tidak akan mencetak lagi buku karya Tere Liye. Why? Usut punya usut beban pajak yang diberikan kepada penulis sangat tinggi, bahkan penulis dengan royalti rendah pun terkena pajak, misal karya tulisan majalah  yang bilangannya bukan jutaan, pada digit seratus pun kewajiban pajak tidak menjadi gugur. Bahkan melebihi ketentuan zakat yang 2,5%. Jadi beginilah Indonesia yang pendapatan tertingginya dari sektor pajak, jadi kalau misalnya dinegara kita terjadi gerakan mangkir pajak bisa dipastikan negara kita akan seperti judul buku Tere Liye, negeri di ujung tanduk. Proud untukmu wahai para penggiat literasi, kalian adalah salah satu sumber pendapatan negara.

FYI, Tere Liye tak menjadikan penulis profesi utamanya. Sudah kita ketahui bersama beliau adalah seorang akuntan  profesional, meskipun saya pribadi tak mengetahui dengan pasti penghasilan dari profesinya sebagai akuntan tapi melihat sepak terjangnya sebagai penulis kenamaan, mencetak banyak buku best seller sangat tidak mungkin penghasilan dari menulisnya sangat tinggi dan (mungkin yah) bisa melebihi penghasilannya sebagai seorang akuntan. Keputusan ini diambil dalam upaya kritik pedas untuk pemangku kebijakan agar ada kebijaksanaan dalam keputusan bukan malah bijak sana, bijak sini yang lain kena bajak hehe..
Dari keputusan Tere Liye ini, mungkin saya mengambil hipotesis bahwa Tere Liye memang menulis dari hati atau bisalah dikatakan sebagai hobi yang dibayar bukan sebagai profesi meskipun beliau profesional bahkan mastah dalam per-novel-an. Pantas saja, yang datang dari hati akan diterima pula oleh hati. Tapi bukan satu kesalahan pula, ketika menjadikan tulisan sebagai jalan menyambung hidup. Temukan titik temu antara hobi dan profesi. Hanya terkadang ketika pilihan profesionalitas terambil, ada koensekuensi yang harus diikuti. Menulis dengan selera pasar, disini ranah industri bermain. Memenangkan hati pasar menjadi kunci.

So apapun yang terjadi,  untuk hobi ataupun profesi tetaplah menulis dari hati.

Episode pembelajar

Aku akan pergi, meninggalkan jejak kesalahan juga harapan..
Aku akan pergi, meski tak terkenang tapi membawa bingkisan kenangan dari kurun dua tahun ini...
Aku akan pergi,
Dengan kata maaf untuk pamit diri...
Aku akan pergi,
Menepis takutku menghadapi esok hari...
Aku akan pergi,
dengan memegang alunan kata yang ku coba yakini kebenarannya
"Jangan risau dengan apapun yang sudah terjamin"
Aku akan pergi,
Dengan kerisauan yang hanya boleh termiliki dari kalimat penerus selanjutnya
"Tapi risaukanlah amalan kita" karena aku akan pergi
~~~~~
Agar tak terjadi dispersepsi dalam rima  seperti apa yang pernah diposting disini..restitriherdiyanti.blogspot.com/2017/07/dispersepsi-jomblo-singlelilah-dan.html , baiklah akan ku tulis pula makna racikan kata tadi. Penggalan melodi kata tadi teralun saat keputusan resign terambil. Resign dengan segala multi alasan yg melatarbelakakinya, meski kenyamanan telah dikantongi bagaimanapun dua tahun bukan waktu yg sebentar menjadi bagian disana, tepat senin akhir july itu keputusan resign membulat.
Kini, episode peralihan yg sedang bergulir. Menyelam pada dunia baru, asing penuh dengan ketidaktahuan...
Menjadi seorang staf TU untuk sekolah yang bernama SMP Qiyadi Al-Fatih, yah sebuah sekolah yang diharapkan bisa menjadi mesin pencetak generasi pemimpin yang akan membawa peradaban pada cahya Islam. Pagi hari ada beda disana, ber-almatsurat-an terlebih dahulu untuk kemudian dilanjut Dhuha dan setor hafalan sebelum jam belajar dimulai..
Buta, sama sekali tak tahu apapun tentang dunia pendidikan, tentang segala arsip dokument yg diperlukan, tentang segala hal diluar panggung kegiatan belajar-mengajar, juga kemampuanku dalam komputerisasi  yg tak bisa dibilang high-tec menyempurnakan episode baruku sebagai pembelajar, learning by doing.
Masih mendapati waktu yg kosong, ku isi pula untuk mengajar dua orang anak, lagi...ini pun diluar basic yang kumiliki, tak mengantongi bedground pendidikan juga kondisiku sebagai penghuni terakhir ( read:bungsu )yang memang jarang bersentuhan dengan dunia anak. Sampai hari ini pun aku masih memutar cara menemukan metode yang tepat untuk belajar, agar kata "belajar" tak diiringi kata "jenuh" dalam bayangan..
Keduanya, dalam permulaan ini kerap kali merasa salah. Ah ku bisikan salah dalam belajar itu lumrah, teruskan saja bukankah pada keduanya mengajakmu untuk keluar dari zona nyaman?
Syukuri saja ketidaktahuan, itu adalah cara untuk mengundangmu berfikir dan tetap bergerak.
Sejauh ini, aku turut bahagia melihat senyum remaja yang ceria dalam mengenyam bangku pendidikan, Pun mendampingi mereka untuk belajar mengajar bersama..

Menulis, Untuk Apa?

Jejak
Kemarin dunia maya riuh ramai dengan kedatangan seorang gadis remaja yang pintar merangkai kata, tulisannya menjadi viral sampai mengantarkannya ke istana dengan undangan-undangan yang berdatangan masuk menghampirinya. Meski kemudian diketahui tulisannya mengandung plagiat. Plagiat? What is the meaning of plagiat?
Menurut Kamus Besar Indonesia (KBBI) plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan sendiri.
Tapi tak bermaksud mengiyakan argumentasi gadis remaja tadi yang menghebohkan sejagad maya itu, hanya boleh jadi benar bahwasannya seorang penulis ada masanya menjadi "plagiator" untuk kemudian sampai di tahap "Creator"
.
Jadi mengenang kembali, zaman dimana blog ini ramai justru dengan konten yang terindikasi mengandung unsur plagiat, boleh dibilang tulisan yang mendatangkan jumlah viewers yang banyak dan pemecah rekor sampai ribuan itu  mengandung unsur plagiat meski dosa plagiat itu diiringi dengan penyertaan daftar pustaka pada akhir sesi postingan yang berbau jurnal ilmiah tadi. Artikel ilmiah sudah pasti berbeda dengan tulisan opini ataupun curhat, karena otomatis mengikutsertakan pendapat-pendapat tokoh didalamnya yang kita kutip sabdanya. Dan tipe postingan ilmiah adalah salah satu tipe tulisan dimana begitu mudah mendapatkan visitors, bahkan mengundang repeat visitors karena berbagai kebutuhan untuk memenuhi referensi pemenuhan tugas. Berbeda dengan tulisan curcol, satu kali telah diketahui alur ceritanya, sulit untuk mengundang kembali sebagai pengunjung selain meluaskan jangkuan pengunjung blog kita. Maka jika untuk mendapatkan banyak pengunjung, pelajarinya teknik seo-an dan riset kata kunci apa yang trend di pasaran. Pun itu berlaku juga untuk mendapatkan uang dari blog entah dengan space iklan yang ditawarkan ataupun menjadi bloger review

Lalu kenapa tidak mengisinya kembali dengan jurnal-jurnal ilmiah jika mudah  mendatangkan banyak pengunjung? Kembali kepada pertanyaan, kita menulis untuk apa?
Sejujurnya, mempostingan artikel dan jurnal -jurnal tadi lebih untuk mengabadikan moment saat masa-masa ngampus dulu, bukan hanya potret diri saja yang bisa terabadikan, tapi masa njelimet dengan tumpukan tugas pun bisa banget di abadikan. Kan lumayan nyambil ngerjain tugas sembari mengisi blog, kata pribahasa sambil berenang minum air kemudian tenggelam, eh. Itu alasan dibalik bertahannya saya dari domain gratisan ini, padahal mah menyesuaikan budget wkwkwk *sundanisModeOn

Nah, setiap kita memiliki passionnya. Menjadi penulis pun ada spesialisasinya, passion tulisanmu dimana? Jika belum ditemukan, perbanyak buku bacaan. Nah iya, kalau untuk menjadi seorang pembaca jadilah seorang yang general, baca apapun jenis perbuku-an bahkan seandainya kamu seorang magister atau doktor ekonomi bacalah buku kedokteran, siapa tahu nemu formula untuk mengobati penyempitan pembuluh dompet wkwkwk. Terus gali sampai akhirnya kamu yakin tulisanmu yang gue banget tuh disina bukan disini hehe.


Seorang penulis berbagi tentang resepnya untuk memulai menulis, dari 3D. Apa yang dikuasai, apa yang disukai dan apa yang dipelajari. Silahkan bedah bidang-bidang apa yang kita kuasai, disukai juga sedang dipelajari. Ini akan sangat berguna untuk inspirasi tulisan-tulisan kita kelak. Kita sudah sangat familiar dengan kalimat bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, pun dengan minat yang mengalahkan bakat. Itu artinya banyak jalan menuju penulis. Mainkan saja penamu, tugasmu taat bukan?




Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah

Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah


Kali ini dibuat manggut-manggut, turut merasakan, iya. sama aku pun pernah merasakan..
Dalam forum udara pegiat literasi, ada yang mengeluhkan. Bait racikan hasilnya, seolah hanya dipersepsi dengan status kesendirian, atau nuansa hati yang sedang dilema. Dalam arti bahasa gaul, mereka yang berpuisi ria seolah sedang galau.
Andai bisa dimengerti,  racikan kata tanpa dramatisasi kalimat seumpama sayur tanpa garam. Sampai seorang teman berujar, "Jangan memposting melodi-melodi sendu jika kamu seorang jomblo" begitulah nasib jadi jomblo akan selalu dipersepsi rentan terkena infeksi virus andilau ( antara dilema dan galau), padahal dengan menikah bahkan kematian masalah tidak mungkin pernah selesai, soal postingan melodi, kita tak pernah tahu arti yang sebenarnya, sejatinya selalu ada konteks dibalik teks,  dan selalu ada makna yang tersirat dibalik yang tersurat.

Lain kasus, sebuah artikel memancing perhatian. Katanya fenomena aktifis dakwah hari ini seolah hanya berkutat pada singelillah, nikah ya begitulah. ..
Hmmm... bukan karena membela rekan jomblo sejawat, dibalik kesendirian seseorang kita tak pernah tahu ada banyak insan yang menikmati masanya berhahahhihihehheh menjadikan tema untuk memancing punch line yang gerrrrr berantakan, pembuka sapa juga tawa dalam mencairkan suasana. Nyatanya jomblo tak semerana itu kawan..

Selanjutnya, bukan tururt memboomingkan dakwah yang katanya garis halus, sekedar kampanye anti pacaran, singelillah, nikah ya sudahlah.. Fyi, pemuda katakanlah usia maba yang sedikit lebih dewasa dari usia SMA untuk bisa menanggung beban, hari ini didominasi oleh generasi milenia kelahiran tahun 2000-an, bahasa ilmiah lainnya mengkatagorikan generasi Z, jika sedikit mengupas karakter dari generasi Z ini, mereka adalah generasi yang terbiasa dengan gadget, kabar buruknya saking terbiasa dimudahkan dengan arus informasi mereka tidak terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang merepotkan, bisa di bayangkan kehidupan generasi Z yang terlahir pada fase kemudahan informasi dan kemajuan iptek. Bersekolah, tugas ini-itu tinggal googling, ingin ini-ingin itu tinggal main jempol. Kita (setidaknya saya) leluhur generasi Z, setidaknya pernah merasakan zaman, bersekolah mengerjakan PR saat imformasi yang dicari tak ada dalam buku ataupun lks, yang dilakukan mencari sumber lainnya bisa ke perpus atau bertanya pada kakak kelas, bahkan sebelum Hp mendunia untuk berkabar ria pun, ada usaha kaki untuk berjalan menemukan wartel untuk bisa bersapa mengudara.

Sangat dimaklumi, jika karakter dari generasi Z ini lebih menyukai hal-hal yang have funny, nongki-nongki cantik di cafe-cafe, asyik berselancar di dunia maia. Itu artinya harus ada pula formalasi yang sesuai dengan kondisi kekinian. Jika kita tidak ikut berkecimpung di dalam dunia mereka, manabisa kita menarik mereka untuk bijak dalam internet misalnya. Dan hari ini tema yang  bisa diterima oleh semua kalangan masih ditempati oleh tema jomblo, memang tema jomblo ini juara bertahan yang tak tergeserkan sepanjang zaman. Coba tengok postingan kang Emil, gaya tuturnya selalu membawa kaum jomblo, bandingkan dengan postingan dia yang serius (politik) jumlah likesnya jauh menurun ketimbang postingannya yang berkawan dengan kaum jomblo.

Bukan pemakluman, karena memang tak tak dipungkiri fenomena hari ini aktifitas dakwah riuh ramai dengan syiar kampanye anti pacaran, hanya jika itu menjadi wasilah untuk mencerahkan bahkan mengetuk pintu-pintu keberkahan dalam menyongsong peradaban dengan bonus pundak-pundak mereka kemudian menguat dalam barisan, salahkah?
Mata Kuliah dari Sebuah Novel Tere Liye (Review Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk)

Mata Kuliah dari Sebuah Novel Tere Liye (Review Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk)


Review Dwilogi Novel Tere Liye
Judul 1: Negeri Para Bedebah
Terbit: Juli 2012, Cetakan ke empat Mei 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 433 halaman

Judul 2: Negeri di Ujung Tanduk
Terbit: April 2013, Cetakan ke tiga Mei 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 halaman

Sudah ku bilang, novel itu bukan sebatas roman picisan, dia fiktif tapi bisa sangat informatif. Serial novel ini adalah SKS tentang ekonomi juga politik yang paling asyik ku pelajari. Karenanya aku mengerti tentang perkawinan antara Ekonomi dan Politik.  Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk adalah dwilogi novel Tere Liye yang antri maenstream. Novel  fiksi tapi nyata, bak mengadopsi cerita true story yang  mengungkap keanehan dalam kenyataan hidup. Kita sudah sangat mafhum dengan kemampuan Tere Liye dalam merangkai kata, pun dengan novel ini sukses berat membawa kita tersesat pada sebuah negara antah berantah seperti judulnya berada di ujung tanduk, bukan karena Negara Api menyerang melainkan para bedebah-bedebah bertopeng yang juga tak kasat mata. Yah meski aku menggerutu aneh, kenapa buku sebagus ini tidak (belum, mungkin ) best seller atau diangkat dilayar film? Aku tak bisa membayangkan jika dwilogi novel ini diangkat menjadi sebuah film, mungkin setiap penonton akan berceloteh ala manusia lupa ingatan, aku dimana, itu Indonesia?

Bagaimana tidak, konflik dimulai ketika sebuah bank sebut saja Bank Semesta mengalami kebangkrutan total (mirip dengan bank Cent****) Tom sebagai tokoh utama berperan untuk menyelamatkan Bank tersebut dimana pemiliknya adalah Om-nya sendiri, Liem Soerja. konflik batin dimulai ketika Tom yang sangat idealis dan berprofesi sebagai konsultan keuangan  mengerti betul ihwal mula kebangkrutan ini dimulai yang tidak lain karena ketamakan manusia-manusia kapitalis. Dia menaruh benci karena menganggap awal dari kenapa dirinya sebatang kara adalah karena ketamakan om-nya dalam menjalankan bisnis reksasa yang dimilikinya. Iya, sang tokoh dikisahkan memiliki masa lalu yang kelam, orang tua yang terbunuh karena arisan berantai milik keluarga, dan kepahitan masa lalu itu yang menjadikan Tom dewasa belajar banyak sehingga membawanya di puncak karir.Tapi dia tak bisa berdiam diri begitu saja menyaksikan Om-nya menjadi buronan padahal sejatinya ada bedebah dibalik bedebah lainnya yang masih berusaha keras menguras kekayaan ekonomi negara juga pada akhirnya dia mulai mencium motif tersendiri dari orang-orang disekitar Om-nya yang mengingkan kehancuran keluarga.

Pada sekuel pertama, semua tokoh seolah memiliki kebedebahannya masing-masing. Termasuk tokoh utama sendiri. Berbeda dengan novel- novel lainnya, tokoh utama pun tidak terlepas dari sifat bedebah. Kebedebahan-nya dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bank Semesta dan Om-nya, memaksa dia melakukan sifat-sifat bedebah seperti melarikan diri, bertarung  dan menyuap petugas polisi. Alur waktu yang diceritakan pun sangat menarik, hanya dua hari dengan spot tempat yang berbeda-beda di dalam dan luar negeri. Dia (Tomy) bukan hanya mahir bertarung secara logis tapi juga otot karena dia adalah aggota dari club rahasia (petarung-petarung). Kecerdasan intelektualnya ia tunjukkan dengan melempar isu "dampak sistemis" atas kasus yang menimpa Bank Semesta. Kemampuan tarung pun disajikan dari novel ini. Berkali-kali ia lolos dari maut yang mengancam jiwanya karena keputusan untuk menyelamatkan Bank Semesta. Dalam novel ini, waktu begitu digambarkan menjadi harta yang baling berharga. Tom hanya memiliki waktu dua hari untuk menyelsaikan misinya. Singkat ceritanya, misi terselesaikan dengan bantuan teman-teman disekitarnya yang berdedikasi membantu bukan sekedar karena upah. Terkuak bahwa ada orang dalam kepercayaan kelurga Liem yang menaruh dendam dan bersekongkol dengan Tuan Shinpei, tokoh bedebah paling bedebah di novel ini. (untuk lebih lengkapnya, plis baca sendiri yah asli seru)

Masuk pada sekuel kedua, ketika Tom semakin berada di puncak karir dengan kasus yang berhasil ditanganinya yaitu penyelamatan Bank Semesta yang pada akhirnya Tom membayar kebedebahannya dengan menyerahkan Om-nya untuk di proses hukum. Tom dengan perusahaan konsultan keuangannya membuka devisi baru, yaitu konsultan politik. Kali ini ia memegang clien yang teramat penting, yaitu seorang politikus berinisial JD untuk maju di bursa pencalonan presiden dengan mekanisme konvensi dari parpol yang mengusungnya. (Mirip-mirip sama cerita sebelah kan yah?)

Konflik dimulai ketika sang calon diindikasikan melakukan tindak korupsi. Tentu Tom bergerak cepat untuk menyelamatkan cliennya, baginya misinya bukan sekedar mengembalikan nama baik dan mengusung sang clien pada bursa pencalonan presidan lalu kemudian mendapatkan imbalan. Tetapi ada panggilan nurani sesama almamater "anak-anak khusus" juga dedikasinya untuk menaruh orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat. Dia sangat yakin, ada tangan yang tak menghendaki cliennya untuk menjadi seorang pemegang kekuasaan. Ada bedebah yang takut terdepak dan kehilangan kendali. Lagi, waktu yang dimiliki Tom hanya dua hari. Sebentar disini, lalu disana.  Dalam kurun dua hari itu Tom harus kembali bertaruh hidup dan mati, keluar masuk penjara. Menghadapi fitnah, intrik dan ancaman.

Endingnya, Tom kembali sukses memainkan perannya, terungkap siapa bedebah dibalik bedabah yang sesungguhnya yang sebenarnya adalah tuan Shinphei. (Masih kurang jelas yah? so pasti detail jelasnya disana ada di novelnya)

Pembelajaran berharga dari Novel ini adalah perkawinan antara ekonomi dan politik akan menghasilkan turunan masalah yang konfleks. Bagaimana  keduanya tidak bisa dihilangkan satu samalain dan saling berhubungan.

Muslim Saja Tak Cukup


Selesai Isya, ada jeda sebelum masuk sunnah tarawih..
"Teh pindah posisi, eh keula teh (sunda : Eh bentar kak). Mau tanya bener gak sih kalau mau ba'da, sunnahnya ganti posisi, ada dalilnya?" 
"Eh, apa yah( loading) gak tahu beud, aku mikirnya pindah posisi itu sebagai tanda untuk yg kemungkinan ngemasbuk, dengan shaff yang renggang mereka jadi ngeh kalau shalat yg dikerjakan itu sunnah, bagian pindah posisi itu sunnah atau bukan, belum dapat ilmunya (belum dapet apa gak nyari)
Ternyata benar, muslim saja gak cukup tapi harus berilmu...
Lalu kemudian teringat kembali, keterhubungan yang semisalnya. Kali ini tentang ekspektasi...
Dialog lama yang masih ku ingat betul,
"Teh mihwar apa artinya?"
"Fahami aja konteksnya, nanti juga ngerti sendiri artinya apa?"
"Aku nanya arti mufradhatnya, ngeh kok maknanya..bilang aja gak tahu, kumaha sih 3tahun mts+3 tahun aliyah teh !"
"Wkwkwk...gak ada kosakata itu,gak nemu kosakata mihwar  waktu sekolah, (ngeles level tinggi), partner dialog dan debat masih orang yang sama, rekan kuga kerabat mblo sejawat wkwkwk
Lalu setelah kita muslim, kemudian mencari jalannya untuk berilmu akan bertemu dengan kondisi internal untuk memilih, memilih pilihan jalan untuk berilmu sedang sisi lain ekspektasi dan praduga sebagai pihak eksternalnya, membentuk standarisasi  jika dan jika maka, apabila A seharusnya A. Keterhubungan yang naik kelas.
Tapi ternyata tugas tak sampai disitu.  Menjadi muslim saja tak cukup, beriman dan berilmu pun masih tak lekas menjadi usai.  Berakhlak mulia, PR berat selanjutnya.
"Aktifis Dakwah, masa gitu !" 
kalimat lama yang seolah menjadi kaset lama yang terus akan di replay ulang, PR yang berlaku untuk semua muslim. Ralat bahkan semua insan. Akhlah mulia adalah perisai dan sebuah kebaikan yang universal tanpa memandang suku, agama juga golongan. Yang balasannya pun universal, siapa yang menanam dia yang memetik, tapi karena kebahagian yang ingin dicapai adalah dunia dan akherat itulah kenapa akhlak harus pula disertai iman. Sekaligus antitesis bahwa semua agama itu baik.Tepatnya semua agama memang baik, tapi Islam jalan kebenaran juga keselamatan.
Terkait ekspektasi tadi, benar bahwa akan ada ekspektasi yang semakin meningkat. Saat kita salah bukan lagi atas nama pribadi yang mereka lihat tapi ada keterhubungan yang secara tidak sadar akan terbangun, namun ia menjadi reminder terbaik untuk terus menata diri bukan memenjarakanmu dalam kemunafikan. Saat kita salah, ada pandangan yang melirik cirle lingkaran kita. Ambil contoh oknum aktifis yang doyan pacaran, tanpa sadar ada pandangan mereka yang juga memberikan stigma negatif pada lembaga yang diikuti oleh si oknum aktifis tadi.
Syukurilah keberadaan yang membawamu dalam keterhubungan, karena yakinilah dalam kesendirian itu jalan futur begitu menggiurkan, kamu tahu betul srigala akan melumat habis domba yang hilang dalam komunitasnya.

Ramadhankan Hari, Dengan Berani Berbagi

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sehingga tak aneh jika setiap orang menyambutnya dengan semarak.  Ada hikmah terselip dari ketentuan puasa pada bulan Ramadhan. Betapa tidak semua orang muslim mukallaf tanpa terkecuali makan dan minum pada waktu yang sama, yakni saat sahur dan berbuka tak peduli status dan kasta. Seperti menggugah kepekaan sosial akan apa yang teralami oleh saudara kita yang sering berkawan dengan kelaparan. Rasa peduli itu bisa terbangunkan dari tidurnya saat kita ada pada satu frekuensi yang sama.
Jika kamu mudah peka bahkan tanpa kode untuk sebuah perasaan yang belum pasti, kenapa tidak untuk membangun kepekaan dengan mereka yang kurang beruntung, tenang Allah sudah memberikan kode balasan yang pastinya bukan sekedar janji palsu.

Ramadhan adalah momentum saat pahala dilipatgandakan. Sungguh, sangat disayangkan jika pundi-pundi pahala kita stagnan berjalan ditempat sedang digit dosa terus berjalan.  Lapar dan dahaga yang terasa semoga memanggil nurani kita untuk tergerak menebar kebaikan. Berbagi menjadi pintu untuk mengetuk kebahagian. Ingat berbagi, ingat Sekolah Relawan. http://www.sekolahrelawan.com/ Apa itu Sekolah Relawan? Sekolah Relawan adalah lembaga sosial kemanusian yang berfokus pada empat hal yakni sosial kemanusiaan, edukasi kerelawanan, advokasi dan  pemberdayaan masyarakat. Kenapa harus dengan Sekolah Relawan? saat sendiri dirasa tak cukup punya kekuatan untuk melebarkan sayap dalam berbagi menebar kebaikan, entah itu keterbatasan waktu, fisik juga materi maka bersinergi dengan lembaga sosial seperti Sekolah Relawan bisa menjadi pilihan. Saat tak cukup waktu atau fisik, maka Sekolah Relawan bisa menjadi perpanjangan tanganmu untuk mengetuk bahagia. Pun saat kendala materi mengganjal, maka sumbangsih tenaga bisa kita gunakan.

Seperti semboyannya, terinspirasi dan terus bergerak Sekolah Relawan mencoba terus memberikan inspirasi dan bergerak untuk  menerbar kebaikan dengan program Ramadhan  Berani Berbagi http://www.sekolahrelawan.com/
 Ada Beberapa kegiatan dari program Ramadhan Berani Berbagi ini, seperti :

1.Kado Sambut Ramadhan

Menjelang datangnya ramadhan, masyarakat  berbondong-bondong memperisapkan diri. Namun seperti yang kita ketahui, biasanya harga kebutuhan pokok meroket naik. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi kaum dhuafa yang mungkin tak berfikir banyak tentang pernak-pernik memperisapkan ramadhan, bisa menyantap menu untuk sahur saja mereka sudah lega. Sekolah Relawan dengan Programnya Kado Sambut Ramadhan, memberikan bingkisan kado untuk kaum dhuafa agar bisa ikut bahagia menyambut datangnya Ramadhan.

2. Foodbox

Program yang mengedukasi setiap orang untuk sedekah makanan dengan memberikan makanan siap santap dalam sebuah kotak untuk kaum dhuafa, fakir miskin atau mereka yang membutuhkan. Dengan adanya Foodbox diharapkan peranan fungsi sosial dari sebuah mesjid bisa semakin kuat. Sekolah Relawan ingin menyebarkan kebaikan sedekah makanan dengan foodbox ini agar tersebar diberbagai kota.

3. Free Food Car

Free Food Car ini sudah berjalan jauh sebelum Ramadhan tiba, kegiatan sedekah makan ini berlangsung dalam sebuah mobil dengan dilengkapi meja yang dugunakan untuk tempat penyajian dimana para relawan langsung yang memasak, menyajikan dan melayani untuk siapapun yang membutuhkannya. Seperti yang terdokementasikan dari fhoto dibawah ini, dimana masyarakat sekitar bisa merasakan makanan dari kehadiran Free Food Car ini.




4. Sumur Utsman

Pada beberepa lokasi tertentu, masih ditemukan daerah yang kesulitan air. Sekolah Relawan terinspirasi pada kisah Sahabat Rasul Utsman yang membeli sumur dan dimanffatkan oleh banyak orang yang membutuhkannya, sehingga dicetuskanlah ide untuk membantu masyarakat membuat sumur.

5. Kampung DugDug

Nama DugDug seperti mengisyaratkan semaraknya Ramadhan, dengan program ini Sekolah Relawan berusaha menghadirkan keseruan dan kebahagian Ramadhan di pelosok daerah. Dari picture yang terdokumentasikan oleh Sekolah relawan ini, bisa terasa sensasi buka bersama yang anti maenstream.

6. Belanja Bareng Yatim Dhuafa

Program Belanja Bareng Yatim Dhuafa ini diharapkan bisa memberi kebahagianuntuk anak yatim dalam menyambut lebaran dan memenuhi kebetuhan sekolahnya.

7. Naik Pangkat

Program ini untuk pemberdayaan masyarakat sehingga dengan modal yang diberikan dari Sekolah Relawan diharapkan bisa menjadi wasilah untuk membantu tingkat kesejahteraan keluarga dari penerima manfaat.

8. Kado Untuk Lebaran

Tidak seperti masyarakat pada umumnya ketika menjelang lebaran tiba, mereka mendapat THR dari kantor atau rekan bisnisnya, untuk itu Sekolah Relawan menghadirkan kado lebaran untuk kaum Dhuafa dan fakir miskin berupa paket kebutuhan sandang untuk menyambut datangnya lebaran.

Seru yah jika Ramadhan kita penuh dengan semarak kebaikan, sudahkan terinspirasi untuk berani berbagi ? Jadikan selalu hari yang kita miliki bak Ramadhan yang tak pernah usai dengan senantiasa menebar kebaikan. Mengutip pesan Aa Gym yang mahsyur dengan 3M-nya.  Memulainya dari hal terkecil. Saat ini, saat dimana nuansa Ramadhan masih menyelimuti yang juga  memberi kesejukan  pada diri, terakhir mengawali dari diri sendiri untuk mengambil bagian menebar kebaikan.







.







Pernikhan dari Lembaran Kertas

Kali ini mood saya tertarik membahas perkara berat, saking beratnya sering menggalaukan jomblo sejagat raya. Seriusan, perkara ini bukan masalah remeh temeh, mudah untuk menjadi topik obrolan, bahan tegur sapa yang empuk dijadikan canda tawa nan mencairkan, punch line asyik mengundang Gerrr berantakan meski terisi hati dengan tanya  kapan, kapan dan kapan? tapi sayangnya ini perkara yang  rrrrrruar biasaaaa, perjanjian agung yang bahkan terakui sakral oleh Al-qur'an. Menuntut diri dalam pembelajaran  yang rumit, lebih rumit berkali-kali kuadrat dari trigonometri yang njlimet itu. Bahkan saat ijab sah terikrar, proses belajar tiada pula mengenal kata ending. Yups betul sekali, pernikahan.

Setiap orang mungkin memiliki impian akan pernikahannya, sudah buang CD Drakormu kalau yang menghiasi benakmu masih berkutat, sosok pangeran nan rupawan yang baik hati dan bangsawan. Opa, hidup ini tak seindah drama korea. Dan aku persempit ruang racikan kata dalam tema ini, pernikahan yang kita upayakan sebagai jalan para mujahhid mencetak arsitek peradaban.

Wahai kita yang berada dipersimpangan jalan, kita yang mengupayakan diri menjemput pernikahan dengan  keberkahan. Mengisi ruang penantian dengan sebaik wasilah mendatangkan kebaikan. Mari bersama menghilangkan ragu,  yakinlah pernikahan yang kita jemput ke-barokahan-nya bukan membeli kucing di dalam karung. Iya, harapan kita tinggi bahwa puncak pernikahan yang kita ndaki, bukan sekedar mengubah status dari single menjadi doeble. Tapi menggenap dalam agama dengan jalan sunnah tanpa proses yang di haramkannya menuju cintaNya.

Aku selalu kagum kepada mereka yang diperkenalkan oleh lembaran kertas, bertemu pertama kali ketika nadhor dan yang kedua pada akad. Sama sekali tidak mengenal sebelumnya, seolah ada yakin yang menggerakan bahwa dia adalah yang tertakdirkan. Aku pernah merasa diintipi tamu yang bernama ragu. Berspekulasi pada waktu yang belum terwujud, nanti esok yakinku itu hadir dariNya ataukah dari nafsu?oh iya, lembaran kertas itu mampukah merepresentasikan diriku sebenarnya? ada banyak kurangku yang belum tertuang disana, mungkin pula nanti lembar kertas yang ku terima tak jauh bedanya, hanya sepersekian persen gambaran utuh dari Mr. X itu. Terhempaslah hush, hush sana. Akan kucoba memegang yakin bahwa pernikahan itu bukan membeli kucing dalam karung. Iya, aku si akhawat nakal ini masih ingin menjemput jodoh tanpa mengundang murka. Toh dengan jalan pacaran sekalipun watak asli akan nampak terlihat jelas setelah ijab sah terikrar.

Jalan Independet? Oia ini pun fenomena yang seolah menjadi jalan alternatif berikutnya, tanpa proses tukar kertas tapi cus langsung datangi objek. Tapi ingat yah ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Jangan PMDK, Penjajakan Mulu Jadi Kagak apalagi pacaran yang berkedok dengan taaruf. Tapi kita akhawat, gengsi dong ngedatengin langsung? Mari bercermin dari Bunda khodijah yang menjadikan Nafisah pihak yang menyambungkan ketertarikannya kepada Rasul. Begitulah ibrah mengisahkan, jodoh kita memang telah ditentukan tapi kitalah yang menetapkan jalannya. Aku tak pernah memvonis bahwa pernikahan yang barokah hanya dengan jalan pertukaran kertas. Ada banyak jalan menuju roma, selama kita mengambil jalan yang tidak menyesatkan Insya allah semoga barokah tetap menyertai.




Buffalo Hills, Cerita dibalik Cerita petualangan

Lagi-lagi kembali berpetualangan dengan perjalanan yang "terencanakan versi maju mundur cantik"  tak terduga dan dadakan. Fiksasi ngetrip malam menjelang keberangkatan . Tepat hari senin yang terpoles dengan tinta merah di kalender itu menjadi pilihan. Adalah Buffalo Hills objek dari petualangan reunian-an ini..
Reuni?iya reuni...Sedikit singkat dari cerita dibalik cerita petualangan ini. Genangan air besar yang orang megapolitan bilang sebagai banjir. Kemudian dipertemukaan dan mengeratkan persaudaraan, Adalah bunda aulia yang dipersaudarakan oleh hikmah dibalik genangan air besar saat menimpa Garut si Swiss van java. Dan Maya, dia sudah ku kenali sebelumnya, karena kami ada pada satu organisasi yang sama, hanya merasa begitu didekatkan oleh peristiwa genangan air besar itu, semenjak dari peristiwa itu kami berdua menjadi dua sekawan yang ngeklop, intensitas main bareng semakin menjadi meski sudah tak seoraganisasi, suka main-main tapi gak suka dimainin, eh. Gak lagi malu untuk curhat apapun yang ada kadang kami bedua malu-maluin duh...

Oh iya, kenapa selalu memilih reunian dengan petualangan?jika hang out  makan-makan, selesai acara kesannya pun sebatas hahahihih dalam obrolan yang ngalor-ngidul-wetan... hehe Tapi dengan petualangan bukan hanya hahahihi tapi hahahihihehehoho seneng, cape, menderita bareng-bareng. Yah begitulah, alam selalu punya kesempatan semakin mengeratkan. Dan lagi ada saja pertemanan baru yang dimulai dengan petualangan..


Kali ini tentang objek tempat petualang kita, Buffalo Hills. Tempat ini mulai ngehits karena ramainya orang-orang yang mengexplore keindahan tempat tersebut via sosmed. Tapi jangan terkecoh dengan picture yang booming itu. Dalam keduanya setelah yang pertama tak menuntaskan petualangan Buffalo Hills saya masih terkecoh. Seolah objek wisata saya kembali memakai sepatu anti-treckking. Tapak kaki bawah kerasa banget di elus-elus sama batuan tajam dari track perjalanan. Oh iya, dua teman baru saya dari team ekspedisi Buffalo Hills ini samasekali tak menyangka bahwa petualangan yang akan dilakukan akan sejauh itu, hampir menyerah meski puncak sudah terlihat didepan mata.  Percis dengan team petualang pertama saya mengexplore Buffalo Hills, perkiraan landai dan mulus, yah minimal kalau tak semulus jalan tol, serupa dengan Papandayan atau Karacak Valleylah, tapi oh tapi, tracknya minim bonus dan lumayan nanjak, iseng-iseng saya menyebutnya dengan Tegal Munding rasa Cikuray. Kita berangkat pagi, dan start mulai trecking jam 8an pun para bapak-ibu petani yang kami temui masih menyebut kesiangan. Nah iya kalian yang melakukan perjalanan kesini pasti akan menemui petani dan bu tani. Dan saya baru ngeh, wortel, tomat, kentang, cabei yang sering saya temui itu, ditanam dengan amat penuh perjuangan tapi kadang dihargai murah dalam pasaran. Misalnya saya sempat ngobrol dengan butani yang ditemui, beliau bercocok tanaman bisa setiap hari tapi panen hanya tujuh bulan sekali. perjalnan ini benar-benar mengingatkan akan Firman-Nya, "nikmat mana lagi yang kamu dustakan?".




Perjalanan pulang-pergi kami selalu menemui Ibu tani sama petani alhamdulillah mereka baik-baik orangnya. Ada yang memberi kami air, pisang juga tumpangan untuk shalat dzuhur juga sempat menawari kami untuk memberi bekal singkong. Ah Indonesia, betapa gotong royong itu begitu nyata kulihat dalam perjalanan ini..Dari para petani pula saya mendapat informasi, kenapa tempat ini diberi nama Buffalo Hilss, karena tempat ini tempat menggembala kerbau. Ada sekitaran 60 kerbau disana, kerbau-kerbau itu tidak dibawa pulang, tetapi di kembangbiakan di tonggoh (Sunda: atas) yang sekarang menjadi hits karena memang keindahan yang ditawarkan seperti menemui padang savana hijau luas yang mengademkan.


Untuk Informasi tempat ini lebih cocok disebut sebagai objek wisatanya para pendaki, teman baru saya juga salah seorang di team ekspedisi pertama, begitu kaget ketika sampai di pos pendataan dengan spanduk yang bertuliskan "Selamat datang di Camp Pendakian Buffalo Hills" (agak lupa percis tulisannya seperti apa, tapi pointnya seperti itu) itu bisa diartikan juga, selamat ber-ripuh-ripuh ria dan menikmati sensasi perjalanannya. Jangan menyamakan Buffalo Hills seperti PCG yang juga hits setelah viral di sosmed, atau bahkan papandayan sendiri yang hari ini lebih berasa sebagai objek wisata ketimbang gunung dan karena treck Buffalo Hills ini memang lebih "leklok" ketimbang Papandayan itu sendiri. Fyi, kami start treckking jam 8 dan sampai dibawah tempat pendataan juga parkiran motor jam setengah 4 sore bolehlah dihitung sebagai waktu tempuh pendaki amatir, tapi well Buffalo Hills tetap bukan objek wisata biasa melainkan objek wisatanya pendaki. Diluar teman baru yang menjadi bagian dari team ekspedisi, dalam petualangan ini pula, kami mendapatkan teman baru again, mereka para pendaki yang baru summit dari Guntur, dan kemudian sumitt buffalo Hill dan akan kembali menaklukan Guntur ahir April nanti, btw kalau sudah menjadi pendaki emang sulit move on yah untuk berhenti muncak ...

Dilematis seorang pengendali diri (mantan Kaderisasi dan atau Kaderisasi)

Salahsatu dari sekian perjalanan puzzle kehidupan yang menitipkan banyak hikmah juga bingkisan bernama kenangan adalah sepenggal episode bersama bunga haraki (Read: KAMMI), pernah ada satu masa pundak ini teramanahi sebagai seorang pengendali ( Read: Kaderisasi) . Singkatnya job desk mengendalikan dan menambah pasukan baik secara kuantitas ataupun kualitas. Entah itu mengendalikan dan atau menambah keduanya adalah tugas besar. Pada bagian kuantitas patokan jelas terukur, sekian orang.  Ada pandangan realistis yang menyelimuti kadang menjebak diri pada jiwa pesimis mencapai target.  Toh sudah menjadi karakterisik jalan juang para mujahid identik dengan sedikit, memakan waktu lama dan perjalanan yang panjang. Sehingga di lapangan, ini menjadi PR bersama apapun itu amanahnya. Mengajak dan menyeru pada kebaikan.

Pada tupoksi mengendalikan dilema itu amat terasa.  Pada bagian ini, jangan dikira ranah kualitas, tak memiliki patokan jelas yang menjadi acuan standar "para pengendali" dalam mengukur kualitas seseorang, sebut saja kader sesuai dengan marhalahnya (Read: jenjang) . Ada patokan khusus untuk mengukurnya, sesuatu yang kami sebut sebagai IJDK (indeks Jati Diri Kader). Persoalan itu dimulai, ketika kami para pengendali, harus mengendalikan diri juga mengendalikan mereka yang menjadi bagian dari "amanah ini".  Ibaratnya bicara IJDK aja masih mengeja sudah harus mengakar mereka memenuhi patokannya. Kalau mau ngasih bocoran kaya gimana point IJDK yang menjadi standar bagi seorang kader. Siap-siapin sapu tangan bukan mau nagis sih, yah minimal untuk alat tutup muka. Horor emang? Gitu dech meski  itu sebenarnya menjadi cambuk  pemacu lecutan agar segera meng_ugrade kapasitas diri. Kaya gimana emangnya? Sebenernya sih rinciannya panjang. Ini sedikit contohnya, Gak boleh pacaran/ HTS-an, gak boleh merokok, pegang hafalan, tertanam jiwa haroki yang menjadi paket ekstranya karena wajihah ini (Read:Kammi) berisikan para pembelajar cepat, ada PR yang tak terhenti pada pribadi Islami tetapi meluas menjadi muslim negarawan. Bisalah kebayang gimana susahnya menjadi seorang yang bisa terkatagorikan muslim negarawan dan kemudian mencetak " mereka" sebagai pribadi muslim negarawan. 

Bicara idealita, jangan pernah membenci realita, karena mengingat dan mengulang idealita adalah langkah awal menggapainya menjadi nyata. Mengingat goal settingnya muslim negarawan, banyak treatment khusus yang harus dilakukan. Misalnya mantuba, what this is? bisa disebut sejenis makhluk per-buku-an dengan tema-tema Islam dan kenegeraan. Nambah lagikan PR bacaannya. modul kuliah, mantuba,  skripsi. Terlebih jika ditemukan pasien yang alergi baca buku kenegaraan, atau parahnya justru "si pengendali" sendiri yang diharapkan menjadi dokter malah terserang penyakit sama karena bertentangan dengan passionnya. Akhirnya teralami juga oleh diri pribadi bagaimana dilematisnya memiliki  hobi baca novel tapi dituntut membaca modul-modul kenegaraan lalu kemudian memastikan "mereka" melahap suplemen yang sama. See, kebayangkan dilematisnya? wait. Ada yang lebih mendilematiskan dari persoalan ini.
Kalian para pengendali, eh ralat kosakata kalian ( Read: kaderisasi) bisa menjadi kita karena kata pengendali ini bisa juga merajuk untuk umum. Setiap kita adalah pengendali, mengendalikan diri yang juga sebenarnya teramanahi pula untuk mengendalikan alam sekitar. Kita harus mulai membiasakn diri kebal pada bahasa, "urus aja diri sendiri" duh maunya sih gitu kaya Pak Pres yang dulu  sanggahannya pernah hits, "Bukan urusan saya". Nyatanya hidup bukan hanya tentang seorang diri. Eh tapi kemudian  menemukan untaian hikmah dari sahabat Rasul yang satu ini.

" Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya. Sibuklah dengan diri kalian, perbaiki aibmu ( Ali bin Abu Thalib)". Prit, disana letak dilematisnya. Permainan hati kadang dimulai. Bismillah, mawas diri dan terus berbenah. Sesekali mempertanyakan benar atau salah dan atau seharusnya bagaimana? Inilah sepenggal pembelajaran berharganya yang tak ditemui pada SKS mata kuliah.
Kembali dalam ranah pengendali dalam  arti struktural. Pernah sesekali dengar statment yang seperti ini, orang-orang kaderisasi harus memiliki track record yang aman, selesai dengan masalah diri, lebih extrim orang kaderisasi  biasanya yang sholeh-sholeh. Duh rasanya pengen demo dech. Manabisa selesai dengan diri sendiri? Lalu aman, dan sholeh. Rasa-rasanya jika itu menjadi prasyarat menjadi seorang kaderisasi akan sulit menemukan orang yang berkapasitas menyandang amanah sebagai pengendali tadi. Karena itu perkara yang  menjadi PR panjang sampai menutup mata.
Point tadi pula sebenarnya bisa disubsitusikan pada kondisi kita yang hakekatnya sebagai seorang pengendali. Bukan karena kita sholeh lalu menasehati, tidak pula karena merasa belum sholeh lalu kita abai terhadap saudara sekitar. Karena surga terlalu luas untuk kita jejali seorang diri. Kepo-lah secara adil yang pada tempatnya. Atau pilihlah kepo is care. Karena kepo atas motif kepedulian tidak terdefinisikan prilaku yang menyebalkan. Hanya saja tentang bagaimana kita menanggapi persoalan saudara, ada adab dan etika yang harus kita jaga. Tutup aibnya dan nasehatilah secara pribadi dari hati ke hati, oke mari kita belajar menjadi pengendali diri yang tak pernah  usai dan tak sebatas pada diri. Mengutip qoutes bang Tere Liye, seseorang yang hebat bukan dia yang bisa mengendalikan udara, air atau api tapi hati.

Awas, Jangan Mendaki !

Mata ini menemui sesuatu yang menarik perhatian, sebuah meme pendakian berisi warning...
Dalam captionnya disebutkan bahwa pendakian bisa menyebabkan kelelahan, kurang tidur, kantong kering dan kalimat terakhir sebagai punch line yang terasa menyentak, susah mendapatkan jodoh *gedubrak
Well, mari kita verifikasi...
Point 1-3 adalah hipotesis yang mendekati kebenaran, sejauh mata memandang dalam perjalanan pendakian. Hoax kalau mendaki gak capek, bisa tidur pulas dan gak bikin kantong jebol.
Cape karena track yang dilalui gak semulus jalan tol, mirip jalan kehidupan gitu dech, ditambah juga dengan beban keril yang membawa logistik dan perbekalan. Emang sih gak seberat beban hidup tapi cukuplah membuat hayati lelah...
Tidur pulas, emang situ kira digunung ada hotel? Yang ada was-was takut binatang buas muncul, sesosok makhluk yang tak dikenal dan bisa membuatmu birigidik (in english, bulu roma berdiri), atau si Hipo datang bersama angin yang membelai mesra dan membawa kedinginan pada sekujur tubuhmu, ( etdah bahasa, mana maenstream pula)
Kantong kering, jelas banget secara dari alat-alatnya saja udah bikin alis berkerut, Jangan ngarep  bisa dapat harga cincai, mau nego sulit say. Belum akomodasi atau transfor menuju gunung yang biasanya melewati bukit dan lembah. Udah dech dijamin kena penyakit penyempitan pembuluh dompet pastinya, karena kalau kanker terlalu maenstream haha...
iya, oke itu semua benar tapi dari pengalaman sih, bukannya kapok malah bawa virus candu alias bikin ketagihan..
Sedikit curcol yah, pengalaman pribadi sih awalnya cuma mupeng papandayan. Kebetulan odoj bekasi bikin event khataman dipapandayan, ikutanlah akhirnya, dapat cerita banyak disana dan oleh-olehnya yah itu bawa virus candu ngedaki, lengkapnya nih disini..
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/05/papandayan-yang-membawa-candu-muncak.html

Selang kemudian, bulan Mei kembali dapat ajakan ngeguntur, karena kebetulan bulan muda dan pas hari libur nasional, Moment-able bukan tuh, cus aja berangkat. Meski yang itu bener-bener nekad dan dadakan, wong alat-alat dan tendanya baru dapat saat malam menjelang besok keberangkatan. Itu pun cuma bertiga, mini team banget kan... Kurang nekad bin dadakan apa coba?
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/12/pendakian.html

Nah berhubung Garut terkenal dengan pagucinya. Jadi ngerasa tanggung aja kalau cikuray belum di khatamin..
Fiks februari kemarin pun berkesempatan ngerasaain terjalnya Cikuray yang dikit-dikit nanjak. Beda dikitlah sama si cantik eldewies, kalau papandayan dikit nanjaknya. Nah kalau cikuray dikit-dikit nanjak, dikit-dikit nanjak gitu aja terus sampe puncak. Naik tiada akhir dengan bonus lutut ketemu dagu. Kalau hujan kamu dapat double bones dengan track yang licin... Muantappolllll.....
http://penna.id/@dererez/reunian-dalam-petualangan-menaklukan-cikuray-jqgo904zl4fs

Apapun itu cerita perjalanannya, dari satu pendakian ke pendakian lain bawannya sulit move On, pantesan aja yah para pendaki sulit ngambil keputusan pensiun? Apa baru jika ancaman terakhir dari meme itu benar, bisa bikin kapok ngedaki? Tapi untungnya sih point terakhir hoax, yakin aja sama Allah. Jodoh udah ada yang ngatur kok..

Mau pensiun? Engga dech, insya allah ada masanya gantung keril dan cuti panjang dlm pendakian..