Cikuray, Pendakian Mental


Sabtu -minggu kedua dalam Februari ini, keputusan telah diambil. Iya, untuk  reuni kembali dan atau mendapatkan kawan baru di Cikuray. Iya Cikuray adalah perjalanan yang terpilih.
Cikuray, gunung tertinggi di kota Garut. Kita tidak sedang unjuk pembuktian diri sebagai seorang yang kuat. Karena nyatanya setiap jengkal yang dijejaki akan memojokannmu sebagai seorang yang lemah. Hanya satu yang harus kau camkan, jika gunung yang menjulang tinggi itu bisa dibawah tapak kakimu. Masih pantaskah kita merasa kehilangan semangat lalu meng-underestimate-kan diri? Peduli apa dengan penilaian orang, sudah tutup saja telingamu. Teman, rendah hati itu boleh tapi rendah diri jangan.
Cikuray dengan via stasiun pemancar adalah rute yang kami pilih. Ada beberapa pilihan untuk mendaki Cikuray. Via pemancar "yang katanya standar tapi lebih jauh" atau via bayongbong yang tracknya  luar biasa mempertemukan dagu dan lutut tapi lebih dekat". Kita yang kumpulan pemula tentu lebih memilih track yang standar itu, daripada yang luar biasa, karena kurasa sedekat apapun puncak terlihat, tetap saja dekat di mata jauh di kaki. Eeeaaa

Team Cikuray,
Oke, perkenalkan team dalam pendakian Cikuray ini. samping kiri guide kami yang luar biasa mendampingi kumpulan pendaki yang satu dua langkah sudah haheho. Ada kang Andri, kedua Ifah dengan nama gunungnya sasmiati, Sri dengan nama gunungnya Kokom, Alfi dengan nama gunungnya ijem, Anista dengan nama gunungnya Angel, saya sendiri Resti dengan nama gunung Umbrella, dan Khodijah dengan nama gunungnya nenek, dan paling ujung yang tak kalah luar biasanya menyertai kami dengan penuh kesabaran adalah kang Oki.
Tapi eh tapi,  standar yang menjadi relative itu bukan hanya urusan kecantikan tapi juga dalam pendakian. Bagiku tracknya luar biasaaaaaaaaa. Sampai saat ini, Cikuray adalah pendakian yang ter-ripuh  dalam catatan hati seorang pendaki newbie yang kumiliki sepanjang episodenya bergulir. Entah faktor cuaca, faktor x, atau faktor y pokoknya serumit memecahkan persamaan linear matematika.

Hujan, Kamu suka hujan? Biasanya hujan adalah moment terhanyutnya seorang dalam kenangan, atau sekedar waktu untuk bersenandung ria. Mengasyikan bukan? Tapi, hujan di bulan februari ini memberi memori tersendiri, mengingatkan  akan angin badai yang bertiup kencang. Hujan dalam pendakian kemarin adalah moment saat track tanpa bonus, tak ada jalur landai  menjadi licin, medan curam, dan angin badai. Di tambah dengan jarak pandang yang menipis karena kabut mirip dengan masih tak terlihat jelas hilal jodoh *curcol colongan* adalah tantangan luarbiasa untuk menempuh puncak 2821 MDPL Cikuray.

Lagi, alam selalu memiliki kesempatan,
Mengeratkan. Mengganti asing menjadi kawan.
Biarkan, agar esok hari ada kisah nostalgia yang bisa kita ceritakan.
Tentang perjalanan jatuh bangun, merangkak ke atas dan turun perlahan...
Angin badai, terjal dan curam jalanan, fisik yang habis terkuras menjadi pemanis ceritanya, jejak perjalanan tanpa rekaan, sebenarnya cerita tentang filosofi kehidupan..Ini alasan kenapa pendakian Cikuray ini, bisa bernamakan pendakian mental. Seberapa jauh mental kita kuat untuk menghadapi aral melintang dalam pendakian Cikuray ini.

"Nak, ibu pernah kesini " adalah caption kita bersama. Karena ini adalah perjalanan kita bersama. Bagian dari cerita yang akan terkenang. Kembali tentang bagaimana pendakian Cikuray ini ditempuh, karena  perjalanannya luar biasa, hampir mendekati sore kami baru sampai di post tiga. Dan memutuskan untuk camp disana, agak beresiko apabila tetap untuk melanjutkan perjalanan ngetrack atau mengambil lokasi camp dekat dengan puncak karena semakin sore angin semangin kencang dan gelap malam menjadi ancaman berikutnya.
Menjelang malam angin badai bertiup, dan semakin ngeri jika sampai babi hutan berkeliaran, maklum Cikuray adalah Gunung dengan tipe hutan yang masih asri. Kang Andri menuturkan, ini adalah rumahnya. Bukan mereka yang mengganggu. Para pendakilah tamunya yang tak boleh mengganggu rumah mereka. Sekalipun Kang Oki menuturkan, daerah rawan babi adalah pos 5 & 7 tetap saja kecemasan tidak bisa dihilangkan.  Jam dua dini hari, kami bergegas untuk summit menuju puncak, apa daya meskipun malamnya kang Andri  telah menyiapkan menu sahur, summit baru kita lakukan jam 4 dini hari. Dan butuh waktu hampir lima jam untuk sampai di puncak Cikuray. Telinga sudah amat kebal jika ada bertutur semangat kak, puncak sebentar lagi. Serasa kalimat hoak bhuahahah. Yah meskipun sampai di puncak, samudera awannya tertutup oleh kabut. Cikuray memang terkenal dengan negeri diatas awan, tapi tak menemukan keelokan awan disana tak mengurangi kesan yang amat berharga dari pendakian Cikuray ini.

Awan atau sekedar mengabadikan diri diatas puncak, bukanlah tujuan. Itu hanya bonus. Saat turun perlahan karena cuaca dan langit malam yang menyapa, medan menjadi berkali-kali extrim daripada saat merangkak naik ke puncak dan menjadi bagian yang tak akan terlupakan. Jika Nice Pic yang menjadi incaran, Kami mendapatkan City Light pengganti awan yang tertutup kabut, sisi lain yang di tawarkan oleh Cikuray selain awannya, jari-jemariku tak sempat mengambil nice epik dari panorama yang indah. Biarlah mata ini mengambil langsung lukisan alam mahakarya sang pencipta yang tak tertandingi. Karena sekali lagi, pendakian bukan sekedar bagaimana mengabadikan diri diatas puncak. Tetapi bagaimana perjalanan berkawan dalam pendakian dan pulang dengan selamat adalah harapan utama dalam pendakian.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

- See more at: