Buffalo Hills, Cerita dibalik Cerita petualangan

Lagi-lagi kembali berpetualangan dengan perjalanan yang "terencanakan versi maju mundur cantik"  tak terduga dan dadakan. Fiksasi ngetrip malam menjelang keberangkatan . Tepat hari senin yang terpoles dengan tinta merah di kalender itu menjadi pilihan. Adalah Buffalo Hills objek dari petualangan reunian-an ini..
Reuni?iya reuni...Sedikit singkat dari cerita dibalik cerita petualangan ini. Genangan air besar yang orang megapolitan bilang sebagai banjir. Kemudian dipertemukaan dan mengeratkan persaudaraan, Adalah bunda aulia yang dipersaudarakan oleh hikmah dibalik genangan air besar saat menimpa Garut si Swiss van java. Dan Maya, dia sudah ku kenali sebelumnya, karena kami ada pada satu organisasi yang sama, hanya merasa begitu didekatkan oleh peristiwa genangan air besar itu, semenjak dari peristiwa itu kami berdua menjadi dua sekawan yang ngeklop, intensitas main bareng semakin menjadi meski sudah tak seoraganisasi, suka main-main tapi gak suka dimainin, eh. Gak lagi malu untuk curhat apapun yang ada kadang kami bedua malu-maluin duh...

Oh iya, kenapa selalu memilih reunian dengan petualangan?jika hang out  makan-makan, selesai acara kesannya pun sebatas hahahihih dalam obrolan yang ngalor-ngidul-wetan... hehe Tapi dengan petualangan bukan hanya hahahihi tapi hahahihihehehoho seneng, cape, menderita bareng-bareng. Yah begitulah, alam selalu punya kesempatan semakin mengeratkan. Dan lagi ada saja pertemanan baru yang dimulai dengan petualangan..


Kali ini tentang objek tempat petualang kita, Buffalo Hills. Tempat ini mulai ngehits karena ramainya orang-orang yang mengexplore keindahan tempat tersebut via sosmed. Tapi jangan terkecoh dengan picture yang booming itu. Dalam keduanya setelah yang pertama tak menuntaskan petualangan Buffalo Hills saya masih terkecoh. Seolah objek wisata saya kembali memakai sepatu anti-treckking. Tapak kaki bawah kerasa banget di elus-elus sama batuan tajam dari track perjalanan. Oh iya, dua teman baru saya dari team ekspedisi Buffalo Hills ini samasekali tak menyangka bahwa petualangan yang akan dilakukan akan sejauh itu, hampir menyerah meski puncak sudah terlihat didepan mata.  Percis dengan team petualang pertama saya mengexplore Buffalo Hills, perkiraan landai dan mulus, yah minimal kalau tak semulus jalan tol, serupa dengan Papandayan atau Karacak Valleylah, tapi oh tapi, tracknya minim bonus dan lumayan nanjak, iseng-iseng saya menyebutnya dengan Tegal Munding rasa Cikuray. Kita berangkat pagi, dan start mulai trecking jam 8an pun para bapak-ibu petani yang kami temui masih menyebut kesiangan. Nah iya kalian yang melakukan perjalanan kesini pasti akan menemui petani dan bu tani. Dan saya baru ngeh, wortel, tomat, kentang, cabei yang sering saya temui itu, ditanam dengan amat penuh perjuangan tapi kadang dihargai murah dalam pasaran. Misalnya saya sempat ngobrol dengan butani yang ditemui, beliau bercocok tanaman bisa setiap hari tapi panen hanya tujuh bulan sekali. perjalnan ini benar-benar mengingatkan akan Firman-Nya, "nikmat mana lagi yang kamu dustakan?".




Perjalanan pulang-pergi kami selalu menemui Ibu tani sama petani alhamdulillah mereka baik-baik orangnya. Ada yang memberi kami air, pisang juga tumpangan untuk shalat dzuhur juga sempat menawari kami untuk memberi bekal singkong. Ah Indonesia, betapa gotong royong itu begitu nyata kulihat dalam perjalanan ini..Dari para petani pula saya mendapat informasi, kenapa tempat ini diberi nama Buffalo Hilss, karena tempat ini tempat menggembala kerbau. Ada sekitaran 60 kerbau disana, kerbau-kerbau itu tidak dibawa pulang, tetapi di kembangbiakan di tonggoh (Sunda: atas) yang sekarang menjadi hits karena memang keindahan yang ditawarkan seperti menemui padang savana hijau luas yang mengademkan.


Untuk Informasi tempat ini lebih cocok disebut sebagai objek wisatanya para pendaki, teman baru saya juga salah seorang di team ekspedisi pertama, begitu kaget ketika sampai di pos pendataan dengan spanduk yang bertuliskan "Selamat datang di Camp Pendakian Buffalo Hills" (agak lupa percis tulisannya seperti apa, tapi pointnya seperti itu) itu bisa diartikan juga, selamat ber-ripuh-ripuh ria dan menikmati sensasi perjalanannya. Jangan menyamakan Buffalo Hills seperti PCG yang juga hits setelah viral di sosmed, atau bahkan papandayan sendiri yang hari ini lebih berasa sebagai objek wisata ketimbang gunung dan karena treck Buffalo Hills ini memang lebih "leklok" ketimbang Papandayan itu sendiri. Fyi, kami start treckking jam 8 dan sampai dibawah tempat pendataan juga parkiran motor jam setengah 4 sore bolehlah dihitung sebagai waktu tempuh pendaki amatir, tapi well Buffalo Hills tetap bukan objek wisata biasa melainkan objek wisatanya pendaki. Diluar teman baru yang menjadi bagian dari team ekspedisi, dalam petualangan ini pula, kami mendapatkan teman baru again, mereka para pendaki yang baru summit dari Guntur, dan kemudian sumitt buffalo Hill dan akan kembali menaklukan Guntur ahir April nanti, btw kalau sudah menjadi pendaki emang sulit move on yah untuk berhenti muncak ...

Dilematis seorang pengendali diri (mantan Kaderisasi dan atau Kaderisasi)

Salahsatu dari sekian perjalanan puzzle kehidupan yang menitipkan banyak hikmah juga bingkisan bernama kenangan adalah sepenggal episode bersama bunga haraki (Read: KAMMI), pernah ada satu masa pundak ini teramanahi sebagai seorang pengendali ( Read: Kaderisasi) . Singkatnya job desk mengendalikan dan menambah pasukan baik secara kuantitas ataupun kualitas. Entah itu mengendalikan dan atau menambah keduanya adalah tugas besar. Pada bagian kuantitas patokan jelas terukur, sekian orang.  Ada pandangan realistis yang menyelimuti kadang menjebak diri pada jiwa pesimis mencapai target.  Toh sudah menjadi karakterisik jalan juang para mujahid identik dengan sedikit, memakan waktu lama dan perjalanan yang panjang. Sehingga di lapangan, ini menjadi PR bersama apapun itu amanahnya. Mengajak dan menyeru pada kebaikan.

Pada tupoksi mengendalikan dilema itu amat terasa.  Pada bagian ini, jangan dikira ranah kualitas, tak memiliki patokan jelas yang menjadi acuan standar "para pengendali" dalam mengukur kualitas seseorang, sebut saja kader sesuai dengan marhalahnya (Read: jenjang) . Ada patokan khusus untuk mengukurnya, sesuatu yang kami sebut sebagai IJDK (indeks Jati Diri Kader). Persoalan itu dimulai, ketika kami para pengendali, harus mengendalikan diri juga mengendalikan mereka yang menjadi bagian dari "amanah ini".  Ibaratnya bicara IJDK aja masih mengeja sudah harus mengakar mereka memenuhi patokannya. Kalau mau ngasih bocoran kaya gimana point IJDK yang menjadi standar bagi seorang kader. Siap-siapin sapu tangan bukan mau nagis sih, yah minimal untuk alat tutup muka. Horor emang? Gitu dech meski  itu sebenarnya menjadi cambuk  pemacu lecutan agar segera meng_ugrade kapasitas diri. Kaya gimana emangnya? Sebenernya sih rinciannya panjang. Ini sedikit contohnya, Gak boleh pacaran/ HTS-an, gak boleh merokok, pegang hafalan, tertanam jiwa haroki yang menjadi paket ekstranya karena wajihah ini (Read:Kammi) berisikan para pembelajar cepat, ada PR yang tak terhenti pada pribadi Islami tetapi meluas menjadi muslim negarawan. Bisalah kebayang gimana susahnya menjadi seorang yang bisa terkatagorikan muslim negarawan dan kemudian mencetak " mereka" sebagai pribadi muslim negarawan. 

Bicara idealita, jangan pernah membenci realita, karena mengingat dan mengulang idealita adalah langkah awal menggapainya menjadi nyata. Mengingat goal settingnya muslim negarawan, banyak treatment khusus yang harus dilakukan. Misalnya mantuba, what this is? bisa disebut sejenis makhluk per-buku-an dengan tema-tema Islam dan kenegeraan. Nambah lagikan PR bacaannya. modul kuliah, mantuba,  skripsi. Terlebih jika ditemukan pasien yang alergi baca buku kenegaraan, atau parahnya justru "si pengendali" sendiri yang diharapkan menjadi dokter malah terserang penyakit sama karena bertentangan dengan passionnya. Akhirnya teralami juga oleh diri pribadi bagaimana dilematisnya memiliki  hobi baca novel tapi dituntut membaca modul-modul kenegaraan lalu kemudian memastikan "mereka" melahap suplemen yang sama. See, kebayangkan dilematisnya? wait. Ada yang lebih mendilematiskan dari persoalan ini.
Kalian para pengendali, eh ralat kosakata kalian ( Read: kaderisasi) bisa menjadi kita karena kata pengendali ini bisa juga merajuk untuk umum. Setiap kita adalah pengendali, mengendalikan diri yang juga sebenarnya teramanahi pula untuk mengendalikan alam sekitar. Kita harus mulai membiasakn diri kebal pada bahasa, "urus aja diri sendiri" duh maunya sih gitu kaya Pak Pres yang dulu  sanggahannya pernah hits, "Bukan urusan saya". Nyatanya hidup bukan hanya tentang seorang diri. Eh tapi kemudian  menemukan untaian hikmah dari sahabat Rasul yang satu ini.

" Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya. Sibuklah dengan diri kalian, perbaiki aibmu ( Ali bin Abu Thalib)". Prit, disana letak dilematisnya. Permainan hati kadang dimulai. Bismillah, mawas diri dan terus berbenah. Sesekali mempertanyakan benar atau salah dan atau seharusnya bagaimana? Inilah sepenggal pembelajaran berharganya yang tak ditemui pada SKS mata kuliah.
Kembali dalam ranah pengendali dalam  arti struktural. Pernah sesekali dengar statment yang seperti ini, orang-orang kaderisasi harus memiliki track record yang aman, selesai dengan masalah diri, lebih extrim orang kaderisasi  biasanya yang sholeh-sholeh. Duh rasanya pengen demo dech. Manabisa selesai dengan diri sendiri? Lalu aman, dan sholeh. Rasa-rasanya jika itu menjadi prasyarat menjadi seorang kaderisasi akan sulit menemukan orang yang berkapasitas menyandang amanah sebagai pengendali tadi. Karena itu perkara yang  menjadi PR panjang sampai menutup mata.
Point tadi pula sebenarnya bisa disubsitusikan pada kondisi kita yang hakekatnya sebagai seorang pengendali. Bukan karena kita sholeh lalu menasehati, tidak pula karena merasa belum sholeh lalu kita abai terhadap saudara sekitar. Karena surga terlalu luas untuk kita jejali seorang diri. Kepo-lah secara adil yang pada tempatnya. Atau pilihlah kepo is care. Karena kepo atas motif kepedulian tidak terdefinisikan prilaku yang menyebalkan. Hanya saja tentang bagaimana kita menanggapi persoalan saudara, ada adab dan etika yang harus kita jaga. Tutup aibnya dan nasehatilah secara pribadi dari hati ke hati, oke mari kita belajar menjadi pengendali diri yang tak pernah  usai dan tak sebatas pada diri. Mengutip qoutes bang Tere Liye, seseorang yang hebat bukan dia yang bisa mengendalikan udara, air atau api tapi hati.

Awas, Jangan Mendaki !

Mata ini menemui sesuatu yang menarik perhatian, sebuah meme pendakian berisi warning...
Dalam captionnya disebutkan bahwa pendakian bisa menyebabkan kelelahan, kurang tidur, kantong kering dan kalimat terakhir sebagai punch line yang terasa menyentak, susah mendapatkan jodoh *gedubrak
Well, mari kita verifikasi...
Point 1-3 adalah hipotesis yang mendekati kebenaran, sejauh mata memandang dalam perjalanan pendakian. Hoax kalau mendaki gak capek, bisa tidur pulas dan gak bikin kantong jebol.
Cape karena track yang dilalui gak semulus jalan tol, mirip jalan kehidupan gitu dech, ditambah juga dengan beban keril yang membawa logistik dan perbekalan. Emang sih gak seberat beban hidup tapi cukuplah membuat hayati lelah...
Tidur pulas, emang situ kira digunung ada hotel? Yang ada was-was takut binatang buas muncul, sesosok makhluk yang tak dikenal dan bisa membuatmu birigidik (in english, bulu roma berdiri), atau si Hipo datang bersama angin yang membelai mesra dan membawa kedinginan pada sekujur tubuhmu, ( etdah bahasa, mana maenstream pula)
Kantong kering, jelas banget secara dari alat-alatnya saja udah bikin alis berkerut, Jangan ngarep  bisa dapat harga cincai, mau nego sulit say. Belum akomodasi atau transfor menuju gunung yang biasanya melewati bukit dan lembah. Udah dech dijamin kena penyakit penyempitan pembuluh dompet pastinya, karena kalau kanker terlalu maenstream haha...
iya, oke itu semua benar tapi dari pengalaman sih, bukannya kapok malah bawa virus candu alias bikin ketagihan..
Sedikit curcol yah, pengalaman pribadi sih awalnya cuma mupeng papandayan. Kebetulan odoj bekasi bikin event khataman dipapandayan, ikutanlah akhirnya, dapat cerita banyak disana dan oleh-olehnya yah itu bawa virus candu ngedaki, lengkapnya nih disini..
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/05/papandayan-yang-membawa-candu-muncak.html

Selang kemudian, bulan Mei kembali dapat ajakan ngeguntur, karena kebetulan bulan muda dan pas hari libur nasional, Moment-able bukan tuh, cus aja berangkat. Meski yang itu bener-bener nekad dan dadakan, wong alat-alat dan tendanya baru dapat saat malam menjelang besok keberangkatan. Itu pun cuma bertiga, mini team banget kan... Kurang nekad bin dadakan apa coba?
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2016/12/pendakian.html

Nah berhubung Garut terkenal dengan pagucinya. Jadi ngerasa tanggung aja kalau cikuray belum di khatamin..
Fiks februari kemarin pun berkesempatan ngerasaain terjalnya Cikuray yang dikit-dikit nanjak. Beda dikitlah sama si cantik eldewies, kalau papandayan dikit nanjaknya. Nah kalau cikuray dikit-dikit nanjak, dikit-dikit nanjak gitu aja terus sampe puncak. Naik tiada akhir dengan bonus lutut ketemu dagu. Kalau hujan kamu dapat double bones dengan track yang licin... Muantappolllll.....
http://restitriherdiyanti.blogspot.co.id/2017/02/cikuray-pendakian-mental.html
Apapun itu cerita perjalanannya, dari satu pendakian ke pendakian lain bawannya sulit move On, pantesan aja yah para pendaki sulit ngambil keputusan pensiun? Apa baru jika ancaman terakhir dari meme itu benar, bisa bikin kapok ngedaki? Tapi untungnya sih point terakhir hoax, yakin aja sama Allah. Jodoh udah ada yang ngatur kok..

Mau pensiun? Engga dech, insya allah ada masanya gantung keril dan cuti panjang dlm pendakian..

Cikuray, Pendakian Mental


Sabtu -minggu kedua dalam Februari ini, keputusan telah diambil. Iya, untuk  reuni kembali dan atau mendapatkan kawan baru di Cikuray. Iya Cikuray adalah perjalanan yang terpilih.
Cikuray, gunung tertinggi di kota Garut. Kita tidak sedang unjuk pembuktian diri sebagai seorang yang kuat. Karena nyatanya setiap jengkal yang dijejaki akan memojokannmu sebagai seorang yang lemah. Hanya satu yang harus kau camkan, jika gunung yang menjulang tinggi itu bisa dibawah tapak kakimu. Masih pantaskah kita merasa kehilangan semangat lalu meng-underestimate-kan diri? Peduli apa dengan penilaian orang, sudah tutup saja telingamu. Teman, rendah hati itu boleh tapi rendah diri jangan.
Cikuray dengan via stasiun pemancar adalah rute yang kami pilih. Ada beberapa pilihan untuk mendaki Cikuray. Via pemancar "yang katanya standar tapi lebih jauh" atau via bayongbong yang tracknya  luar biasa mempertemukan dagu dan lutut tapi lebih dekat". Kita yang kumpulan pemula tentu lebih memilih track yang standar itu, daripada yang luar biasa, karena kurasa sedekat apapun puncak terlihat, tetap saja dekat di mata jauh di kaki. Eeeaaa

Team Cikuray,
Oke, perkenalkan team dalam pendakian Cikuray ini. samping kiri guide kami yang luar biasa mendampingi kumpulan pendaki yang satu dua langkah sudah haheho. Ada kang Andri, kedua Ifah dengan nama gunungnya sasmiati, Sri dengan nama gunungnya Kokom, Alfi dengan nama gunungnya ijem, Anista dengan nama gunungnya Angel, saya sendiri Resti dengan nama gunung Umbrella, dan Khodijah dengan nama gunungnya nenek, dan paling ujung yang tak kalah luar biasanya menyertai kami dengan penuh kesabaran adalah kang Oki.
Tapi eh tapi,  standar yang menjadi relative itu bukan hanya urusan kecantikan tapi juga dalam pendakian. Bagiku tracknya luar biasaaaaaaaaa. Sampai saat ini, Cikuray adalah pendakian yang ter-ripuh  dalam catatan hati seorang pendaki newbie yang kumiliki sepanjang episodenya bergulir. Entah faktor cuaca, faktor x, atau faktor y pokoknya serumit memecahkan persamaan linear matematika.

Hujan, Kamu suka hujan? Biasanya hujan adalah moment terhanyutnya seorang dalam kenangan, atau sekedar waktu untuk bersenandung ria. Mengasyikan bukan? Tapi, hujan di bulan februari ini memberi memori tersendiri, mengingatkan  akan angin badai yang bertiup kencang. Hujan dalam pendakian kemarin adalah moment saat track tanpa bonus, tak ada jalur landai  menjadi licin, medan curam, dan angin badai. Di tambah dengan jarak pandang yang menipis karena kabut mirip dengan masih tak terlihat jelas hilal jodoh *curcol colongan* adalah tantangan luarbiasa untuk menempuh puncak 2821 MDPL Cikuray.

Lagi, alam selalu memiliki kesempatan,
Mengeratkan. Mengganti asing menjadi kawan.
Biarkan, agar esok hari ada kisah nostalgia yang bisa kita ceritakan.
Tentang perjalanan jatuh bangun, merangkak ke atas dan turun perlahan...
Angin badai, terjal dan curam jalanan, fisik yang habis terkuras menjadi pemanis ceritanya, jejak perjalanan tanpa rekaan, sebenarnya cerita tentang filosofi kehidupan..Ini alasan kenapa pendakian Cikuray ini, bisa bernamakan pendakian mental. Seberapa jauh mental kita kuat untuk menghadapi aral melintang dalam pendakian Cikuray ini.

"Nak, ibu pernah kesini " adalah caption kita bersama. Karena ini adalah perjalanan kita bersama. Bagian dari cerita yang akan terkenang. Kembali tentang bagaimana pendakian Cikuray ini ditempuh, karena  perjalanannya luar biasa, hampir mendekati sore kami baru sampai di post tiga. Dan memutuskan untuk camp disana, agak beresiko apabila tetap untuk melanjutkan perjalanan ngetrack atau mengambil lokasi camp dekat dengan puncak karena semakin sore angin semangin kencang dan gelap malam menjadi ancaman berikutnya.
Menjelang malam angin badai bertiup, dan semakin ngeri jika sampai babi hutan berkeliaran, maklum Cikuray adalah Gunung dengan tipe hutan yang masih asri. Kang Andri menuturkan, ini adalah rumahnya. Bukan mereka yang mengganggu. Para pendakilah tamunya yang tak boleh mengganggu rumah mereka. Sekalipun Kang Oki menuturkan, daerah rawan babi adalah pos 5 & 7 tetap saja kecemasan tidak bisa dihilangkan.  Jam dua dini hari, kami bergegas untuk summit menuju puncak, apa daya meskipun malamnya kang Andri  telah menyiapkan menu sahur, summit baru kita lakukan jam 4 dini hari. Dan butuh waktu hampir lima jam untuk sampai di puncak Cikuray. Telinga sudah amat kebal jika ada bertutur semangat kak, puncak sebentar lagi. Serasa kalimat hoak bhuahahah. Yah meskipun sampai di puncak, samudera awannya tertutup oleh kabut. Cikuray memang terkenal dengan negeri diatas awan, tapi tak menemukan keelokan awan disana tak mengurangi kesan yang amat berharga dari pendakian Cikuray ini.

Awan atau sekedar mengabadikan diri diatas puncak, bukanlah tujuan. Itu hanya bonus. Saat turun perlahan karena cuaca dan langit malam yang menyapa, medan menjadi berkali-kali extrim daripada saat merangkak naik ke puncak dan menjadi bagian yang tak akan terlupakan. Jika Nice Pic yang menjadi incaran, Kami mendapatkan City Light pengganti awan yang tertutup kabut, sisi lain yang di tawarkan oleh Cikuray selain awannya, jari-jemariku tak sempat mengambil nice epik dari panorama yang indah. Biarlah mata ini mengambil langsung lukisan alam mahakarya sang pencipta yang tak tertandingi. Karena sekali lagi, pendakian bukan sekedar bagaimana mengabadikan diri diatas puncak. Tetapi bagaimana perjalanan berkawan dalam pendakian dan pulang dengan selamat adalah harapan utama dalam pendakian.

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: